Kisah Warga Muslim Alor NTT Tunjukan Toleransi dengan Membangun Gereja

Abadikini.com, JAKARTA – Sebagai negara yang dihuni oleh beragam agama dan suku, Indonesia kerapkali dilanda gesekan antar umat beragama dan suku. Hal itu, lahir karena kurangnya rasa saling toleransi untuk menciptakan kerukunan antar sesma umat.

Namun, sebenarnya tak semua wilayah terjadi hal seperti itu. Ada daerah yang sejak awal selalu menjunjung tinggi kerukunan antara umat meski terdiri dari berbagai macam suku dan Agama. Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), adalah salah satunya.

Melansir dari laman Bombastis.com, suasana berbeda justru tersaji di antara keragaman agama yang ada di Pulau Tersebut.Salah satu buktinya adalah keberadaan Gereja Ismail, yang justru dibangun atas inisiatif warga Muslim yang hidup berdampingan dengan penganut kristiani di sana.

Kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Alor sudah terjalin sejak ratusan tahun lalu. Simak ulasannya berikut ini.

Gereja dibangun atas inisiatif umat Muslim di pemukiman setempat

Kisah ini terjadi Kampung Ilawe Desa Alila Timur, di mana masyarakat beragam Islam dan Kristen hidup berdampingan satu sama lain. Di sana, ada sebuah gereja yang diberi nama Ismail.

Meski tak lazim bagi sebuah tempat ibadah nasrani, keberadaan rumah peribadatan itu ternyata mempunyai kisah yang sangat inspiratif sekaligus mengharukan. Menurut sejarahnya, gereja tersebut dibangun oleh Keluarga Imam Masjid Darul Falaq, Dahlan Lobang, yang memiliki kakak bernama Ismail.

Setelah pembangunan selesai pada 1994, gereja kemudian diberi nama Ismail sebagai bentuk penghormatan atas jasanya tersebut. Warga Kristen lain di Alor juga saling membantu membangun masjid.

Tak hanya di Kampung Ilawe, para pemeluk agama Islam dan Kristen di Desa Dulolong Barat, kecamatan Alor Barat Laut, juga menerapkan hal yang sama. Saling membantu dalam mendirikan rumah ibadah masing-masing, telah menjadi sebuah tradisi yang turun.

Menurut Imam Masjid Sabili Salam, Sumirat mengatakan, gereja yang dibangun di daerah tersebut juga tak lepas dari peran umat muslim setempat.

“Kita bangun sama-sama, begitu pula renovasi yang dilakukan pada dua tahun lalu, kami warga Muslim membantu bangun gereja,” jelas Sumirat.

Jika dilihat dari lokasi tempat tinggal masyarakat di Alor, mereka terbagi di dua tempat yakni di daerah pegunungan yang beragama Kristen, dan pesisir laut menganut kepercayaan sebagai muslim. Meski berbeda, kerukunan mereka telah terjalin sejak zaman dulu.

“Sudah dari dulu orang tua (ketika tinggal) di gunung sudah ada kerukunan, Muslim dan Kristen ini kan orang bersaudara dalam rumah, ketika kami orang di Alor ini mulai kenal beragama, yang sulung tetap di gunung jadi Kristen dan yang di pantai menjadi Muslim,” kata Sekretaris gereja Imanuel Folbo, Martinus Beka.

Apa yang dilakukan oleh masyarakat Alor di atas, telah mencerminkan sebuah bentuk toleransi yang ternyata telah dilakukan secara turun-temurun hingga saat ini. Berbeda keyakinan, justru semakin mempererat tali persaudaraan mereka. Hal ini seolah menjadi oase penyegar di tengah masyarakat yang kini kerap bergesekan karena kasus intoleransi.

Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close