‘Doctor Sleep’: Hantu Adalah Masa Lalu Yang Terkubur

Abadikini.com, JAKARTA – Doctor Sleep dibuka dengan adegan dari The Shining. Kita melihat adegan Danny Torrance (Roger Dale Floyd) mengayuh sepedanya di lorong Overlook Hotel. Semuanya terasa familiar. Karpet-karpet dengan motif hexagonal itu, lorong-lorongnya, pergerakan kamera dan tentu saja tulisan 237 di depan pintu sebuah kamar.

Sampai akhirnya penulis dan sutradara Mike Flanagan menunjukkan wajah si aktor dan barulah penonton akan tersadar bahwa ini bukanlah footage dari film lamanya melainkan reka ulang adegan yang sangat pitch perfect, kita langsung terkecoh.

Lama setelah tragedi dalam The Shining, kita tahu bahwa Danny masih dikunjungi oleh hantu-hantu dari hotel tersebut. Dia memilih untuk tidak berbicara sampai akhirnya kawan lama datang dan menyarankan bahwa dia bisa mengurung hantu-hantu tersebut di dalam pikirannya. Sebuah konsep yang sungguh sulit untuk ditulis tapi percayalah, ketika Anda menonton Doctor Sleep, Anda akan segera paham.

Mengurung hantu-hantu di dalam pikirannya ini ternyata cukup efektif walaupun Danny akhirnya menjadi seperti ayahnya ketika dewasa. Alkoholik, tidak punya pekerjaan yang tetap dan hilang arah, Danny dewasa (Ewan McGregor), akhirnya pindah ke New Hampshire untuk memulai hidup baru. Dia mengunjungi AA meeting, hidup tenang dan akhirnya menggunakan kemampuan magic-nya untuk menenangkan pasien-pasien sepuh yang ketakutan akan kematian. Di sinilah judul Doctor Sleep menjadi masuk akal.

Tapi bahaya mengintai. Ada sebuah sekte yang berisi manusia-manusia setengah immortal bernama True Knot yang mengintai bocah-bocah cilik yang memiliki kemampuan seperti Danny. Dipimpin oleh Rose The Hat (Rebecca Ferguson, sungguh membius), mereka menyiksa bocah-bocah ini karena dalam ketakutan, mereka mengeluarkan asap yang sangat digemari oleh True Knot. Dengan bantuan seorang gadis cilik yang juga memiliki kemampuan super bernama Abra (Kyliegh Curran), Danny akhirnya terjebak untuk melawan mereka.

Dari opening yang saya jelaskan di atas Anda harus tahu betapa pentingnya hubungan The Shining dengan Doctor Sleep. Keduanya merupakan adaptasi dari novel best-seller karya maestro horor, Stephen King. Yang menarik adalah meskipun filmnya yang dirilis tahun 1980 oleh Stanley Kubrick mendapatkan status sebagai salah satu horor terbaik sepanjang masa, Stephen King secara terang-terangan menyatakan bahwa dia tidak suka dengan adaptasi yang dilakukan oleh Kubrick.

Di sinilah adaptasi Doctor Sleep menjadi sangat menarik. Karena filmnya sudah terlanjur menjadi icon, Mike Flanagan akhirnya memutuskan menjadikan Doctor Sleep sebagai adaptasi Stephen King tapi berada di bawah universe Stanley Kubrick. Itulah sebabnya Flanagan membuka Doctor Sleep dengan salah satu adegan yang sangat iconic dalam The Shining.

Dengan durasi dua jam setengah, Doctor Sleep memang terasa sangat melelahkan. Flanagan mempunyai dua hal yang harus dijelaskan. Buku Stephen King dan filmnya Stanley Kubrick. Dan dia menggunakan hampir sepertiga durasi untuk menaruh semua informasi itu. Hal tersebut cukup menarik bagi penonton The Shining. Tapi bagi penonton yang sama sekali tidak familiar dengan film tersebut, paruh awal Doctor Sleep sungguh melelahkan.

Begitu Doctor Sleep mulai menjadi dirinya sendiri, film ini tidak bisa dipungkiri menjadi sangat menarik. Apalagi ketika kita melihat Flanagan tidak bermain-main dalam menunjukkan kekejaman yang dilakukan oleh sekte True Knot. Dan cara Flanagan untuk menyelami kemampuan magic orang-orang ini sangat menarik. Ketika karakter Ferguson dan Curran saling adu, Anda mungkin akan menyeringai kesenangan karena filmnya secara signifikan berubah menjadi seru.

Sayangnya lagi-lagi Flanagan terjebak dalam sebuah ekspektasi. Dia sepertinya merasa harus menyenangkan penonton dengan membawa kembali penonton ke Overlook Hotel. Sebuah trik yang sangat menarik memang. Dan secara efektif memang membuat pecinta The Shining langsung menjadi senang. Tapi babak terakhir Doctor Sleep justru kehilangan rohnya karena di sini film terasa seperti wahana permainan. Apa yang terjadi di babak final ini tidak lebih dari sededar sebuah nostalgia.

Ewan McGregor memerankan karakter Danny dengan baik. Dia bisa menunjukkan luka dan sakitnya menjadi alkoholik dalam satu tatap. Curran juga bisa membuat Abra menjadi sangat magnetik. Tapi Doctor Sleep memang menjadi milik Ferguson. Tiap kali dia muncul, mata Anda akan mengawasinya. Ferguson bisa menjadi seksi, liar, brutal dan menggoda hanya dalam satu napas.

Dengan persembahan teknis yang aduhai seperti visual dari Michael Fimognari (yang juga mengambil gambar The Haunting Hill of Hill House bersama Flanagan), Doctor Sleep akan menjadi sebuah hiburan yang menyenangkan bagi yang familiar dengan The Shining. Sayangnya bagi penonton yang mengharapkan Doctor Sleep menjadi sebuah horor yang menyeramkan, film ini mungkin justru akan membuat Anda terlelap di dalam bioskop.

Sumber Berita
detikcom
Topik Berita
Back to top button
Close