Trending Topik

Surat Arie Kriting Begitu Dalam dan Menyentuh, Ibunda Indah Permatasari Jatuhkan Sumpah Serapah

Abadikini.com, JAKARTA – Arie Kriting disebut mengirim sebuah surat untuk ibu Indah Permatasari, Nursyah. Surat tersebut berisi pesan menyentuh keseriusan Arie kepada Indah.

Nursyah mengaku mendapatkan surat itu dari adik Indah. Ia juga membagikan isi surat itu, seperti dikutip Abadikini dari laman detikcom, Rabu (6/11/2019).

Setelah itu, Nursyah memberikan komentarnya tentang pesan tersebut. Menurutnya, Arie adalah sosok yang percaya diri.

“Dia terlalu percaya diri, sampai mati saya tak akan terima,” tegas Nursyah.

Ibu Indah Permatasari itu memang belum memberikan restu atas hubungan anaknya dengan sang komika. Ia malah menuding Arie sebagai sosok yang mengubah perilaku putrinya itu menjadi sering pulang malam dan sering berbohong.

Usai ramai-ramai kabar curahan hati Nursyah, Arie memberikan komentarnya. “Maksudnya, itu hal yang sangat normal sekali, sih. Itu kan bagian dari perjalanan hidup, ya. Jadi kalau saya sih mohon doa restunya saja, teman-teman,” kata Arie Kriting saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

“Kalau saya sih lebih suka masalah ini kita hadapi dan kita pasrahkan pada Allah saja. Ini juga memang mungkin balik lagi ke masalah komunikasi tadi tuh. Ini komunikasinya belum ketemu. Itu saja sih,” tutur Arie.

Nursyah membeberkan isi surat dari Arie untuknya. Dalam surat itu, Arie memulai dengan permintaan maaf, berikut tulisan lengkapnya:

Kepada Ibu Yang Melahirkan Kekasihku,

Saya minta maaf sebesar-besarnya untuk segala kekurangan yang hadir dari diri saya sebagai manusia biasa. Saya tidak bisa memilih dari keluarga seperti apa saya dilahirkan. Bagaimana wujud saya ditakdirkan. Sejak awal perbedaan ini telah menjadi salah satu ganjalan bagi Ibu menerima kehadiran saya. Juga mungkin ada beberapa sikap saya yang kurang berkenan. Jika tidak bisa bertemu langsung dan memohon izin ketika akhirnya hati saya dan anak ibu bertaut satu dengan lainnya. Sejak awal saya mengetuk pintu depan Ibu, tidak ada sedikit pun tujuan buruk hadir di dalam benak saya terhadap keluarga ibu. Pun untuk jatuh cinta kepada anak ibu yang tampak seperti bidadari itu, mana saya berani. Tetapi takdir membawa saya pada satu titik yang memang membingungkan. Di satu sisi, anak Ibu telah pula benar-benar rela saling membantu dengan saya mencapai hidup yang lebih baik. Namun di satu sisi, saya juga paham bahwa mungkin saya bukanlah sosok anak mantu yang Ibu idam-idamkan.

Saya memang bukan raja atau pangeran. Bukan pula anak pejabat atau saudagar kaya. Saya tidak memiliki semua kemewahan dan kemuliaan tersebut. Tetapi satu yang bisa saya pastikan kepada Ibu, bahwa saya adalah seorang petarung yang tangguh. Saya meraih apa yang hari ini saya dapat dengan kerja keras. Saya tidak pernah mengeluh dengan keterbatasan saya. Saya pejuang yang hebat Ibu. Saya jujur dan tidak pernah merugikan orang lain. Saya tulus apa adanya. Dan pada saat ini, saya juga rela memberikan segala-galanya untuk membahagiakan anak ibu. Saya akan berusaha setia hingga akhir hidupnya, dalam keadaan senang atau pun susah. Saya melihat Ibu telah memilih seorang laki-laki yang sabar sebagai suami. Percayalah saya sama sabar dan bijaksananya seperti suami Ibu. Jika Ibu bahagia dan setia dengan pilihan laki-laki Ibu saat ini, ku harap Ibu bisa mengerti perasaan anak Ibu kepada saya.

Saya mohon maaf atas segala ketakutan dan keterbatasan saya selama ini. Saya takut kehadiran saya secara langsung akan membuat Ibu melepaskan amarah. Maka saya berusaha menunjukkan keseriusan dan kasih sayang saya kepada Anak Ibu dan Keluarga Ibu dari jarak jauh. Namun jarak memang sering mengaburkan pandangan.

Maka jika ibu izinkan saya untuk menemui Ibu, mencium tangan dan memohon restu Ibu sekali lagi, saya akan dengan senang hati hadir dan bersujud di hadapan Ibu. Dan setelah itu saya akan berjanji untuk berusaha sekuat tenaga, membawa kebahagiaan bagi kita semua.

Topik Berita

Berita Terkait

Berita Terkait

Close
Back to top button
Close