Blusukan ke Pasar Langgur Kepulauan Kei, Harga Ikannya Wow!

JIKA ingin tahu denyut perekonomian sebuah daerah apakah bagus atau tidak, datanglah ke pasar tradisionalnya. Uang berputar teramat besar di pasar.

Pasar adalah jantung perekonomian sebuah daerah. Pasar tradisional juga bisa memperlihatkan kemandirian sebuah daerah. Terlebih jika daerah itu jauh dari pusat pemerintahan.

Saya tiba di pasar Langgur kemarin lewat jam 10 pagi. Langgur adalah sebuah kota di Kepulauan Kei, tepatnya ia ada di pulau Kei Kecil, bersebelahan dengan kota Tual.

Orang mungkin lebih sering mendengar nama kota Tual daripada Langgur karena kota Tual adalah ibukota dari Kabupaten Kepulauan Kei Maluku Tenggara.

Padahal di kota inilah terletak bandar udara yang menjadi menjadi tempat mendaratnya pesawat Wings Air, satu-satunya maskapai yang menyediakan transportasi udara dengan rute Ambon – Langgur pulang pergi.

Wings Air terbang dari bandara ini dua kali sehari. Pesawatnya memang bukan pesawat besar, kapasitasnya hanya 70 orang per pesawat.

Akses jalan raya di Langgur bagus sekali. Jalan beraspal mulus menghubungkan pusat kota dengan desa-desa di sekitarnya. Desa-desa ini Ohoi disebutnya.

Selain aspal mulus, rumah-rumah masyarakatnya juga terbilang baik. Rumah berdiri dengan tembok kokoh bercat warna-warni. Rata-rata memiliki kendaraan, minimal motor. Kondisi ini memperlihatkan kehidupan warganya yang sederhana namun sejahtera.

Pekerjaan utama masyarakatnya adalah menjadi nelayan. Sebagian lagi memilih bercocok tanam, jual-beli barang-barang keperluan rumah tangga atau bekerja di lembaga pemerintahan.

Mayoritas masyarakat Langgur beragama Kristen Katolik. Namun yang beragama Islam, Budha atau Hindu juga ada. Toleransi di daerah ini sangat tinggi, hingga tak ada gesekan antar umat beragama.

Dengan lokasi Kepulauan Kei yang dikelilingi laut dan transportasinya hanya melewati laut dan udara, apakah bahan-bahan pokok di sini menjadi mahal?

Saya blusukan ke Pasar Langgur untuk melihat kegiatan jual beli di sini. Selain itu, sebagai emak, blusukan ke pasar adalah kenikmatan yang haqiqi.

Murahnya Ikan di Pasar Langgur

Pasar Langgur luas sekali. Area penjualan ikan dan sayuran serta perlengkapan rumah tangga terpisah. Jadi blusukan ke pasar relatif nyaman. Area para pedagang juga beratap ya jadi aman berbelanja saat panas atau hujan.

Pedagang ditempatkan pada barisan meja panjang. Nyaman jadinya kalau milih-milih barang. Pasar langgur pasar utama di kota Langgur. Pasar di renovasi 2 tahun lalu menggantikan pasar lama yang sudah tak layak ditempati.

Proses Jual Beli di Pasar Langgur (dok.yayat)

Setelah proses renovasi selama setahun, pedagang menempati kios-kios dengan cara mengontrak. Kisaran harganya 5 jutaan setahun. Uang kontrak masuk ke kas daerah karena pembangunan gedung pasar juga didanai dana daerah.

Penjual datang dari berbagai Ohoi, sebutan untuk kampung di Kepulauan Kei. Pasar beroperasi seriap hari dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore. Para pedagang menjual sendiri hasil kebun dan tangkapan ikannya, tapi ada juga yang berjualan dari hasil membeli dari pihak lain.

Yang menarik di sini, sayuran dan ikan tidak dijual perkilogram, namun dijual dalam ukuran yang sudah disiapkan oleh para pedagang.

Bau ikan segar tercium menyambut langkah kaki saya memasuki area pedagang ikan. Kepulauan Kei dikelilingi laut dan ikan merupakan hasil utama di sini.

Saya tertegun memandang barisan para pedagang yang rata-rata wanita dengan ikan-ikan di depannya. Ukuran ikan ada yang kecil namun juga ada yang besar sekali.

Mamak pedagang menawarkan ikan ketika saya berjalan di antara meja-meja pedagang. Sayangnya saya tak bisa membeli, kalau saya tinggal di sini mungkin saya sudah kalap memborong berbagai ikan yang segar dan ukurannya besar-besar.

Makan ikan adalah keharusan, karena selain bergizi tinggi, makan ikan juga perlu biar nggak ditenggelamkan ibu Susi Pudjiastuti.

Yang bercak biru itu ikan kakaktua (dok.yayat)

“Ini ikan apa bu dan ibu jual berapa?” tanya saya pada seorang mamak penjual ikan. Ikan yang saya tanya berukuran sedang dengan bercak biru di kulitnya. Ikan ini dijejerkan sebarisan dengan ikan lain yang cantiknya sama.

“Ini ikan kakaktua, yang ini ikan keropa, lima puluh ribu saja”, katanya sembari menunjuk jejeran ikan berwarna cantik. Satu jejer ikan keropa berisi 10 ekor ikan dihargai 50 ribu.

Murah? Bangeetttt. Mata saya tertumbuk pada meja di depan mamak penjual ikan keropa. Seorang ibu sedang menjual ikan yang besar sekali. Ikan dimasukkan ke dalam plastik. Selembar uang lima puluh ribu diberikan oleh ibu yang membeli ikannya. Hah… ikan sebesar itu cuma lima puluh ribu?

Saya hampiri si ibu dan saya tak bisa menahan diri untuk bertanya. Ikan yang dijual si ibu ikan Fo namanya. Ikan itu hasil tangkapan suaminya sendiri. Ternyata begitulah yang terjadi di pasar ini,

Para penjualnya adalah wanita karena yang laki-laki tugasnya menangkap ikan. Ikan tadi dijual murah karena memang tangkapan sendiri. “Tak rugi?” tanya saya. Si ibu tersenyum dan bilang harga pasarnya memang segitu dan bisa lebih murah kalau belinya banyak. Woww…

Rata-rata ikan di sini dijual 50 ribuan, entah itu per ekor yang ukuran besar atau ikan kecil yang jumlahnya beberapa ekor. Ikan yang dijual sudah pasti ikan segar hasil tangkapan malam pagi hari.

Dengan harga yang murah dan segar begini, ikan selalu ada dalam menu sehari-hari. Maka anak-anak Kepulauan Kei tumbuh menjadi anak-anak yang kuat karena makan makanan yang bergizi. Sejak saya tiba di Langgur Sabtu kemarin, ikan saya makan setiap hari.

Puas melihat-lihat ikan segar, saya berjalan menuju area penjual sayuran. Saya disambut dengan tomat dan bawang yang ditempatkan dalam piring-piring kecil. Melangkah lebih jauh ke dalam, barisan penjual sayuran sedang sibuk melayani pembeli.

Sayuran yang dijual sungguh segar-segar. Sayuran dijual per tumpuk. Jantung pisang yang sudah diiris dan ditempatkan dalam sebuah piring dijual 10 ribu per porsinya.

Lalu ada mamak penjual daun papaya. Setumpuk daun papaya segar dijual sepuluh ribu dan kita bisa beli seharga 15 ribu jika mengambil 2 tumpuk.

Saya tertarik dengan sejenis kacang berkulit coklat. Itu kacang kenari. Mamak penjual macang kenari memberi saya sebiji kacang untuk dicoba. Langsung makan saja katanya.

Saya ikuti walau dalam hati heran, memangnya ini kacang sudah matang? Yang saya tahu kacang kenari digoreng atau dipanggang dulu sebelum bisa dikonsumsi.

Ternyata… ketika kacang kenari saya gigit, rasanya gurih dan empuk. Serupa kacang tanah rebus. Sepiring kacang kenari dijual lima ribu rupiah. Saya langsung beli 2 piring buat cemilan di jalan.

Mamak penjual kacang kenari malu-malu ketika saya ajak berfoto. Ia digoda oleh penjual di sebelahnya yang malah minta difoto. Gelak tawa mereka terdengar ketika saya tunjukan hasil fotonya di kamera hape saya.

Saya ucapkan terima kasih dan pergi meninggalkan mereka yang mengiringi dengan senyum lebarnya. Si mamak hepi, karena kenarinya laku lagi.

Oleh: Yayat

Topik Berita
Back to top button
Close