Kisah Petugas Medis Asal Indonesia yang Ikut Melawan Virus Corona di Australia

PARA tenaga medis di berbagai negara sedang berjuang keras mengatasi serangan virus corona atau COVID-19 pada pasien. Di Australia, ternyata ada tenaga medis asal Indonesia yang berada di garis depan.

Salah satu di antaranya yaitu dr Indra, yang bekerja di instalasi gawat darurat salah satu rumah sakit di utara kota Melbourne.

Setidaknya dalam satu bulan terakhir, ia merasakan perubahan dalam rutinitasnya.

Perubahan pertama adalah pengoperasian ‘covid-screening clinic’ sebagai respon dari wabah corona.

Namun, dr Indra mengatakan, sejauh ini tidak terjadi lonjakan pasien yang datang untuk meminta dites atau diperiksa COVID-19.

“Saya rasa [ini karena] orang-orang cukup sensible, sudah banyak yang tahu bahwa prosedurnya bisa melalui hotline,” jelasnya kepada Hellena Souisa dari ABC News.

Karena itu, menurut Indra, mereka yang mau discreening biasanya menghubungi hotline terlebih dahulu sebelum datang ke rumah sakit.

Selain itu, diberlakukan juga sistem screening di IGD yang berkaitan dengan COVID-19.

“Jadi sekarang untuk pasien yang masuk IGD, ada sejumlah screening questions yang harus dijawab, di antaranya soal riwayat perjalanan dan kontak,” ujarnya.

Sebagai tenaga medis di garis depan, dokter yang sudah 3 tahun berpraktik ini mengakui sulit mengimplementasikan¬†‘social distancing’ atau membatasi jarak dan pergerakan antar individu¬†di tempat kerjanya.

Karena itu, menurut dia, penting baginya yang berhadapan langsung dengan pasien untuk selalu mengikuti protokol yang diterapkan untuk meminimalisasi resiko.

“Kekhawatiran [tertular] itu tentu ada, tapi kami dilatih untuk menghadapi itu semua dengan mengikuti protokol yang berlaku,” katanya.

“Salah satunya dengan menggunakan pelindung dalam kasus-kasus tertentu, dan mencuci tangan.”

Pengaruh COVID-19 juga dirasakan dr Inge Putri meskipun ia tidak berada di garis depan seperti Indra.

Sebagai dokter di Melbourne Royal Women Hospital, dr Inge mengatakan makin banyak pasien yang datang ke klinik.

dr Inge Putri sudah berpraktik sebagai dokter di Melbourne sejak tahun 2012. (Supplied)

“Bukannya tambah sepi, klinik tambah ramai. Pasien banyak yang datang karena takut kondisi [akibat COVID-19] akan bertambah parah,” kata dr Inge.

Ia menjelaskan, karena situasi yang tidak menentu saat ini, pasien yang punya masalah kewanitaan, termasuk ibu hamil, ingin masalahnya segera tertangani.

Dr Inge membenarkan jika dokter dan perawat adalah salah satu kelompok yang sulit mempraktikkan ‘social distancing’ dan hal itu mengkhawatirkannya.

“Ya pasti khawatir, kami adalah high-risk individual karena kami bertemu dengan banyak orang,” ujarnya.

“Saat kami bertemu dengan banyak orang, kami nggak tahu mereka dari mana, kalau mereka flu, kami nggak tahu itu flu biasa atau bagaimana.”

Akhirnya, menurut dr Inge, yang bisa dilakukan adalah kembali ke prinsip dasar mencuci tangan seperti anjuran.

“Tidak bisa dihindari memang [pertemuan tatap muka], kecuali ada arahan dari rumah sakit untuk menangani pasien melalui metode lain.”

‘Saya lebih khawatir menulari mereka’

Sama-sama tenaga medis, Paulina Tan berprofesi sebagai perawat sejak tahun 2013.

Sebagai perawat yang sehari-hari melayani kaum manula, Paulina Tan lebih khawatir menulari pasiennya. (Supplied)

Saat ini ia bekerja di Albert Road Clinic di Melbourne sebagai psychogeriatric, atau perawat dengan spesialiasi mental health untuk manula.

Ia bekerja merawat manula dengan rentang usia 65 sampai 93 tahun, kelompok yang resikonya paling besar jika terjangkit virus corona.

Karena itu, ada kekhawatiran yang lain yang dirasakan Paulina saat menyadari kesulitan menerapkan social distancing dalam kesehariannya sebagai perawat.

“Saya personally tidak khawatir tertular, malah saya lebih khawatir menulari mereka [para manula yang dirawatnya] karena saya lebih aktif bersosialisasi di publik,” kata Paulina.

Menurut Paulina, sejak wabah corona merebak, tidak terjadi peningkatan pasien di klinik tempat kerjanya.

Namun ia mengaku kerap mendengarkan kekhawatiran yang disampaikan pasien yang ia rawat.

“Sebagian besar concern mereka terkait respon masyarakat. Yang mereka khawatirkan nanti kalau mereka sudah pulang dari rumah sakit,” ujarnya.

“Mereka nggak berani datang ke shopping centre kemudian berebutan belanja dengan orang lain. Karena itu saya menghargai inisiatif beberapa supermarket yang membuka jam khusus belanja bagi manula.”

Selain itu, para pasien yang manula ini juga sudah meminta keluarganya yang masih muda untuk sementara tidak mengunjungi mereka, baik di rumah sakit maupun di rumah.

Lebih melelahkan dari biasanya

Di luar soal hiruk-pikuk rumah sakit, wabah corona ini juga mempengaruhi aspek lain kehidupan para tenaga medis.

Sebagai dokter dan sebagai manusia biasa, dr Inge mengaku merasa ‘overwhelmed’ menghadapi situasi saat ini.

“Bagi saya, kerja tiap hari tanpa COVID-19 saja sudah stress.”

Saat wabah corona, dr Inge lebih lelah dari biasanya karena harus juga memikirkan operasional keluarga. (Supplied)

“Sekarang pulang dari tempat kerja masih harus memikirkan [kondisi kesehatan] anak yang masih bersekolah dan suami yang masih bekerja, juga harus menjawab pertanyaan dari pasien,” ujar dr Inge.

“Ini masih harus ditambah stress memenuhi kebutuhan sehari-hari karena hampir semua barang habis di supermarket,” ucapnya.

Ibu dari satu anak ini mengaku hampir kehabisan tenaga saat harus berburu ke beberapa supermarket selepas kerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ia juga merasakan lalu lintas yang makin macet setiap hari, yang mungkin dikarenakan banyak orang menghindari transportasi publik.

“Sebagai dokter, jam kerja kami panjang. Sekarang karena harus berangkat lebih pagi supaya tidak terlambat, itu artinya waktu istirahat saya juga semakin berkurang.”

Membantu tenaga medis kurangi beban

Saat ABC menanyakan apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk sedikit meringankan beban tenaga medis seperti mereka, dr Indra, dr Inge, dan Paulina punya jawaban senada.

Dr Inge meminta masyarakat untuk mematuhi anjuran yang sudah disampaikan oleh pihak yang berwenang, misalnya social distancing.

“Dalam situasi yang tidak menentu seperti sekarang ini, dokter-dokter yang bekerja itu ada limitnya.”

Bagaimanapun juga, menurutnya, ada tanggung jawab masing-masing individu dalam mencegah penyebaran virus.

“Jadi tolong patuhi saja semua anjuran. Kalau sudah ada yang diminta untuk mengisolasi diri sendiri, tolong benar-benar jangan ke mana-mana selama dua minggu.”

Paulina juga menggarisbawahi pentingnya awareness masyarakat atas penyakit ini.

“Sebaiknya masyarakat saling membantu. Yang sudah bergejala sakit jangan bepergian dulu. Yang gejala dan prakondisinya tidak masuk kriteria COVID-19, nggak usah ikut antre di unit gawat darurat,” ujarnya.

Permintaan untuk mematuhi anjuran juga disampaikan dr Indra.

“Social distancing itu perlu, sama seperti anjuran yang lain tentang mencuci tangan selama setidaknya 20 detik atau hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60%, dan tidak bersalaman,” katanya.

Sementara itu untuk Pemerintah Australia, jika Indra merasa sampai saat ini kebijakan pemerintah sudah cukup proporsional, Inge merasa masih ada ruang untuk perbaikan.

“Mungkin untuk kebijakan mendatang, ada baiknya pemerintah mulai berpikir seagresif Pemerintah Singapura atau Hong Kong. Lebih baik agresif di depan, supaya angkanya tidak terus naik,” tutup dr Inge

Sumber: ABC Indonesia

Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close