Dewan Perwakilan AS Loloskan RUU Hak Asasi dan Demokrasi Hong Kong

Abadikini.com, JAKARTA – Dewan Perwakilan Amerika Serikat (AS) meloloskan Rancangan Undang-Undang tentang Hak Asasi dan Demokrasi Hong Kong, satu langkah yang menyulut amarah China.

RUU tersebut diloloskan melalui pemungutan suara Dewan Perwakilan yang digelar pada Selasa (15/9) waktu setempat.

“Dewan Perwakilan mengirimkan pesan kuat kepada rakyat Hong Kong: Kami mendukung kalian untuk berjuang demi demokrasi dan keadilan,” ujar seorang anggota dewan dari Partai Demokrat, Ben Ray Lujan, sesaat setelah pemungutan suara.

Tak hanya Demokrat, para anggota dewan dari Partai Republik juga mendukung RUU tersebut, termasuk Mario Diaz-Balart.

“[RUU ini memastikan] hubungan spesial dengan Hong Kong akan terus terjalin selama Hong Kong memiliki otonomi dan kebebasan yang dapat memantapkan hubungan spesial tersebut,” ucapnya sebagaimana dikutip AFP.

Tak lama setelah kabar mengenai pelolosan RUU ini tersebar, China langsung mengutarakan “kemarahan kuat.”

“Apa yang dihadapi Hong Kong sama sekali bukan isu HAM dan demokrasi, melainkan isu penghentian kekerasan, mengembalikan kendali, dan menjunjung supremasi hukum sesegera mungkin,” ujar juru bicara kementerian luar negeri China, Geng Shuang.

Geng kemudian mengatakan AS harus “berhenti ikut campur” dan memperingatkan bahwa China akan “mengambil langkah keras” untuk melawan RUU demokrasi Hong Kong tersebut.

Setelah lolos di tahap Dewan Perwakilan, kini RUU tersebut akan dibawa ke Senat sebelum disahkan menjadi undang-undang.

Beberapa pasal dalam RUU yang bakal menjadi sorotan adalah ulasan tahunan mengenai status perekonomian di Hong Kong sebagai daerah otonom China.

Selain itu, Kongres juga akan membedah kemungkinan penerapan sanksi pada pihak yang tak menghormati status otonomi Hong Kong.

Kongres AS menganut sistem dua kamar, yaitu Dewan Perwakilan dan Senat. RUU ini harus terlebih dulu disepakati kedua pihak tersebut sebelum dibawa ke Presiden Donald Trump untuk disahkan.

Sikap Trump sendiri masih dianggap bias terhadap Hong Kong, terutama mengenai aksi demonstrasi besar-besaran di kawasan tersebut selama tiga bulan belakangan.

Pada awal Agustus, Trump menuai kritik dari para demonstran karena menyebut unjuk rasa di Hong Kong sebagai kerusuhan.

Namun setelahnya, Trump terus mendesak China mengakhiri perselisihan ini dengan cara manusiawi dan menyebut kekerasan terhadap demonstran Hong Kong dapat membahayakan perundingan perang dagang.

Sumber Berita
CNN
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close