Trending Topik

Tak Hanya Hantam Rudal, Iran Siapkan Serangan Siber untuk AS

Abadikini.com, TEHERAN – Iran secara resmi telah melancarkan aksi ‘balas dendam’ kepada Amerika Serikat (AS), dengan menghujani puluhan roket ke pangkalan AS-Irak di wilayah Irak, Rabu, (8/1/2019). Bukan hanya serangan fisik, konfrontasi Iran-AS bisa juga terjadi di ranah siber.

Serangan balasan ini merupakan bentuk perlawanan Iran atas serangan AS yang mengakibatkan terbunuhnya petinggi militer Iran Jenderal Qasem Soleimani.

Dilansir dari Vox, (8/1/2020), menjelang serangan rudal tersebut, banyak ahli di AS telah mulai bersiap-siap untuk serangan yang berbeda dari Iran. Yang mereka katakan bahkan mungkin lebih berbahaya yaitu serangan siber atau peretasan pada bisnis swasta dan sistem pemerintah di AS.

Selama dekade terakhir, Iran telah memantapkan diri sebagai salah satu ancaman siber utama di dunia. Gempuran siber Iran dan AS sebenarnya telah terjadi selama bertahun-tahun.

“Serangan siber Iran sudah begitu sangat aktif dan gigih. Sulit untuk memikirkan apa yang mungkin bisa mereka lakukan dari kegiatan itu,” Kata analisis cybersecurity, Bryan Krebs.

Departemen Keamanan Dalam Negeri AS juga mengakui potensi ancaman siber dari AS. Dua hari setelah kematian Soleimani, Sistem Penasihat Terorisme Nasional DHS mengeluarkan buletin yang menyebutkan Iran akan melancaran serangan siber yang maha dahsyat.

“Iran mampu, setidaknya, melakukan serangan dengan efek sementara yang mengganggu dan infrastruktur menjadi kritis di Amerika Serikat,” kata buletin itu.

Michael Daniel, presiden dan CEO Cyber Threat Alliance dan koordinator keamanan siber di Dewan Keamanan Nasional selama pemerintahan Obama, mengatakan bahwa walaupun terlalu dini untuk memikirkan rencana serangan siber dari Iran, Amerika Serikat harus siap untuk kemungkinan itu.

“Mereka telah menggunakan [serangan siber] sebelumnya, dan mereka terus mengembangkan kemampuan siber mereka selama beberapa tahun terakhir,” kata Daniel. “Berdasarkan pengalaman masa lalu dengan Iran, itu akan menjadi tindakan logis bagi mereka untuk mengambil tindakan.”

Dilansir dari Financial Times, sebelum penandatanganan perjanjian nuklir Iran di bawah pemerintahan presiden Barack Obama pada tahun 2015, Iran telah mulai meningkatkan kemampuan sibernya.

Itu terkait serangan siber Iran pada 2011 dan 2012 yang menyasar pada bank-bank AS seperti Bank of America dan Capital One, dan sistem bendungan kecil di dekat kota New York.  Namun Iran sendiri pernah dihantam oleh virus komputer yang dikenal sebagai “Stuxnet”, ditemukan pada 2010 dan secara luas diyakini sebagai hasil kerja AS dan Israel dalam upaya untuk mengganggu program nuklir Teheran.

Walau serangan siber AS-Iran sempat mereda setelah perjanjian nuklir. Namun pada Oktober 2019, peneliti dari Microsoft mengatakan kalau peretas yang terkait dengan pemerintah Iran telah menargetkan pejabat pemerintah AS dan setidaknya satu kampanye presiden AS pada 2020.

Di saat yang sama, AS juga diduga melancarkan serangan siber ke republik Islam pada bulan September setelah menyalahkan Iran atas serangan rudal dan pesawat tak berawak yang menghantam pusat infrastruktur minyak Arab Saudi.

Baca Juga

Back to top button