Malas Mandi, Sasaran Empuk Bagi Nyamuk DBD

MAUNYA duduk santai, sambil ngopi-ngopi sore, sementara ruang tamu kotor dan tak rapi. Lelahnya fisik sepulang kerja, disertai kemalasan bertubi-tubi, nyatanya begitu.

Malas mandi, setelah menggantung baju bekas pakai di sudut kamar. Berbahagialah nyamuk demam berdarah dengue (DBD), karena manusia telah memfasilitasi tempat nyamannya.

Perlu diwaspadai, seperti dinyatakan Kementerian Kesehatan RI bahwa di awal tahun 2020, hingga tengah bulan Maret 2020, lebih dari 17-ribuan kasus DBD di 10 provinsi, dengan 104 kasus kematian, terabaikan oleh hebohnya Covid-19.

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes aegepti betina yang membawa virus dengue. Seekor nyamuk Aedes betina dapat terinfeksi virus dengue apabila nyamuk itu sebelumnya mengisap darah manusia yang mengandung virus DBD.

Virus yang masuk ke dalam tubuh nyamuk sehat akan berkembang biak selama beberapa hari. Setelah masa inkubasi usai, nyamuk mulai menginfeksi manusia lewat gigitannya. Virusnya akan masuk dan mengalir dalam darah, menginfeksi sel-sel tubuh manusia yang sehat.

Penderita DBD akan mengalami beberapa gejala awal seperti demam tinggi secara mendadak sepanjang hari, nyeri kepala, nyeri saat menggerakkan bola mata, dan nyeri punggung. Terkadang disertai tanda-tanda perdarahan, nyeri ulu hati, perdarahan saluran cerna, shock, hingga kematian.

Mengingat pencegahan bahaya akibat gigitan nyamuk DBD beberapa waktu lalu, masih terngiang slogan pencegahan 3-M : Menguras, Menutup, dan Mengubur.

Fokus 3-M pada genangan air bersih, yang merupakan tempat nyamuk meletakkan telurnya hingga jentik-jentik nyamuk bertumbuh.

Bila ada genangan air, seperti sisa-sisa air hujan yang terperangkap pada barang-barang berbentuk cekungan, juga sisa air bak penampung yang lama tak digunakan, menjadi lahan pastinya jentik.

Tampungan atau genangan air, sesuai 3-M harus  dikuras ganti air, kemudian ditutup, dikubur atau dibuang bila tak terpakai.

Tak hanya 3-M, barang-barang yang lama tak dipakai pun menjadi sasaran nyamuk untuk bermukim. Lembab dan berbau, berdebu tanpa gangguan, sebabkan nyamuk merasa nyaman. Juga, baju-baju bekas pakai yang bergelantungan dan berserakkan.

Info penting, seperti dikatakan oleh Prof. Upik Kesumawati, Kepala Unit Kajian Pengendalian Hama Pemukiman (UKPHP) Institut Pertaninan Bogor (IPB) dalam suatu kesempatan di Jakarta (20/02/19), bahwa  nyamuk sangat suka aroma karbon dioksida dari tubuh manusia.

Dapatlah dipahami, bila ternyata baju-baju bekas pakai sangat disukai nyamuk DBD karena ada sisa karbon dioksida yang melekat pada bau tubuh.

Jauh sebelumnya, hasil penelitian yang dirilis Eurekalert.org, Minggu (2/10/2011), memberi petunjuk bagaimana bau dapat digunakan sebagai perangkap untuk mencegat dan menangkap nyamuk yang sedang mencari mangsa.

Dua ahli entomologi di University of California, Riverside telah melakukan eksperimen untuk mempelajari bagaimana nyamuk Aedes aegypti betina menyebarkan demam berdarah ketika merespons karbon dioksida dan bau manusia.

Penangkap sinyal karbon dioksida pada nyamuk memungkinkannya untuk merespon dengan cepat meskipun jumlah gas karbon dioksida hanya sedikit.

Agar terhindar dari gigitan nyamuk DBD, jelaslah sudah untuk selalu menjaga kebersihan tubuh, yang salah satunya adalah mandi. Lelahnya kerja, tetaplah selalu untuk mandi atau paling tidak membasuh sekujur badan dan ganti baju bersih supaya tak ada banyak tersisa karbon dioksida.

Hindari kebiasaan menggantung baju bekas pakai, dan menyimpan barang-barang yang sudah tak digunakan. Lakukan penggantian serta pembersihan air tergenang di dalam rumah yang berasal dari vas bunga, genangan air pada wadah dispenser air minum, sisa-sia minum hewan peliharaan,  kolam ikan, akuarium dan lain-lain.

Selain kebersihan tubuh, pastikan nyamuk DBD tak lagi mau tinggal di rumah dengan cara menyimpan hanya barang-barang yang diperlukan saja, mengatur sistim pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik.

Buatlah penyegar suasana hati, dengan tanaman pengusir nyamuk, seperti bunga lavender, daun peppermint, serai wangi,dan bunga geranium (tapak dara), yang dapat ditanam di pot atau halaman rumah.

Bila ternyata, masih ada gas karbon dioksida, dari tubuh maupun baju-baju bekas yang tergantung dan belum sempat dicuci, atau pun dari sumber cemaran lainnya, masih ada bala bantuan dari tanaman anti polusi.

Tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata), tanaman anti polusi yang telah terbukti mampu menyerap gas-gas berbahaya, di antaranya gas karbon dioksida yang terdapat di dalam ruangan.

Meski semua usaha telah dilakukan, tetap menjaga kesehatan mutlak diperlukan tanpa kecuali seperti mandi atau membersihkan badan.

Dua sikap menanti bila malas mandi, disayang nyamuk dengan bonus demam berdarah dengue (DBD)-nya, sekaligus dibenci dan dijauhi orang-orang terkasih di sekitar kita karena bau badan.

Oleh: Johanes Krisnomo

Baca Juga

Back to top button
Close