Asal-usul Seks Pada Manusia

Abadikini.com, JAKARTA – Bayangkan jika manusia memiliki ciri reproduksi seperti bakteri dengan cara membelah diri dan transfer materi genetik. Kasus Aceng Fikri atau wakil walikota Semarang tidak terlalu heboh. Atau, bahkan tidak pernah terjadi dan diliput oleh media. Mungkin juga dokter Boyke tidak terlalu terkenal sebagai ahli seksologi karena manusia tidak melakukan seks.

Tidak semua spesies mahkluk hidup melakukan kegiatan seksual. Nyatanya, ada spesies-spesies mahkluk hidup yang bereproduksi secara aseksual, seperti bakteri. Atau, ada juga beberapa spesies yang ternyata bisa bereproduksi secara seksual dan aseksual sekaligus.

Lalu mengapa manusia harus pada akhirnya bereproduksi secara seksual? Pertanyaan itu membingunkan para ahli biologi evolusi. Cara analisisnya begini. Setelah teknologi mulai berkembang, ternyata ada kemungkinan bahwa wanita bisa menghasilkan keturunan tanpa bersentuhan kulit sekalipun dengan pria. Sebut saja teknologi itu adalah kloning. Temuan domba Dolly Ian Wilmut membuka pintu masuk bahwa wanita bisa mengabaikan pria. Cukup dengan sel telur yang bersifat haploid dan sel tubuh, calon individu baru punya peluar lahir. Lagipula, wanita memang punya kelengkapan rahim yang tak dimiliki pria. Lalu, apakah pria bisa bereproduksi tanpa wanita? Jawabannya tidak. Pria memang tidak terlalu memiliki kontribusi terhadap keturunan selain, matergi genetik. Itupun tidak semua karena masih harus bergabung dengan materi genetik wanita.

Teori seks memandang bahwa alasan mengapa manusia memilih bereproduksi secara seksual adalah karena untuk menyelamatkan pria. Ya.. pria memang harus diselamatkan dari keberadaan parasit yang berbahaya bagi materi genetik. Karenanya, meneruskan materi genetik pada keturunan adalah cara paling baik menjaga materi genetik tetap lestari dalam populasi. Teori disebut “red queen Theory”. Teori mengatakan bahwa parasit-parasit yang berada di dalam tubuh memanfaatkan kelemahan inangnya agar dapat berkembang biak dengan cepat.

Tubuh inang sendiri memiliki gen-gen yang langka yang rentan teradap serangan parasit. Akibatnya, gen-gen langkah inilah yang diteruskan kepada keturunan. Dan lama-kelamaan, gen-gen langka ini menjadi umum di dalam populasi. Manusia bereproduksi secara seksual agar gen-gen langka ini bisa diturunkan kepada keturunan, selain bahwa rekombinasi atau pencampuran dengan gen-gen wanita akan memunculkan gen-gen langka baru pada keturunan.

Dukungan terhadap teori ini datang dari riset yang dilakukan pada siput air tawar. Siput ini bisa bereproduksi secara seksual dan aseksual sekaligus. Dan lagi, jumah siput jantan lebih banyak dibanding siput betina. Siput jantan biasanya hidup di tepi sungai yang membuat mereka gampang diserang cacing dan parasit lainnya. Ilmuwan mendapati bahwa siput-siput itu pada akhirnya memiliki cara reproduksi secara seksual. Tujuannya agar gen-gen siput jantan bisa diselamatkan.

Levi Morran dan rekan-rekannya dari Indiana University juga mendukung teori “Red Queen” melalui riset mereka. Di laboratorium, para peneliti mengadu cacing gelang dengan spesies bakteri yang dapat membunuh mereka. Peneliti lalu mengamati apa yang. Ternyata, turunan cacing gelang hasil reproduksi aseksual tewas hanya dalam 20 generasi, sementara turunan hasil reproduksi seksual mampu terus berevolusi untuk bertahan dari serangan bakteri.

Sumber Kompasiana 

Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close