Sekilas Tentang UPS dan Black Out PLN

Abadikini.com – Menyikapi padamnya listrik beberapa hari yang lalu di Jakarta, Jawa Barat, dan daerah sekitarnya kita tentu merasa prihatin atas kinerja perusahaan plat merah (PLN) ini. Bagi beberapa kalangan di masyarakat timbul pro dan kontra atas kejadian ini.

Ada yang menyalahkan PLN langsung, ada yang menyalahkan menteri BUMN dan Menteri ESDM. Bahkan ada yang menyalahkan Gubernur Anies Baswedan, tetapi luput menyalahkan Ridwan Kamil bagi yang belum move on atas pilkada kemaren. Hehehehe …

Atas kejadian ini penulis jadi teringat dengan kasus yang heboh beberapa tahun yang lalu, yaitu proyek Unterruptible Power Supply atau yang biasa disingkat UPS .

UPS adalah alat yang digunakan untuk memback up aliran listrik ketika terjadi pemadaman listrik. UPS ini berfungsi agar peralatan elektronik tidak mati ketika terjadi pemadaman listrik secara tiba-tiba. Di dalam UPS terdapat baterai, ketika listrik mengalir melalui UPS, secara otomatis baterai ini akan terisi. Baterai inilah yang menjadi sumber listrik ketika listrik dari PLN padam.

Selama ini masyarakat awam hanya mengetahui bahwa UPS hanyalah alat yang digunakan di komputer yang bentuknya kecil dengan harga yang murah. Padahal pada kenyataannya banyak bentuk,ukuran, dan kapasitas UPS ini. Di banyak bandara internasional alat ini wajib di pasang sebagai antisipasi jika listrik padam.

Dapat dibayangkan kalau sampai listrik bandara mati kemaren itu, akan mengganggu jadwal penerbangan, bahkan gangguan sinyal dapat menyebabkan kecelakaan pesawat.

Kejadian proyek UPs waktu itu mungkin telah banyak di lupakan masyarakat, yang ada hanya menyisakan tentang terjadinya korupsi dan pelakunya di jatuhi hukuman Itu saja.

Padahal jika kita mau mengkaji lebih mendalam tentang apa UPS itu mungkin kita tidak akan mudah menghakimi semudah itu. Ketidak tahuan atau malah sikap sok tahu dari pimpinan yang kata-katanya sering dikutip sebagai sumber berita akhirnya dipakai sebagai bentuk penghakiman dan kebenaran mutlak.

Jika UPs hanya dianggap sebagai UPs untuk komputer tentu harganya murah. Tetapi jika dilakukan perbandingan dengan UPs yang ada di bandara dan tempat strategis mungkin akan terjadi “dissenting opinion”. kemampuan UPs yang dibeli saat itu mampu menyuplai listrik selama minimal 6 jam jika listrik padam sehingga alat- alat electronik yang membutuhkan listrik tidak mudah rusak.

Ibarat mobil jika membandingkan mobil SUV biasa dengan mobil sport Lamborghini tentu saja akan sangat berbeda jauh. Tidak bisa dilakukan perbandingan semudah itu. Tentu harus dilakukan pengkajian yang mendalam.

Sangat disayangkan asas Ultimum Remidium tidak dilakukan, akibatnya penghukuman lebih dikedepankan demi kepuasan masyarakat.

Kembali lagi ke persoalan pemadaman listrik kemaren itu seharusnya pihak terkait mengambil hikmah dan langkah cepat dan strategis supaya kejadian ini tidak terulang kembali. Untuk kebutuhan listrik sebuah negara besar mengapa tidak ada semacam back up atau cadangan seandainya listrik padam. Alat seperti fungsi UPs atau dengan nama lain mungkin sebaiknya PLN perlu menyediakan alat dengan fungsi tersebut. Sehingga ketika terjadi pemadaman listrik, alat ini mampu menyediakan listrik cadangan selama waktu tertentu. Keluhan dari masyarakat luas akan meluas ditambah dengan situasi politik yang kembali memanas.

Oleh karena itu kinerja perusahaan plat merah tentu harus di awasi dan ditingkatkan. Kepemimpinan di perusahaan plat merah mungkin bisa di isi oleh mereka yang memiliki kemampuan mumpuni di bidangnya. Mungkin tidak ada salahnya seandainya ide dari Presiden Jokowi dengan merekrut profesional orang asing (Non WNI) dilaksanakan untuk memacu kreativitas perusahaan plat merah dengan dengan perusahaan swasta. Wacana seperti itu walau mungkin menimbulkan pro dan kontra tetapi tidak ada salahnya untuk dicoba sebagai terobosan memperbaiki banyak kinerja perusahaan plat merah yang jeblok.

Oleh : Leo Fernando SE., Ak
Ketua BPC HIPMI Belitung Timur
Dosen STIE Mulia Pratama

Editor
M Saleh
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button