Vietnam ‘Terjerat’ dalam Perang Dagang

Abadikini.com, JAKARTA – Di tengah sanksi tarif impor Amerika Serikat, para pemasok dari China terus berupaya untuk membuang label ‘buatan China’ guna menghindari tambahan tarif.

Mereka memanfaatkan negara tetangga seperti Vietnam untuk mengangkut barang melintasi perbatasan, mengubah label, dan mengirimkannya ke Amerika.

Tidak diragukan lagi, Vietnam menarik investasi asing dan bisnis manufaktur dan berjalan dengan baik sebelum Presiden AS Donald Trump mulai mengguncang rantai pasokan global.

Namun, perang dagang telah meningkatkan risiko perdagangan barang ilegal, menempatkan Vietnam di bawah sorotan.

“Orang China sangat pandai menghasilkan [produk] nilai rendah dan volume tinggi dengan sejumlah keterampilan tertentu yang tidak dapat dengan mudah dipindahkan atau direplikasi,” kata Deborah Elms, direktur eksekutif Asian Trade Center di Singapura, dikutip melaluiĀ Bloomberg, Kamis (26/12/2019).

Elms menambahkan, pelaku bisnis memiliki insentif besar untuk mengirimm barang dengan cara yang berbeda untuk menghindari tarif tinggi yang dapat menggerus margin keuntungan.

Bagi Au Anh Tuan, Kepala Pengawas Bea Cukai di Departemen Umum Bea Cukai Vietnam, menahan arus barang ilegal adalah perjuangan.

Hingga Oktober, para pejabat telah mengungkap sekitar 14 kasus ekspor signifikan dengan label palsu sepanjang 2019.

“Kami telah bekerja dengan kementerian perencanaan dan investasi dalam peninjauan investasi asing langsung secara menyeluruh dari China dan Hong Kong,” katanya dalam wawancara November di Hanoi.

Data hingga November menunjukkan, investasi asing langsung (FDI) China ke Vietnam tumbuh tiga digit pada 2019.

Tuan mengatakan mereka telah menghitung nilai investasi untuk menentukan apakah investor hanya berniat untuk mendirikan pabrik perakitan produk yang mereka bawa dari China.

Mereka juga memeriksa apakah produk yang mereka bawa termasuk dalam objek tarif impor AS, petunjuk bahwa investor mungkin mencoba menghindari sanksi tarif.

Beberapa perusahaan besar seperti Kyocera Corp, Sharp Corp, dan Nintendo Co telah berinvestasi di Vietnam sejak perang dagang dimulai, dengan yang lain secara aktif mempertimbangkannya.

FDI ke Vietnam diperkirakan mencapai US$35 miliar tahun ini, hampir sama dengan nilai masing-masing investasi dari 2 tahun sebelumnya.

Keberhasilan itu datang dengan konsekuensi.

Surplus perdagangan barang Vietnam dengan AS naik menjadi US$46,3 miliar dalam 10 bulan pertama 2019, peningkatan 39% dari periode yang sama tahun lalu.

Angka ini menjadikan Vietnam target bagi Gedung Putih.

Trump telah menyebut Vietnam menyalahgunakan kesempatan perdagangan, dengan AS mengenakan tarif lebih dari 400% pada baja dari Vietnam karena tuduhan pengiriman (trans-shipment) ilegal.

Sementara itu, bisnis di sisi lain dunia tetap merasakan disrupsi akibat perubahan rantai pasokan yang sudah berjalan selama bertahun-tahun.

“Ini gangguan besar pada skala ekonomi yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun,” kata Frank Skinner, Direktur Pemasaran Wintergreen Corp yang berbasis di Georgia, perusahaannya mengimpor lampu Natal dan dekorasi lainnya.

Menurutnya, butuh beberapa tahun bagi perusahaan untuk beradaptasi.

“Bagi perusahaan seperti kami yang juga memiliki kurva permintaan musiman yang besar, itu jauh lebih menantang,” katanya.

Menjelang perayaan natal permintaan lampu kelip penghias pohon natal meningkat.

Selama bertahun-tahun lampu hias itu diproduksi hampir hanya di China, tetapi kenaikan tarif AS untuk barang-barang dari negeri bambu mendorong banyak pembeli untuk mencari di tempat lain.

Satu negara yang dapat menggantikan peran China adalah Vietnam.

Pengiriman lampu Natal dari Vietnam ke AS meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 10 bulan pertama tahun ini dari periode yang sama tahun 2018, menurut data pabean AS.

Pada saat yang sama, impor lampu hias dari Amerika dari China turun 49%.

Pada Mei pemerintahan Trump mengenakan tarif 25% pada lampu natal dari China, naik dari 10% sebelumnya. Item ini tidak tercakup oleh kesepakatan perdagangan fase pertama yang disetujui AS dan China awal bulan ini.

Sumber Berita
bisnis.com
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close