Sempat Ditolak 23 Rumah Sakit, 2 PDP Corona dari Bantul Akhirnya Meninggal Dunia di RSUP Sardjito

Abadikini.com, BANTUL – Direktur Utama Rumah Sakit Nur Hidayah, Sagiran mengungkapkan hari Senin (30/3/2020) kemarin, rumah sakit tersebut menerima 3 pasien dengan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Dirinya sempat mengunggah video berkaitan kondisi PDP yang harus segera dirujuk, namun 23 rumah sakit menolaknya.

3 pasien pasien tersebut masing-masing seorang laki-laki berusia 48 tahun dengan keluhan demam 2 minggu dan sesak nafas 2 hari, batuk, lemas, namun riwayat bepergian disangkal dan pasien tersebut memiliki istri tenaga kesehatan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah dengan hasil rontgen Pneumonia.

Pasien kedua adalah laki-laki berumur 59 tahun dengan keluhan demam, batuk pilek 5 hari, sesak nafas sejak sehari sebelumnya dengan riwayat kontak saudara pulang dari jakarta. Dan pasien ketiga adalah laki-laki berumur 59 tahun dengan keluhan demam sesak nafas, kondisi kritis, dan riwayat kontak disangkal

Sagiran mengungkapkan dirinya tidak bermaksud membuat keresahan di masyarakat terutama warga Bantul. Karena ibarat sistem kebencanaan early warning system adalah sesuatu yang sangat penting. Dan hal tersebut sudah terjadi dalam bencana coronavirus tersebut.

“Saya sudah berusaha mencari rujukan, namun baru bisa masuk pukul 20.00 WIB di RSUP Sardjito,” ujarnya, Selasa (31/3/2020).

Meski sudah dirawat di RSUP Sardjito namun pasien nomor 1 meninggal pukul 23.00 WIB dan pasien nomor 3 meninggal hari Selasa (31/3/2020) pukul 07.00 WIB. Hal ini harus menjadi keprihatinan bersama sebab dirinya sudah mengontak rumah sakit dan tim gugus tugas penanganan COVID-19 namun belum mendapat respons. Padahal niatnya hanya ingin melakukan koordinasi berkaitan penanganan COVID-19.

Dirinya sebagai ketua Ikatan Dokter Indonesia Cabang Bantul meminta kepada 736 dokter di Bantul untuk selalu siap melakukan penanganan. Bahkan dirinya sudah mendata siapa praktik di mana dan perlu Alat Pelindung Diri (APD) berapa dan jenisnya apa saja.

“Saya sudah komunikasikan kepada yang berwenang dan jawabannya selalu APD jumlahnya terbatas,” keluhnya.

Padahal di satu sisi para dokter di Bantul juga kekurangan APD, terus akan menjadi tanggung jawab siapa. Karena di satu sisi sebenarnya tidak perlu membahas terkait dengan APD tersebut. APD memohon kepada semua pihak untuk mendapat bantuan APD.

APD hanya tidak setuju dengan penyebutan adanya rumah sakit rujukan atau pun bukan rujukan karena hal tersebut sangat melukai hati mereka. Pada dasarnya semua Dokter harus dilindungi dari kemungkinan terpaparnya virus corona tersebut.

“Seluruh pasien yang membutuhkan pertolongan dokter saat ini bisa jadi merupakan yang sudah membawa entah carier, OPD ataupun OTD,” tambahnya.

Sumber Berita
Kumparan
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close