Jepang Disebut Memiliki Angka Hubungan Intim Terendah dalam Memproduksi Keturunan, Ini Penyebabnya

Abadikini.com  – Istilah resesi seks tengah jadi perbincangan hangat di dunia. Pemerintah beberapa negara maju tengah pusing karena warga negaranya enggan menikah dan memproduksi keturunan.

Negara-negara tersebut adalah Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan Swedia. Jepang merupakan negara yang memiliki angka hubungan seksual dan kelahiran anak terendah di dunia. Negeri Matahari Terbit itu bahkan dilaporkan ‘memimpin’ tren yang mengkhawatirkan ini.

Salah satu yang disalahkan adalah jam kerja yang sangat panjang dan penggunaan robot. Dengan perbandingan 300 buah robot untuk setiap 10.000 orang, tentu orang Jepang semakin nyaman bekerja bersama robot dibandingkan manusia.

Masalahnya, ada kekhawatiran baru mengenai ini. Robot-robot yang semula diciptakan untuk meringankan beban pekerjaan, malah bisa jadi teman hidup di masa depan.

Mengutip Sputnik News, kini di Jepang tengah populer penggunaan robot dan asisten digital untuk keperluan pribadi. Baik berupa robot seks, karakter hologram, sampai asisten rumah tangga digital.

Karakter holografis yang paling banyak disukai hingga saat ini adalah Azuma Hikary dari Gatebox. Azuma Hikary layaknya asisten digital yang sangat populer seperti Alexa Amazon yang memenuhi fungsi ‘rumah pintar’, dan bahkan mengirim pesan teks kepada pemilik saat merasa kesepian.

Dengan biaya sekitar 2.000 poundsterling, Azuma Hikary dapat mencakup akses ke berita dan berita cuaca, serta kontrol yang efektif atas pemanasan dan penerangan rumah. Sementara Gatebox Fairy sendiri secara luas dianggap memenuhi syarat untuk melayani penggunanya sebagai teman wanita.

Bahkan kini tidak sedikit warga Jepang yang menikah dengan karakter hologram tersebut. Contohnya Akihiko Kondo (35) memilih menikahi hologram idolanya yang disebut Hatsune Miku.

Bahkan menurut laporan ilmiah “Future of Sex”. oleh Jenna Owsianik dan Ross Dawson memprediksi bahwa setidaknya akan ada 10 pemuda yang berhubungan seks dengan robot humanoid pada 2045 mendatang.

Sedangkan di Korea Selatan ada persatuan wanita yang menolak norma patriarkal yang kaku dan bersumpah untuk tidak menikah, punya anak atau bahkan berkencan dan berhubungan seks. Inilah yang membuat resesi seks mampir ke negara ginseng tersebut.

Kelompok feminis radikal nasional itu bernama ‘4B’ atau ‘Four Nos’, yang merupakan kepanjangan dari ‘no dating, no sex, no marriage, and no child-rearing’, yang artinya adalah tidak berkencan, tidak melakukan seks, tidak menikah, dan tidak mengasuh anak.

Menurut laporan, sekitar satu dekade lalu hampir 47% wanita Korea yang lajang dan belum menikah mengatakan bahwa mereka menganggap pernikahan itu perlu. Namun tahun lalu, jumlahnya turun menjadi 22,4%.

Sementara itu, jumlah pasangan yang menikah merosot menjadi 257.600 pasangan saja, turun dari angka 434.900 pernikahan pada tahun 1996.

Pemerintah memperkirakan populasi Korsel yang saat ini di angka 55 juta, akan turun menjadi 39 juta pada tahun 2067. Pada tahun itu, setengah dari populasi negara tersebut akan berusia 62 atau lebih.

Untuk mencegah bencana demografis ini, pemerintah Korea Selatan sebenarnya telah melakukan berbagai cara untuk mencegahnya. Di antaranya adalah menarik remaja agar mau menikah dengan cara menawarkan tunjangan perumahan dan hipotek berbunga rendah bagi pengantin baru.

Selanjutnya ada negara Swedia yang masyarakatnya lebih suka menjomblo. Masyarakat berusia muda sangat mandiri, sehingga lebih suka tinggal sendiri daripada menikah. Padahal menurut penelitian, jumlah warga lajang alias jomblo di Swedia adalah yang terbesar di Eropa.

Memang budaya pernikahan relatif tidak menonjol pada warga Swedia. Kotanya saja kebanyakan terdiri dari apartemen-apartemen kecil untuk kehidupan sendiri. Bahkan hampir setengah rumah tangga di Swedia merupakan orang dewasa tanpa anak. Kasus perceraian di Swedia pun jadi yang tertinggi di Eropa.

Namun, bukan berarti orang Swedia tidak punya keturunan. Mereka lebih suka tinggal bersama dari pada terikat dengan pernikahan, atau punya anak tanpa harus menikah. Kata pernikahan dirasa membebankan bagi orang Swedia. Jangankan nikah, status pacaran pun dinilai begitu mengikat.

Budaya mandiri yang mengakar sejak muda membuat orang Swedia tak suka ketergantungan. Hal ini juga didukung dengan kesetaraan gender dalam hal bekerja, sehingga wanita bisa hidup menafkahi anak dengan biaya dari negara saja.

Meski demikian, banyak ekspatriat yang ternyata betah tinggal di Swedia. Keuntungan yang diberikan negara ini lebih menggiurkan dari pada sekedar mencari pasangan hidup.

Sumber Berita
CNBC

Baca Juga

Back to top button