Ini Sikap Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Hadapan Dewan Keamanan PBB Terkait Usulan Donald Trump

Abadikini.com, PALESTINA – Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyerukan PBB agar berkomitmen terhadap perdamaian yang adil, komprehensif, serta sebagai opsi strategis.

Abbas menyatakan itu dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York, di mana dia menolak rencana perdamaian dengan Israel yang digagas Presiden AS Donald Trump.

Presiden Palestina berusia 64 tahun itu mengatakan, rencana yang dipaparkan pada 28 Januari itu merupakan upaya melikuidasi masalah Palestina, dilansir Al Jazeera Selasa (11/2/2020).

Abbas menyanggah tuduhan bahwa Ramallah telah membuang kesempatan untuk berdamai setelah menolak rencana perdamaian Trump.

Dalam pidatonya, dia jelas menyiratkan kekecewaan sembari menunjukkan pembagian negara untuk Palestina yang tertuang dan kerangka presiden AS berusia 73 tahun itu.

“Ini adalah negara yang akan mereka beri kepada kita,” ujarnya sembari memegang peta itu. “Ini seperti bentuk Keju Swiss!” sembur Abbas.

Abbas menolak segala yang ditawarkan dalam rencana damai dengan Israel, mulai dari aturan, pendudukan yang dilakukan Tel Aviv dan permukiman ilegal Yahudi.

Dia juga menyampaikan rasa hormat kepada semua pihak di belahan bumi manapun yang turut menolak rencana tersebut.

Dia mengecam keputusan yang dibuat pemerintahan Trump atas negaranya, di mana tawaran itu malah menyalahi Konstitusi AS.

Abbas pun menuding Washington bertindak bias dengan mengampanyekan aturan yang dimotori oleh menantu sekaligus penasihat Trump, Jared Kushner.

Abbas menjelaskan, perdamaian dua negara masih sangat dimungkinkan, dan menekankan bahwa negaranya bukanlah teroris.

“Kami memerangi kekerasan juga terorisme di seluruh penjuru dunia. Kami juga memiliki protokol kerja sama dengan AS,” klaimnya.

Presiden Palestina sejak Januari 2005 itu mengungkapkan bahwa Washington memang sering menawarkan bantuan ekonomi dan finansial, namun tak pernah memberi solusi politik.

Dalam pengumuman yang disampaikan bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu Selasa (28/1/2020).

Trump menyampaikan pokok rencana perdamaiannya. Di antaranya adalah mengakui kedaulatan Israel berdasarkan wilayah yang diduduki, di mana Israel membangun permukiman.

Kemudian Yerusalem adalah “ibu kota Israel yang tak terbagi”, seraya menawarkan Abu Dis, kawasan pinggiran Yerusalem Timur, sebagai ibu kota masa depan Palestina.

Kemudian presiden dari Partai Republik tersebut menekankan penduduk kedua negara tidak akan tercerabut dari wilayah mereka masing-masing.

Berarti, Trump tidak akan mengulik permukiman Yahudi di Tepi Barat, yang oleh sebagian komunitas internasional termasuk PBB menganggapnya ilegal.

Palestina hanya mendapatkan wilayah demiliterisasi di beberapa bagian Tepi Barat dan Gaza yang terputus-putus. Wilayah itu hanya dihubungkan oleh serangkaian jalan, jembatan dan terowongan.

Kushner menjelaskan, Ramallah bakal mendapat masalah besar saat berhadapan dengan komunitas internasional jika sampai rencana itu batal.

“Ini adalah kesepakatan besar bagi mereka. Jika mereka bersedia datang dan berunding, maka saya pikir mereka akan mendapat sesuatu yang bagus,” tukasnya.

Liga Arab dalam pertemuan darurat di Kairo pada awal Februari sudah menekankan mereka hanya mengakui solusi dua negara sebagai perdamaian Israel serta Palestina.

Solusi itu merujuk kepada kesepakatan sebelum Perang Enam Hari 1967, di mana Israel mencaplok Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur.

Liga Arab juga menegaskan sikap mereka, bahwa Yerusalem Timur harus menjadi ibu kota negara Palestina di masa mendatang.

Sumber Berita
Kompas.com
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close