Masyarakat Cenderung Berinteraksi Homogen, Dosen Sally Azaria Gagas Kegiatan Keberagaman

Abadikini.com, SURABAYA – Tanpa disadari, kebanyakan anak-anak Surabaya telah terbiasa untuk hidup bersama hanya dengan anak-anak yang sama dengan mereka. Hal ini dikarenakan tidak sedikit dari anak-anak yang tinggal di Surabaya bersekolah di sekolah yang berbasis agama sesuai dengan agama mereka.

Ketika bersekolah di sekolah berbasis agama maka hampir sepertiga waktu dalam 24 jam mereka bergaul dengan teman yang sama. Untuk sisa waktu lainnya, kemungkinan besar juga dihabiskan bersama dengan mereka yang sama agamanya, yaitu keluarga dan kolega.

Berawal dari keinginan untuk mengadakan perjumpaan dua sekolah berbasis agama yang berbeda agama, Dosen mata kuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar Universitas Kristen Petra, Sally Azaria menginisiasi sebuah kegiatan Service Learning.

Kegiatan ini didasari oleh kecenderungan masyarakat terutama di Surabaya yang lebih suka berkumpul dan berinteraksi dengan mereka yang sama atau homogen.

Maka dari itu ketika anak-anak yang sebenarnya hidup dalam masyarakat yang beragam tetapi tidak saling mengenal maka dimungkinkan stigma dan prasangka (prejudice) diantara mereka dapat berkembang dan bertumbuh subur.

Hal ini diungkapkan Sally Azaria di sela kegiatan Kebersamaan dengan Keberagaman di SDK Bethel Jl. Kutisari Utara VII No.1, Surabaya. “Lambat laun, hal ini akan membuka celah konflik dalam masyarakat nantinya,” ucapnya. Selasa, (17/12/2019).

Dalam pengalamannya, Sally Azaria Bakal Calon Walikota Surabaya ini menjelaskan saat dirinya melihat apa yang sudah dilakukan komunitas Gusdurian Jombang yang berhasil memberikan ruang perjumpaan, kemudian sebagai Dosen dirinya mulai berfikir untuk mengaitkan multikultural dengan matakuliahnya.

”Maka dari itu saat ini saya dan mahasiswa UK Petra bersama komuniitas True Parenting dan Rumah Aspirasi Sally Azaria mengadakan acara ini,” ujar mantan Caleg PSI DPRD Jatim Dapil Surabaya dengan perolehan tertinggi di PSI yaitu 15.000 suara ini.

Selain itu acara ini juga diperkuat oleh jaringan Gusdurian Jawa timur dan Komisi Antar Umat dari GKJW, lanjutnya.

Dalam kegiatan ini, 63 Siswa SD Islam Saroja (kelas 3 & kelas 4) bersama 44 Siswa SD Kristen Bethel (kelas 3 & kelas 4) akan diajak bermain dan melatih kerjasama dengan teman-teman yang berbeda.

Dan diakhir permainan, siswa diajak untuk menuliskan pesan dan kesan sehingga dapat menjadi kenangan bersama. Setelah itu, semua tulisan akan ditempel pada papan yang sudah disiapkan di masing-masing sekolah.

Harapannya, menurut Sally semakin banyak ruang perjumpaan seperti ini akan menjadikan mereka kenal satu sama lain sehingga meminimalkan stigma dan prasangka (prejudice) tentang perbedaan.

“Kedepan saya berharap kegiatan ini dapat dilakukan di banyak sekolah di kota-kota besar khususnya di Surabaya yang majemuk,” pungkas Dosen muda ini.

Pada kesempatan yang sama, Yuska Harimurti Presidium jaringan Gusdurian Jatim sangat mengapresiasi Mahasiswa UK Petra yang sudah menginisiasi kegiatan ini.

Diharapkan, dengan acara ini akan ada interaksi yang berkelanjutan karena toleransi adalah pengalaman. Bukan sekedar kata-kata di artikel atau medsos, tetapi pengalaman-pengalaman yang bersentuhan dengan orang-orang yang berbeda latar belakang akan selalu menjadi memori yang bisa dibawa sampai mereka dewasa nanti.

Di Bangsa yang majemuk ini butuh banyak interaksi sosial dan ruang-ruang perjumpaan.
Dengan acara seperti ini, masih Yuska, mereka saling mengenal berinteraksi dan berkomunikasi sampai mereka dewasa sehingga apabila nanti ada permasalahan pasti dapat diselesaikan dengan cara komunikasi.

Disini kita melatih tentang kebhinekaan, nilai-nilai Pancasila yang dimulai sejak dasar.
“Marilah kita lanjutkan kegiatan ini sampai ke pelosok Indonesia,” tandasnya.

Baca Juga

Back to top button