Terima Kasih Pak Anies, Anda Telah Membohongi…

Oleh :
Furqon
Ketua DPP LAKRI DKI Jakarta

 

Warga yang mendiami bangunan di jalan Sunter Agung Perkasa VIII sudah ada sejak tahun 80an. Lokasi lahan yang didiami sebelumnya adalah tanah berawa kosong penghuni,selain beberapa keluarga dari Madura. Pada saat itu belum ada gudang gudang apalagi perumahan dan apartemen yang dibangun oleh pengembang Agung Podomoro.

Itulah kebiasaan etnis asal pulau garam tersebut yang kerap mendiami satu kawasan di Ibu Kota selalu dengan modal keberaniannya. Mereka membuka lahan kosong hingga beranak pinak dan bersanak famili. Pemerintah kota Jakarta Utara pun mungkin masih alergi kalau melihat kawasan yang pada mulanya yang berupa rawa kosong tak berpenghuni.

Namun saat ekspansi pengembang properti yang sekarang ini cukup beken dengan wilayah mana yang tidak bisa mereka kuasai meskipun harus mempengaruhi pemerintahan yang ada untuk dapat mengatasnamakan tempat yang mereka inginkan. Tapi persoalan saat ini adalah ketika warga mendatangi Pemprov. DKI Jakarta yang didampingi oleh LSM, melalui juru bicara dan advokadnya menanyakan perihal tanah tersebut

Kalau tanah tersebut dikatakan adalah milik pengembang, dan ingin dipakai untuk kepentingan pemerintah maka pemerintahnya pun patut menunjukan pelimpahan surat dari pengembang itu sendiri. Dan kalau itu dikatakan jalur hijau dan saluran air, yang jelas tanah itu awalnya adalah rawa-rawa, dan saluran air yang adapun adalah swadaya warga yang mendiami tempat tersebut sejak awalnya.

Sebelumnya Asisten Pemerintahan Pemprov. DKI Reswan mengatakan bahwa pemerintahan Anis tidak adanya kata penggusuran, melainkan penataan.

Bahkan Pak Reswan mengatakan atas arahan Bapak Gubernur bahwa Surat Peringatan yang Kasatpol PP edarkan dengan tembusan ke Gubernur bahwa Gubernur tidak menerima tembusan dan apabila ada penggusuran pasti dibahas di tingkat provinsi.

Sangat tampak Wali Kota Jakarta Utara saat ini dan Kasatpol PP yang baru saja sama-sama menjabat dalam hitungan bulan, sangat mengangkangi kebijakan Gubernur Anies beserta jajaran kedinasan di tingkat Provinsi, dengan tidak menguasai masalah tapi seperti ada tugas (pressure corporate) yang mereka hanya harus dapat melakukan eksekusi denga cara arogan seperti jaman kolonial, dengan ful kekuatan aparat.

Pertanyaannya, apakah mau seorang walikota yang baru beberapa bulan menjabat, mengeluarkan uang sendiri untuk mengoperasionalkan pasukan kepolisian dan kesatuan lainnya beserta armadanya, apalagi selevel Kasatpol PP. Artinya disinyalir ada kucuran biaya untuk mencapai tujuan arogansinya.

Jadi perundingan di ruang Kesbangpol saat itu, yang digaransi oleh Asisten Pemerintahan Prov. DKI Jakarta, disaksikan Kasatpol PP DKI Arifin, Kesbangpol DKI Taufan, Kadis UMKM dll. kandas dideru mesin buldozer yang dikomandoi oleh Sigit Wali Kota Jakrta Utara bersama Kasatpol PP Yuma alias Yusuf Majid.

Terima kasih Pak Anies, Anda telah membohongi para kyai dan ulama Madura, bahwa anda mengatakan tidak akan menggusur warga Madura di Sunter Jaya, akan tetapi nyatanya Anda lemah dan lebih termarjinalkan oleh Ganda Sigit dan Yusuf Majid dari pada warga Madura di Sunter Agung Perkasa VIII Sunter Jaya.

Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close