PBB Tak Setujuh Bangladesh Pindahkan Etnis Rohingya ke Pulau Bhashan Char

Abadikini.com, JAKARTA – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dilaporkan masih tidak setuju dengan rencana pemerintah Bangladesh memindahkan sekitar 100 ribu etnis Rohingya ke Pulau Bhashan Char. Penyebabnya adalah PBB menganggap lokasi penampungan itu tidak layak karena penuh lumpur dan kerap terendam banjir rob jika air laut sedang pasang, serta kerap diterjang badai.

“Sekarang semuanya jadi serba tidak pasti. Mereka [PBB] tetap belum setuju dengan rencana pemindahan itu,” kata Menteri Manajemen Bencana dan Bantuan Bangladesh, Enamur Rahman, seperti dilansir AFP via CNN, Senin (4/11).

Bangladesh mengklaim saat ini ada 3,500 kepala keluarga Rohingya yang siap dipindahkan. Prosesnya akan dilakukan pada November sampai Februari ketika laut masih tenang.

Sedangkan menurut badan PBB untuk pengungsi, UNHCR, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), dan Program Pangan Dunia (WFP) menyatakan dalam rapat pulau itu terisolasi dan mudah diterpa banjir. Mereka meminta sejumlah persyaratan untuk dipenuhi terlebih dulu, seperti tersedianya pelayaran berkala dari pulau yang terletak di Teluk Bengala ke pelabuhan Bangladesh yang terdekat.

“Demi keamanan dan keberlangsungan kehidupan di Bhashan Char, PBB menginginkan hendaknya proses itu dilakukan secara sukarela dan melalui pendampingan teknis,” kata Juru Bicara UNHCR, Louise Donovan.

Sedangkan menurut kelompok aktivis Fortify Rights, mereka sudah mewawancarai 14 orang Rohingya pada November lalu di tidak penampungan. Menurut mereka hasilnya tidak ada satu pun yang mau pindah atau dihubungi aparat Bangladesh soal relokasi.

Desak Suu Kyi

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mendesak Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, untuk menjamin keselamatan etnis Rohingya jika ada yang akan kembali ke kampung halamannya di negara bagian Rakhine.

“Myanmar bertanggung jawab untuk memastikan lingkungan yang kondusif demi keamanan pemulangan pengungsi yang berkelanjutan,” kata Guterres di Konferensi Tingkat Tinggi di Bangkok, Thailand.

Menurut pandangan mata jurnalis AFP, Suu Kyi tidak menampakkan ekspresi apapun terkait dengan pernyataan Guterres.

Suu Kyi kini dicecar habis karena dianggap membiarkan kekerasan dan persekusi terhadap etnis Rohingya, yang dilakukan oleh militer dan kelompok radikal di Myanmar pada 2017 lalu.

Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close