Anak Buah Anies Bentak-bentak Seniman Sesepuh TIM soal Revitalisasi Taman Ismail Marzuki

Abadikini.com, JAKARTA – Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta merevitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat mendapat penolakan dari para seniman pada Minggu, 24 November 2019.

Sayangnya, penolakan tersebut dibalas bentakan oleh Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Pariwisata dan Budaya, Dadang Solihin.

Bentakan anak buah Anies Baswedan yang tergabung dalam Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGuPP) DKI Jakarta itu terekam video 1,39 menit yang diunggah di media sosial Twitter oleh akun @digeeembok, memviralkannya pada Sabtu sore, (23/11/2019).

 

“Kebetulan saya sedang serak nih batuk, sangat berat. Terus saya bilang, ‘Ini jadi tidak ini diskusi, jadi tidak?’. Ya seperti di video lah,” ujar Dadang, seperti dilansir dari laman viva, Minggu (24/11/2019).

Ia menyampaikan pertanyaan bernada membentak ia ungkapkan karena para seniman kerap memotongnya yang sedang berbicara.

Dadang sendiri hadir menggantikan Anies dalam diskusi publik ‘TIM Mau Dibawa ke Mana?’ yang diadakan para seniman. “Bicara satu kalimat dipotong, satu kalimat dipotong,” klaimnya.

Ia juga mengemukakan sekalipun sempat berlangsung panas di awal acara, diskusi tetap berlangsung kondusif. Suasana panas diklaim terjadi sekadar karena ada kesalahpahaman saja di awal acara.

“Seolah ada apa-apa itu, padahal tidak ada apa-apa. Setelah itu kita selfie-selfie-an, tertawa-tertawa,” tutur Dadang.

Sementara itu, seniman Radar Panca Dahana memberitahu alasan mengapa ia dan para seniman menolak revitalisasi TIM.

“Pertama, pelibatan Jakpro dalam mengurus atau mengembangkan seluruh fasilitas/isi kompleks Taman Ismail Marzuki,” ungkapnya.

Kedua, jika revitalisasi dalam bentuk apapun tidak melibatkan pendapat atau kerja para seniman dan seniwati yang selama ini ada di dalamnya.

Ketiga, upaya pembangunan dalam ruang kebudayaan yang luas, termasuk membangun manusia unggul, tanpa pemahaman komprehensif dan sosialisasi di kalangan yang kuat makna kebudayaan yang sebenarnya.

Pernyataan sikap ini diteken pada Rabu, 20 November 2019, mengatasnamakan seluruh aktivis TIM. Radar Panca Dahana dan seluruh seniman yang hadir dalam diskusi di Ruang PDS HB Jassin itu saling membubuhkan tanda tangan atas penolakan tersebut.

“Menghadapi penghinaan ini, tidak bisa tidak, bersatulah para seniman se-Jakarta! Dan jika masa depan TIM juga dianggap penting oleh para seniman di luar Jakarta, maka seruannya adalah: “Bersatulah para seniman se-indonesia!” kata dia.

Baca Juga

Back to top button
Close