Fakta Roket Iran Simorgh yang Diduga Bantuan dari Korea Utara

Abadikini.com, JAKARTA –  Iran menyatakan gagal menempatkan satelit Zafar ke orbit lantaran roket peluncur luar angkasa (SLV) Simorgh gagal mencapai kecepatan yang dibutuhkan untuk mencapai orbit. Simorgh merupakan roket SLV kedua buatan Iranian Space Agency (ISA) yang diharapkan mampu mengirim satelit ke luar angkasa.

Melansir Missile Threat, Iran diduga mendapat bantuan dari Korea Utara dalam membangun roket Simorgh. Agen intelijen Amerika Serikat (AS) melaporkan memiliki bukti bahwa Iran mencari bantuan negara asing untuk mengembangkan roket selama berlangsungnya negosiasi nuklir dengan AS.

Dalam laporannya, intelijen AS memiliki bukti bahwa Korut sebanyak dua kali mengirim komponen roket ke Iran. Komunitas intelijen AS memberikan data desain, teknologi pemisah (roket dengan SLV), dan peralatan pendorong untuk Simorgh kepada Iran.

Intelijen AS meyakini Simorgh bukan hanya dirancang untuk menempatkan satelit di orbit. Akan tetapi, Simorgh merupakan memiliki potensi teknologi untuk menjadi rudal jarak jauh.

“Kemajuan program luar angkasa Iran dapat mempersingkat jalur menuju ICBM (Intercontinental Ballistic Missile) karena kendaraan peluncuran ruang angkasa (SLV) menggunakan teknologi yang secara inheren mirip dan dapat berfungsi sebagai uji coba untuk mengembangkan teknologi ICBM,” kutip laporan intelijen AS tahun 2017.

Menurut seorang analis, Simorgh dapat menjangkau 4 ribu km dengan muatan 1.000 kg jika menjadi rudal balistik. Daya jangkau itu dua kali lebih jauh dari rudal balistik Iran saat ini, yakni Shahab dan Sejjil.

Meski terbilang jauh, Simorgh yang memiliki bobot 70-87 ton belum mampu mencapai benua AS. Bahkan, Simorgh dinilai tidak akan mampu meluncur lebih dari 10 ribu km meski bobot angkutnya banyak dikurangi karena miniatur hulu ledak nuklir biasanya seberat 500 kg atau lebih.

Analis menyebut Simorgh yang  hanya mampu mengangkut beban 250 kg memiliki kemungkinan mencapai rentang ICBM (5.500 km +) jika muatannya dikurangi menjadi sekitar 100 kg.

Di sisi lain, dukungan Korut dalam pengembangan roket Iran terlihat dari kemiripan Simorgh dengan roket Taepodong-2 atau yang dikenal Unha-3. Simorgh diketahui menggunakan empat mesin rudal balistik Shahab-3 seperti Unha-3 yang menggunakan mesin rudal balistik No Dong.

Meski memiliki kesamaan desain pendorong, Iran diketahui mengkonfigurasi ulang desain mesin sesuai dengan kemampuannya teknologi dan tujuan rekayasa. Konfigurasi mesin Simorgh dinilai konservatif, sedangkan Unha lebih ambisius.

Simogh diketahui memiliki panjang sekitar 27 meter serta  lebar sekitar 2-2,3 meter (tahap pertama) dan 1,25 (tahap kedua). Roket buatan Iranian Space Agency (ISA) itu berbahan bakar cair dan mampu menempatkan muatan satelit 250 kg sejauh 500 km di atas permukaan bumi.

Sumber Berita
CNN Indonesia
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close