Indikasi Korupsi Revitalisasi Monas, Siapa yang Jual 191 Pohon yang Ditebas?

Abadikini.com, JAKARTA – Revitalisasi Kompleks Monas sempat memanas. Kritik tajam ditujukan untuk Pemprov DKI. Mempertanyakan proses izin hingga ratusan pohon yang terpaksa dikorbankan.

Berdasarkan Keputusan Presiden No 25 Tahun 1995, semua aktivitas pembangunan di Jalan Medan Merdeka harus diketahui Kementerian Sekretariat Negara sebagai Komisi Pengarah Medan Merdeka. Faktanya, saat pekerjaan sudah berjalan, diketahui izin Komisi Pengarah tidak ada.

Proyek sempat disetop akhir Januari. Pemprov DKI Jakarta diminta menyelesaikan proses perizinan agar proyek berjalan kembali.

Pertemuan dan diskusi dengan Komisi Pengarah dilakukan. Lampu hijau akhirnya diberikan. Revitalisasi Monas kembali berjalan.

Perdebatan menyikapi revitalisasi Monas sudah mereda. Tetapi, masih ada yang menjadi tanda tanya. Di mana 191 pohon yang ditebang berada?

Sedikit mengingat ke belakang, sejak diketahui ratusan pohon terdampak proyek revitalisasi, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) kawasan Monas, Isa Sanuri, coba meluruskan. Menurutnya, pohon-pohon itu tidak ditebang dalam arti dipotong. Pohon-pohon itu, katanya, dipindah ke area sekitar Monas.

“Itu sebenarnya bukan ditebang begitu saja, jadi pohon-pohon itu akan dipindahkan. Kalau tidak bisa dipindahkan akan kita buat baru (pohon-pohon),” kata Isa pada Januari lalu.

Sempat memantau kondisi di lokasi. Tetapi, tidak terlihat lagi bekas pepohonan ditebang. Area sisi selatan sudah berubah menjadi lahan. Melihat lebih dekat juga tidak mungkin. Lokasi pengerjaan sudah terkepung bedeng.

Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Saefullah, ikut membenarkan. Sebagian pohon ditebang dipindah ke taman sisi barat dan timur Monas. Totalnya, ada 85 pohon.

“Yang fix hasil rapat kita, ada pohon yang kita pindahkan ke sisi barat 55 ke sisi timur 30,” kata Saefullah.

Meninjau di area dimaksud, ditemukan sejumlah batang pohon tanpa daun diikat ke bambu ukuran kecil menggunakan tali. Letaknya acak, tidak sejajar. Seorang petugas mengatakan, pohon-pohon baru itu sudah ada sejak November 2019 lalu. Tetapi, dia tidak bisa memastikan apakah batang pohon pindahan dari sisi selatan Monas.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, saat dikonfirmasi tidak mau banyak bicara soal pohon di Monas. Dia meminta ditanyakan pada anak buahnya. Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota, Suzi Marsitawati dan Unit Pengelola Kawasan (UPK) Monas mengaku tidak tahu karena pengerjaan proyek ada di Dinas Cipta Tata Ruang.

Selain ditanam di area Monas, kabarnya sebagian pohon juga dipindah ke kebun bibit milik Dinas Pertamanan dan Kehutanan DKI Jakarta di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Sampai awal Februari lalu, petugas di sana mengaku belum menerima pohon-pohon pindahan dari Monas. Namun demikian, mereka sudah menyiapkan lahan jika pohon-pohon itu tiba.

Sulit sekali mencari jejak pepohonan ditebang dari Monas. Tidak ada satupun pejabat di DKI bisa menjelaskan proses selanjutnya terhadap pepohonan itu usai ditebang.

Melansir merdeka.com, Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Kawasan Monas, Irfal Guci, menceritakan awal mula pihaknya mengetahui proyek revitalisasi berdampak pada pohon-pohon di sisi selatan Monas.

“Itu ditebangnya akhir November 2019 dan awal Januari 2020,” kata Irfal saat berbincang melalui sambungan telepon, Jumat (14/2/2020).

Irfal menjelaskan, semua yang ada di area kompleks Monas dikelola oleh pihaknya. Termasuk pepohonan di semua area.

Oleh karena itu, UPK Monas turut merawat pohon-pohon yang ada di Monas. Namun demikian, perawatan dilakukan hanya bersifat perapian dan pemotongan rumput-rumput.

“Semua pohon sekarang sudah diserahkan sama kita pengelolaannya, kalau perawatannya kita punya tim penopingan, juga koordinator di sektor untuk membabatnya,” jelasnya.

Dia mengakui, ini pertama kalinya pohon-pohon di Monas ditebas dalam jumlah yang besar. Selama ini, kata dia, jika pun ada penebangan dikarenakan akan di karantina atau sudah membahayakan pengunjung. Proses karantina itu, katanya, dilakukan oleh Dinas Kehutanan yang memang mengerti bagaimana cara menangani pohon.

“Kalau ditebang tidak, tapi kalau pengkarantinaan itu yang saya tahu ketika, katakanlah pohon itu ditebang, dia dirawat dulu baru ditanam kemudian. Mungkin itu proses karantinanya. Teknis yang tahu itu kehutanan, kami sendiri tidak punya keahlian soal itu” katanya.

Berkaitan dengan pohon di sisi selatan ditebang karena terdampak proyek, Irfal mengaku tidak tahu persis berapa usianya. Sebab ukurannya sangat sangat beragam.

“Ada juga yang sudah lama, ada yang besar, sedang, kecil dan ada juga yang baru beberapa saat dari beberapa daerah itu masih kecil-kecil, buntet-buntet, belum tumbuh-tumbuh, itu yang dipindah. Kalau yang ditebang itu rata-rata yang sedang dan yang besar,” katanya.

Dia memastikan, penebangan pohon di sisi selatan Monas bukan karena kondisinya membahayakan. Tetapi akibat terdampak proyek pembangunan plaza.

“Konteksnya ini bukan membahayakan tapi karena bikin plaza itu. Kebutuhan di lokasi karena dibangun plaza. Sebetulnya dari kehutanan itu juga sudah memeriksa, mana yang sehat atau tidak, mereka lakukan itu, tapi saya sendiri belum dapat laporan mana yang sehat mana yang tidak. Tahu-tahu itu sudah ditebang, itu yang saya tahu, sudah gak ada,” jelasnya.

Sampai saat ini, lanjut Irfal, pihaknya sebagai pengelola aset Monas tidak mengetahui di mana dan ke mana pohon-pohon sisi selatan yang ditebang. Dia bahkan tidak tahu bila kemudian pohon-pohon itu bisa dimanfaatkan untuk membuat furnitur.

“Saya gak tahu itu kalau soal mabel,” ujarnya singkat.

Kemarin, sejumlah kebun bibit milik Dinas Pertamanan DKI Jakarta kembali didatangi. Ingin memastikan sekali lagi keberadaan pepohonan bekas ditebang dari Monas.

Petugas kebun bibit di Jagakarsa, kebun bibit di Ciganjur, hingga kebun bibit, di Kelapa Gading mengaku tidak pernah menerima batang pohon pindah dari Monas.

“Saya tidak tahu menahu sih terkait keberadaan pohon mahoni dari Monas, sampe sekarang belum dengar. Kalau mau ada pohon-pohon yang ditebang dari Monas, yang tahu orang dinas sana,” kata petugas yang enggan namanya disebut.

Pernyataan serupa juga disampaikan petugas kebun bibit Ciganjur. Di tempatnya bekerja, mayoritas tanaman buah.

“Itukan tanaman besar kalau di sini hanya ada tanaman buah. Karena kalau mahoni kan jatuhnya tanaman lindung,” katanya.

Kepala Dinas Citata, Heru Hermawanto, sebagai penyelenggara proyek belum memberikan jawaban saat dikonfirmasi. Upaya klarifikasi yang dilakukan tak kunjung mendapat jawaban baik melalui pesan singkat atau telepon.

Sumber Berita
Merdeka
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close