Kader PBB Termuda ini Raih Suara Terbanyak di Pamekasan

Abadikini.com, JAKARTA – Moh Khomarul Wahyudi menjadi calon legislatif (Caleg) termuda di Pamekasan, Pulau Madura. Usianya baru 23 tahun.

Warga Dusun Lobuk, Desa Dasok Kecamatan Pademawu, Pamekasan, itu dipastikan lolos menduduki kursi DPRD Pamekasan periode 2019 – 2024 dari Daerah Pemilihan (Dapil) 5: Kecamatan Pademawu, Kecamatan Galis dan Kecamatan Larangan.

Mengutip dari Suryamalang, Selasa (14/5), Wahyu, panggilan akrabnya, masih tercatat sebagai mahasiswa semester VIII Fakultas Hukum Universitas Madura (Unira) di Pamekasan. Ia menjadi caleg Partai Bulan Bintang (PBB) dengan perolehan 13.326 suara.

Anak pertama dari dua bersaudara pasangan suami istri, almarhum Marsuki dan Sulastri, merasa bersyukur mendapatkan suara sebanyak itu.

“Alhamdulillah saya senang. Dan saya tidak menyangka akan mendapatkan suara sebanyak ini. Saya berteima kepada masyarakat dan pendukung saya yang telah memberikan kepercayaan suaranya kepada saya,” kata Wahyu, Senin (13/5/2019).

Menurut Wahyu, untuk melenggang ke kursi dewan ini tidak mudah karena melawan para caleg petahana.

Sementara dirinya baru pemula. Hanya saja yang membuat dirinya yakin mampu, karena ayahnya mantan anggota DPRD Pamekasan dari PBB periode 2009 – 2014.

Namun saat itu hanya menjabat selama satu bulan. Sebab setelah dilantik, sebulan kemudian sakit dan dirawat di rumah sakit kemudian ayahnya meninggal dunia.

Selain itu, sejumlah teman-teman almarhum ayahnya banyak memberikan dukungan agar dirinya terus maju dan tidak pesimis dengan kondisi ini.

Termasuk keluarga dan famili, serta teman-teman semasa SMA banyak bersedia untuk membantu dirinya.

Diakui, untuk ketua tim pemenangan, saudara sepupu sendiri yang juga seusia dirinya.

Begitu juga orang-orang yang diterjunkan ke lapangan ke sejumlah desa untuk meyakinkan calon pemilih, menggunakan teman-temannya sendiri yang masih seusia dirinya, yang semuanya masih belum pengalaman dalam dunia pemilu.

Tapi berkat keyakinan dirinya dan kegigihan serta kerja keras timnya, apa yang dilakukan tidak sia-sia.

“Target saya ingin meraup sebanyak 30.000 suara. Ternyata untuk mendapatkannya suara sebesar itu tidak mudah, sehingga dirinya pasrah dengan hasil yang saya peroleh ini,” ujar Wahyu.

Dikatakan, karena saat itu dirinya masih kuliah dan akan menghadapi ujian skripsi, sementara skripnya baru mengajukan judul kepada dosen pembimbingnya, maka dirinya harus pandai mengatur waktu, antar persiapan membuat skripsi dengan menemui masyarakat kampanye untuk dirinya.

Namun menjelang hari H, waktunya banyak tersita untuk caleg, sehingga skripsinya belum sempat dilanjutkan.

Ia berjanji menyelesaikan pembuatan skripsinya itu setelah pemilu selesai atau sebelum pelantikan dirinya sebagai anggota DPRD Pamekasan.

Diaku, semula dirinya tidak punya cita-cita untuk menjadi wakil rakyat. Tetapi ketika ia umroh pada 2018 lalu, di Madinah bertemu KH Mohammad Rofii Baidawi, pengasuh Ponpes Al Hamidy, Palengaan, Pamekasan, yang merupakan salah satu kiai kharismatik yang disegani di Pamekasan.

Saat itu, kata Wahyu, KH Mohammad Rofii Baidawi menanyakan padanya kenapa tidak mencalonkan diri sebagai caleg, sebagai penerus almarhum ayahnya.

Mendapat pertanyaan itu, Wahyu kaget dan tidak menjawab ia atau tidak. Ia hanya berfikir, kenapa dirinya diminta untuk jadi caleg.

Merasa mendapat dukungan ulama, walaupun bukan dari dapilnya, kemudian Wahyu menemui ibunya memberitahu keinginan dirinya untuk jadi caleg.

Kala itu ibunya menolak dan tidak mengizinkan dirinya jadi caleg. Ibunya masih trauma dengan almarhum ayahnya dan meminta dirinya mencari pekerjaan lain saja, tidak usah beniat jadi caleg.

Selanjutnya ia salat istikharah meminta petunjuk kepada Allah. Setelah dirinya yakin, ia kembali menemui ibunya minta doa restu sambil mengatakan, jika rezeki, jodoh dan maut itu semua kehendak Allah.

Tapi kala itu, ibunya masih belum mengiyakan. Barulah beberapa hari kemudian, ibunya memberi restu padanya.

Setelah mendapat restu ibunya, Wahu mendatangi bebepa guru sekolahnya, paman dan bibinya serta sejumlah familinya pamit untuk minta dukungan dirinya menjadi caleg. Begitu mendapat dukungan, ia menemui dosen di kampusnya minta izin menjadi caleg.

Ditanya di dewan itu banyak politisi senior, sedang dirinya masih muda dan pemula, ia mengaku tidak merasa canggung. Meski muda, dirinya selain akan belajar dari mereka, dirinya berjanji untuk menjadi dewan yang bisa mengemban amanah rakyat.

 

Editor
Irwansyah
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button