RI Gandeng Hungaria Bangun Teknologi Bayar Tol Tanpa Sentuh

Abadikini.com, JAKARTA – Indonesia akan bekerjasama dengan Hungaria untuk mengembangkan teknologi pembayaran tol tanpa sentuh (Multi Lane Free Flow/MLFF) pada setiap gerbang tol.

Hal ini sudah dibahas dalam pertemuan bilateral antara Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban pada 23 Januari di Jakarta. Kemudian, dilanjutkan dengan kunjungan Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Hungaria Peter Szijjarto dan Duta Besar Hungaria untuk Indonesia Judith Nemeth Pach ke Kantor Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada hari yang sama.

Menurut Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, negara tersebut tetap harus mengikuti proses tender/lelang, meski merupakan pemrakarsa teknologi pembayaran nirsentuh. Pemerintah Hungaria saat ini sedang mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan.

“Mereka harus tetap mengikuti proses lelang. Selayaknya proses lelang, jika nanti ada pihak lain menawarkan teknologi yang sama dengan harga yang lebih rendah, maka pihak dari Hungaria berhak untuk menyamakan penawaran (right to match),” ujarnya.

Lelang rencananya dimulai pada April 2020. Pengumuman pemenangnya sendiri ditargetkan pada akhir 2020.

Kementerian PUPR telah menerima prakarsa proyek tersebut dari perusahaan asal Hungaria, Roatex Ltd. Zrt, dan telah disetujui sebagai pemrakarsa proyek sejak 31 Oktober 2019 lalu. Saat ini mereka sedang menyempurnakan Studi Kelayakan dan penyiapan Dokumen Badan Usaha yang akan melaksanakan dan mengelola pembayaran non tunai MLFF paling lambat 31 Januari 2020.

Peter Szijjarto menyatakan untuk membangun sistem Teknologi Nirsentuh (MLFF) pada Gerbang Tol membutuhkan perkiraan biaya sekitar US$ 90 juta.

“Namun nanti akan tergantung proses lelang dengan kompetisi,” lanjut Peter.

Sistem pembayaran nirsentuh mengandalkan teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS). GNSS merupakan sistem pembayaran yang menggunakan alat yang dipasang di mobil dan dibaca lewat satelit

Penggunaan GNSS banyak diterapkan di negara-negara Eropa Timur termasuk Hungaria. Teknologi itu lebih canggih dari Radio Frequency Identification (RFID) yang sudah dikenal dan dipakai di Indonesia.

“RFID yang telah diterapkan saat ini membutuhkan alat pembaca di setiap tempat, tapi kalau satelit alat pembacanya tidak harus di setiap tempat. Sehingga bisa lebih murah,” kata Direktur Perumusan Kebijakan dan Evaluasi, Ditjen Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Hery TZ.

Ia menjelaskan perlu ada peralihan dari RFID ke teknologi pembayaran tol nirsentuh. Pasalnya, semua kendaraan harus diregistrasikan terlebih dahulu.

“Pada tahap awal akan dipakai dulu sistem RFID untuk meregister. Setelah semua 100 persen terdaftar baru pindah ke GNSS,” ungkapnya.

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button