Tafsir Asas Sebagai Ideologi Partai

MENARIKNYA apa yang dikatakan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra dalam pengarahannya di Musyawarah Dewan Partai (MDP) I, Rabu, 6 Februari 2020, bahwa “Tafsir Asas adalah Ideologi Partai Bulan Bintang (PBB)”. Dia mengutip pendapat M. Natsir, pemimpin Masyumi,”Islam bukan ideologi. Tapi Islam bisa ditafsirkan. Tafsir tentang Islam itu dapat menjadi ideologi”. Karena itu PBB sebagai partai yang berasas Islam. Tafsir asasnya itulah ideologi PBB.

Tafsir Asas PBB awalnya disusun oleh YIM bersama Rifyal Ka’bah setelah PBB berdiri 17 Juli 1998. Hal ini dilakukan sebagaimana Partai Islam Masyumi untuk membedakannya dengan partai lain. Tafsir Asas ini kemudian menjadi landasan filsafah dan ideoligi partai. Namun karena dari muktamar I hingga V mengalami perubahan, malah isinya tidak bertambah mendalam, seperti teks awalnya.

Meski demikian Tafsir Asas itu tetap menjadi acuan berfikir, bertindak dan berjuang bagi kader dan fungsionaris partai. Mereka tidak dapat mengabaikan Tafsir Asas ini. Suatu keharusan bagi mereka mengkaji, memahami dan mengamalkannya. Bila hal itu tidak dilakukan, maka akan lain artinya keberadaan mereka di PBB. Apa bedanya mereka dengan kader dan fungsionaris partai sekuler. Tanpa menjadikan Tafsir Asas sebagai pijakan mereka dalam PBB, maka akan kehilangan ruh perjuangan. Bisa saja mereka berpolitik Machiavelis yang menghalalkan segala cara dalam meraih kekuasaan.

Tafsir Asas tidak mengajarkan kebebesan menghalalkan segala cara dalam berpolitik di PBB. Ideologi partai ini justru membimbing kader dan fungsionaris partai untuk memiliki kepribadian mulia dan beradab dalam berpolitik. Sebab yang dikedepankan mereka bukan keberhasilannya merebut kekuasaan. Yang dikemukakannya bagaimana merebut kekuasaan dengan halal, fair, demokratis dan konstitusional. Cara cara yang sebaliknya tidak akan mereka lakukan. Apalagi yang tidak sejalan dengan tuntunan Islam ahlus sunah wal jamaah, sesuai Al Qur’an dan As Sunnah.

Inilah yang membedakan karakter kader dan fungsionaris PBB dengan partai lain. Tafsir Asas telah menjadikan mereka memiliki kepribadian, karakteristik, sibghah, kualitas dan perilaku politik yang memberi uswah atau suri teladan. Karakter seperti ini pernah ditampilkan para pemimpin PBB yang pernah duduk dalam kursi legislatif dan eksekutif pada Pemilu 1999 dan 2004. Selain mereka tidak terlibat perilaku koruptif, juga memberikan uswah dalam berpolitik santun, tegas dan teguh berpendirian (istiqamah).

Hanya ada diantara mereka yang kemudian mufarakah. Mereka meninggalkan partai tanpa malu pindah ke partai lain. Mereka lupa bersyukur karena melalui PBB pernah menjadi Anggota DPR/MPR RI dan Menteri.

Bila terjadi kader dan fungsionaris partai yang keluar tentu bukan semata karena lemahnya pengaruh Tafsir Asas pada diri mereka. Hal ini terjadi juga karena mereka sendiri mulai menyimpang dari prinsip prinsip yang diajarkan dalam Tafsir Asas tersebut. Bagi partai tidak akan mengalami kerugian karena kepergian mereka. Justru mereka sendiri yang rugi. Tidak jarang diantara mereka yang menikmati kedudukan karena membawa nama PBB. Setelah dia keluar dari partai justru terkena masalah yang menyusahkan dirinya sendiri.

Bagi yang tetap konsisten berpegang pada Tafsir Asas dan bertahan dalam partai tetap bahagia meneruskan perjuangan. Mereka pantang menyerah meskipun menghadapi tantangan dan rintangan yang tidak ringan. Mereka masih mendapatkan nyinyiran, cibiran, bully, ejekan dan hujatan dari teman teman dan saudaranya sendiri sesama Muslim. Ini termasuk dari pembelot dan pecundang partai yang tidak siap berbeda pendapat sehingga lebih senang meninggalkan PBB. Dia lupa pada ikrar, sumpah dan janjinya saat dilantik.

Kenapa ada saja orang orang yang pernah menjadi pimpinan PBB bertindak seperti itu terhadap partainya. Tentu ada sebabnya, antara lain: 1. Tafsir Asas belum didalami. Hanya diakuinya, tapi isinya belum diketahui, apalagi dikaji secara mendalam. 2. Tafsir Asas didalaminya. Apalagi dia ikut membahas dalam muktamar. Dia juga memberikan arahan dan penjelasan dalam pidato pidatonya.

Namun dia sendiri tidak konsisten dalam mengamalkan. Dengan ini artinya, selama berada di partai dia tergolong oportunis dan ‘munafiq’. 3. Selama berada di PBB dia acuh dan masa bodoh dengan Tafsir Asas. Ideologinya adalah kepentingan. Jika kepentingannya terealisir maka dia ambil dan nikmati. Sebaliknya, dia tinggalkan dan campakkan PBB tanpa merasa punya beban. Naudzubillahi min dzalik.

Karena itu Tafsir Asas sebagai ideologi partai perlu dipegang teguh oleh kader dan fungsionaris PBB dalam berpolitik dan berjuang mencapai tujuan jangka pendek dan panjang. Pendirian ini menjadi bukti amanah, loyalitas dan profesional dalam berpartai. Amanah karena janji, ikrar dan sumpah benar benar dipenuhinya. Loyalitas dalam keadaan apapun dia tetap setia dan berjuang dalam PBB. Profesional dia berpolitik dan berjuang, selain berpegang teguh pada ideologi partai, juga bekerja secara sistemik, disiplin, manajerial, legal dan terukur.

Tugas menjaga ideologi partai yang tertuang dalam Tafsir Asas adalah Majlis Syuro (MS). Lembaga inilah yang berkewajiban mengkaji dan mensosialisasikannya dalam lingkungan PBB. MS harus berupaya agar kader dan fungsionaris partai disemua tingkatan minimal memahami Tafsir Asas. Hal ini tentu harus dimulai dari tubuh MS. Sudahkah pengurus MS memahami, menghayati dan mengamalkannya? Setelah itu, barulah MS memberikan pembinaan kepada kader dan fungsionaris partai yang lainnya.

Melalui program kaderisasi partai, Tafsir Asas dapat disosialisasikan di semua tingkatan struktural PBB. Namun tidak semua tugas dibebankan kepada MS untuk mensosialisasikannya. Di bawah MS ada Majlis Pertimbangan Wilayah (MPW), Majlis Pertimbangan Cabang (MPC), Majlis Pertimbangan Pimpinan Anak Cabang (MPAC). Tugas MS mensosialisasikannya kepada MPW. Lalu MPW mensosialisasikannya kepada MPC dan seterusnya. Dengan jenjang ini diharapkan Tafsir Asas PBB akan tersosialisasi kepada semua kader dan fungsionaris partai disemua tingkatan struktur hingga anggotanya.

Jika ideologi partai ini sudah tersosialisasikan dengan baik dan merata, maka semua kader dan fungsionaris PBB memiliki ruhul jihad atau semangat berjuang yang lebih kuat dalam meraih kemenangan partai dalam setiap Pemilu. Salah satu penyebab kegagalan partai dan beberapa Pemilu sebelumnya adalah, karena Tafsir Asas tidak tersosialisasikan dengan baik dalam tubuh partai. Apalagi bagi para caleg yang cenderung berpikir meraih kursi ketimbang berjuang di jalan Allah.

Oleh: Muhsin MK

Baca Juga

Back to top button