Makam Ma’la, Peristirahatan Keluarga Rasul hingga Mbah Moen

Abadikini.com, JAKARTA – Kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) Maimun Zubair atau Mbah Moen yang wafat saat akan menunaikan ibadah haji, Selasa (6/8), dikuburkan di pemakaman Ma’la, Makkah, Arab Saudi.

Dilansir CNN, Pemakaman Ma’la sudah ada sejak zaman Arab Jahiliyah, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir dan diutus untuk menjadi Nabi di Makkah.

Ma’la dalam bahasa Arab memiliki arti tanah yang lebih tinggi. Jika dilihat langsung, posisi pemakaman Ma’la yang terletak di Jalan Al-Hujun, Makkah itu memang berada di kaki bukit Hujun.

Kuburan dengan nama lengkap “Maqbarah Jannatul Ma’la” merupakan kuburan umum bagi masyarakat setempat ataupun jemaah haji yang wafat di daerah Makkah.

Ma’la punya cerita sejarah yang penting bagi umat Islam sehingga kerap diziarahi walau terkadang hanya boleh dari luar pagar.

Beberapa keluarga Rasulullah Muhammad SAW dan tokoh penting dalam sejarah Islam dikuburkan di Ma’la. Mereka di antaranya, Istri Nabi Muhammad, Khadijah dan dua putra Nabi Muhammad Al-Qosim bin Muhammad dan Abdullah bin Muhammad. Selain itu, kakek Nabi Muhammad, Abdul Muttalib bin Hasyim dan pamannya Abu Thalib juga dikuburkan di Ma’la.

Dua anak sahabat Rasul, Abu Bakar bin Shiddiq yakni Abdurrahman dan Asma juga termaktub menjadi penghuni Ma’la.

Tak hanya Mbah Moen, ulama besar asal Indonesia Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani juga tercatat bersemayam di makam Ma’la. Syekh Nawawi disebut-sebut merupakan kakek buyut dari Wakil Presiden RI terpilih Ma’ruf Amin.

Di masa-masa awal, kuburan Ma’la dilengkapi dengan beberapa bangunan dan batu nisan yang berukuran besar. Namun sejak Raja Abdul Aziz Al-Suud berkuasa di Saudi, pada tahun 1925 bangunan dan nisan besar itu dihancurkan dan hanya menyisakan tanah setinggi satu jengkal dan batu-batu kecil sebagai penanda makam.

Kuburan Ma’la hanya berjarak 1,5 kilometer dari Masjid Haram dan dibutuhkan kira-kira 25 menit bagi peziarah yang ingin berjalan kaki.

Mbah Moen wafat di Makkah, Arab Saudi, Selasa (6/8). Sepanjang hidupnya, Mbah Moen dikenal sebagai seorang alim, ahli fikih, sekaligus penggerak baik di lingkungan organisasi keagamaan maupun di kehidupan politik.

Mbah Moen meninggal di usia 90. Pria kelahiran Rembang, 28 Oktober 1928, itu adalah putra Kiai Zubair, Sarang, seorang alim dan faqih. Ayahnya merupakan murid dari Syaikh Saíd al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al-Makky.

Mbah Moen mempelajari ilmu agama di sejumlah wilayah, baik di dalam maupun luar negeri. Sepanjang hidupnya, Mbah Moen juga menulis kitab-kitab yang menjadi rujukan santri. Di antaranya, kitab berjudul al-Ulama al-Mujaddidun.

Selain dikenal dalam urusan agama, Mbah Moen juga disegani di bidang politik. Dia merupakan Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Mbah Moen juga sempat diperebutkan oleh dua kubu yang bertarung di Pilpres 2019, yaitu Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Editor
Irwansyah
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close