Kontroversi Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty Gegerkan Jagat Twitter

Abadikini.com, JAKARTA – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitti Hikmawatty telah membuat geger jagat Twitter di Tanah Air, lantaran pernyataannya yang menyebut perempuan dapat hamil apabila terpapar sperma laki-laki saat berenang dalam satu kolam.

Pendapat sosok yang lahir di Cimahi pada Oktober 1970 itu menuai beragam tanggapan dari netizen dalam negeri. Bahkan, akibat pernyataannya yang kontroversial itu, nama KPAI masuk dalam urutan sepuluh besar trending topic Twitter pada Sabtu, 22 Februari 2020.

Lembaga pimpinan Susanto tersebut telah disebutkan dalam 30.000 lebih cuitan pada sepanjang hari ini. Berbagai sanggahan hingga meme kocak menjadi viral di Twitter menanggapi persoalan tersebut.

Tommy pemilik akun @jovicohalim70 mengatakan KPAI telah berada di luar jalur kelembagaan sebagaimana yang ditetapkan undang-undang.

“#BubarkanKPAI yang makin ngawur, berbicara sembarangan yang bukan bidangnya,” kata Tommy.

Nada serupa juga dilontarkan oleh Oan Timor pemilik akun @oantimor6.

“Gaji Rp 26 juta hanya untuk buat isu ‘sperma nakal’ di kolam renang #BubarkanKPAI” ucap @oantimor6.

Pernyataan Oan tersebut merujuk pada informasi tentang keputusan Presiden Joko Widodo yang menyetujui kenaikan gaji Ketua KPAI menjadi Rp 26 juta per bulan.

Sebenarnya, pernyataan kontroversi Sitti Hikmawatty bukan kali ini saja terjadi. Tahun lalu, komunitas olahraga di Indonesia, khususnya bulutangkis, dikagetkan oleh pernyataan Sitti yang menyebutkan Djarum Super telah mengeksploitasi anak-anak melalui program seleksi atlet berprestasi.

Perempuan kelahiran Cimahi itu juga menuduh perusahaan kretek asal Kudus, Jawa Tengah tersebut membiarkan anak usia sekolah terpapar oleh iklan rokok Djarum Super.

Akibatnya, terjadi perdebatan alot antara KPAI dengan Djarum Super. Awalnya, Djarum bersedia mengakomodir keinginan KPAI untuk melepas seluruh atribut perusahaan dalam program pembinaan tersebut.

KPAI juga memaksa Djarum meninggalkan seluruh aktivitas pembinaan olahraga bulutangkis karena dianggap bertolak belakang dengan semangat kesehatan anak.

Alhasil, Djarum memilih mundur dari proses pembinaan atlet berprestasi bulutangkis. Padahal, sudah banyak pebulutangkis tingkat dunia yang dihasilkan oleh Djarum melalui metode pembinaan ini. Hingga kini, masih belum diketahui apakah program pencarian bibit atlet itu masih terus berjalan atau malah terhenti.

Sumber Berita
Tagar

Baca Juga

Back to top button