Janji Kampanye Anies Manis di Mulut Mules di Perut, Warga Sunter Jaya Akhirnya Digusur

Abadikini.com, JAKARTA – Slogan kampanye Anies Baswedan yang bertajuk ‘Maju Kotanya, Bahagia Warganya’ hingga saat masih begitu melekat di benak sebagian besar warga DKI Jakarta. Salah satu janji politik Anies yang kerap didengungkan pada saat masa kampanye Pilgub DKI Jakarta, adalah menolak penggusuran.

Melalui penelusuran jejak digital di dunia maya, berulang kali Anies menegaskan sikapnya menolak segala bentuk penggusuran yang dilakukan pemerintah sebelumnya. Dan Anies pun berjanji tidak akan melakukan itu. Contohnya saat disampaikan kepada warga di Tanah Merah, Koja, Jakarta Utara pada 11 Maret 2017 silam.

“Menggusur itu hanya akan menyebabkan kesengsaraan buat warga. Karena itu saya berkomitmen tidak akan melakukan penggusuran,” tutupnya.

Saat bertemu warga di rumah susun (rusun) Bumi Cengkareng Indah, Jakarta Barat, Anies juga mendapat banyak keluhan terutama terkait rencana penggusuran. Anies menegaskan bahwa dirinya tidak suka konsep gusur-menggusur. Dia merasa penggusuran selama ini tidak memandang nasib para warga dan diibaratkan seperti barang.

“Saya tidak suka konsep menggusur, kami justru melakukan penataan karena di seluruh dunia bisa ditata, Jakarta saja yang digarisin terus dipindah kayak barang,” ungkap Anies, pada (28/11/2017) silam.

“Ya Allah ini kan manusia bukan barang,” tambahnya.

Anies juga membela warga Kampung Akuarium yang digusur pemerintah sebelumnya. Saat itu, menurut Anies, proses gusur menggusur merupakan keputusan warga DKI Jakarta.

“Jadi bukan sekarang saya mengatakan moratorium, itu sejak bulan Oktober dan seruan itu tidak berubah. Keputusan (gusur-menggusur) oleh rakyat. Rakyat yang memutuskan itu,” Jalan Jendral Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (2/5/2017) silam.

Saat bertemu warga di kampung Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Sabtu (14/1/2017), Anies dihadapkan pada permintaan seorang nenek bernama Rusman. Dia memohon kepada Anies, jika terpilih sebagai gubernur nanti agar tidak menggusur rakyat kecil seperti dirinya. Menanggapi hal tersebut, Anies berjanji tidak akan melakukannya. Jika terpilih sebagai gubernur, yang akan dia lakukan adalah melakukan peremajaan kota.

“Saya tidak akan gusur, Bu. Yang saya akan lakukan adalah peremajaan kota. Jadi nanti tempat tinggal ibu ditata ulang. Sementara proses pembangunan, ibu akan direlokasi ke tempat sementara. Kalau sudah jadi, ibu bisa kembali ke tempat asal lagi,” tegas Anies.

Momen lain saat Anies berjanji tidak akan menggusur adalah ketika menyambangi Kampung Magesen, Manggarai, Jakarta Selatan, 9 Oktober 2016. Anies mengatakan sebagian besar warga Magesen menginginkan agar kampungnya tidak digusur. Menanggapi aspirasi warga itu, Anies berjanji akan menghadirkan keadilan di Jakarta, termasuk dalam penataan kota dan penertiban bangunan liar.

“Tadi saya jalan-jalan blusukan di dalam saya tanya ibu bapak pengen apa? Banyak bilang jangan digusur. Kita saya juga sampaikan masalah yang kita hadapi gusur atau tidak tapi kita ingin ada keadilan. Bagaimana keadilan untuk semua,” kata Anies di lokasi, Minggu (9/10/2016).

“Saya dengan bang Sandiaga dicalonkan jadi gubernur kami ingin bukan cuma kotanya yang maju tapi rakyatnya bahagia. Mari kita kerjanya maju kotanya bahagia warganya,” sambungnya.

Hujan batu warnai penggusuran warga Sunter Jaya

Penggusuran puluhan bangunan di Jalan Agung Perkasa, Sunter Jaya, Jakarta Utara, diwarnai hujan batu, Kamis (14/11/2019). Batu beternangan mengarah ke petugas Satpol PP yang siap menggusur.

Petugas bertahan dengan alat pelindung. Pelemparan batu reda setelah aparat kepolisian datang menenangkan massa.

Mahada, pemilik bangunan, mengatakan pembongkaran dilakukan mendadak. “Kalau begini kan banyak barang tak terangkut. Saya cuma sendirian, suami kerja. Mana bisa menyemalatkan semua barang-barang,” ujarnya.

Ia mengaku sudah 18 tahun tinggal di tempat ibu bersama suami dan anak-anaknya. Ia mengaku membeli lahan ityu sebelum menempatinya dengan mendirikan bangunan untuk tempat tinggal dan usaha rongsok atau penampungan barang-barang bekas.

Kasatpol PP Jakarta Utara, Yusuf Madjid mengatakan penertiban yang dilakukannya setelah melalui Standar Operation Prosedur (SOP). Sementara itu, Camat Tanjung Priok, Syamsul Huda, mengatakan 62 bangunan ditertibkan karena keberadaannya yang mengokupasi saluran air dan jalan.

Ia juga mengaku telah mensosialisai rencana pembongkaran selama dua bulan. Diawali dengan imbauan sampai pendekatan terhadap perwakilan warga.

“Intinya kita ingin melakukan refungsi saluran air dan jalan, karena sejak dua puluhan tahun bangunan telah berdiri di atas saluran dan jalan,” jelasnya. “Karena tidak berfungsinya saluran air yang memiliki lebar 6 meter tersebut, pemukiman di sekitar pun kerap terendam pada saat hujan.”

 

 

Topik Berita
Back to top button
Close