Walau Dilarang oleh Guru, Kenapa Masih Ada Murid Menyontek Ya?

Abadikini.com, JAKARTA – Beberapa tahun yang lalu, saat Ujian Nasional, baik tingkat SD maupun SMA, berita tentang kecurangan yang dilakukan peserta ujian banyak bermunculan dalam pemberitaan di Tanah Air. Namun, metode Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang dilakukan di seluruh Indonesia pada tahun 2017 dan 2018 telah memperkecil dan mempersulit perbuatan sontek menyontek.

Sebenarnya, menyontek bukan merupakan hal yang baru dan tidak hanya terjadi saat Ujian Nasional. Pelakunya bukan hanya mereka yang memiliki tingkat kecerdasan rendah atau biasa-biasa saja. Pasalnya, mereka yang memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata, bahkan juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial, sekolah maupun kampus, juga acap kali melakukan aksi menyontek.

Para siswa hampir di seluruh dunia bisa dipastikan pernah menyontek dalam ujian atau tes kemampuan lainnya.

Andrew Simmons, seorang guru dan penulis untuk berbagai media seperti The Atlantic, San Francisco Chronicle, The New York Times dan sebagainya, dalam artikelnya yang dipublikasikan di situs Edutopia menuliskan jawaban salah seorang muridnya ketika ditanya alasannya menyontek; dia menyontek karena ingin memperoleh nilai yang bagus tanpa perlu berusaha lebih keras.

Namun, ada juga yang menyangkal dan merasa hasil ‘kerja keras’nya tidak dihargai, padahal sudah tertangkap tangan sedang menyalin. Ada pula yang menyalahkan beban pelajaran yang tinggi.

Kasus-kasus kecurangan akademik memang terjadi di mana-mana, termasuk di sekolah-sekolah bergengsi. Sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Josephson Institute’s Center for Youth Ethics pada tahun 2012, mengungkapkan bahwa lebih dari separuh siswa sekolah menengah mengaku telah melakukan kecurangan dalam ujian. Sementara sebanyak 74 persen menyalin pekerjaan rumah teman mereka.

Survei yang dilakukan terhadap para pelajar sekolah menengah di Amerika Serikat antara tahun 2002 sampai 2015 menemukan, sebanyak 58 persen siswa menyerahkan karya tulis hasil plagiat, dan 95 persen mengaku pernah menyontek.

Para peneliti dari Harvard Graduate School of Education melakukan kegiatan yang disebut dengan Ethical Collaboration, yaitu suatu kegiatan kolaborasi untuk mengajarkan para siswa bekerja bersama secara jujur dan membangun budaya yang dapat menghentikan kecurangan sebelum terjadi.

Namun, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa di antara banyaknya manfaat ketika para siswa bekerja bersama, terdapat satu bahaya potensial, yaitu kemungkinan kecurangan yang dapat timbul dari dinamika kelompok yang kompleks dan norma-norma budaya di sekolah, serta dapat ditutupi oleh para pendidik yang ingin memberikan dukungan.

Para peneliti mengatakan bahwa di dalam pembelajaran yang tumbuh lebih kolaboratif dan mencerminkan banyak pengaturan kerja, para guru tidak dapat mengabaikan tekanan yang memancing para siswa untuk menipu. Lalu, ketika para pendidik mengajarkan keterampilan kolaboratif, mereka juga harus mengajarkan para siswa bagaimana bekerja bersama secara etis.

Dalam laporannya untuk National Association of Independent School, para peneliti yang terdiri dari Alexis Brooke Redding, Carrie James dan Howard Gardner dari Harvard Graduate School of Education menyebutkan tiga kondisi yang dapat meningkatkan kemungkinan para siswa menyontek, yaitu:

Tekanan untuk mencapai target tertentu atau persaingan, misalnya, target masuk ke perguruan tinggi dengan peringkat tertentu. Para siswa juga sering merasa mendapat tekanan halus dari keluarga dan orang tua, misalnya,dengan pendapat bahwa keberhasilan akademik adalah yang terpenting. Para siswa berprestasi yang dilaporkan menyontek sering membenarkan tindakan mereka melalui rasionalisasi, berusaha menjelaskan kesalahan mereka.

Di sekolah-sekolah tertentu, contohnya, sekolah-sekolah dengan peringkat prestasi yang tinggi, kegiatan menyontek ini dapat berkembang secara luas di dalam komunitas sekolah. Para siswa saling berbagi lembar jawaban merupakan hal yang biasa. Tentu saja ini merupakan kerja sama yang sangat tidak etis, tetapi mereka yang menolak untuk ‘bekerja sama’ akan sulit bertahan, apalagi jika kecurangan tersebut ‘dilindungi’ oleh komunitas sebagai kegiatan untuk membantu orang lain atau altruistik.

Di masa sekarang ini, saat dunia telah berkembang, penggunaan perangkat digital secara tidak bertanggung jawab bisa menjadi faktor pemicu yang cukup signifikan untuk menyontek. Sebagian siswa menggunakan kamera ponsel atau mengirimkan pesan untuk membagi soal-soal ujian, melakukan salin tempel dari sumber digital lain, dan sebagainya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Donald McCabe, Kenneth Butterfield dan Linda Trevino, hampir 40 persen mahasiswa mengaku melakukan plagiarisme digital.

Kepada para peneliti dari Harvard Graduate School of Education, para siswa mengatakan bahwa tekanan teman sebaya dan ingin tampil mengesankan dengan nilai yang bagus membuat mereka berbuat curang.

Namun, mereka juga mengaku adanya tekanan dari lingkungan dan orang dewasa, terutama yang berhubungan dengan pengujian standar atau Ujian Nasional, untuk mencapai target tertentu.

Topik Berita
Back to top button
Close