Harga Minyak Tergelincir Pasokan AS yang ‘Menciut’

Abadikini.com, JAKARTA –  Harga minyak mentah dunia tergelincir pada perdagangan Rabu (17/4), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan terjadi akibat data Pemerintah AS terkait pasokan minyak mencatat penurunan, bahkan lebih kecil dibandingkan perkiraan industri.

Dilansir dari Reuters, Kamis (18/4), Harga minyak mentah berjangka Brent turun US$0,1 menjadi US$71,72 per barel. Selama sesi perdagangan berlangsung, harga Brent sempat menyentuh level US$72,27 per barel, level tertinggi untuk tahun ini.

Pelemahan lebih dalam terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) merosot sebesar US$0,29 menjadi US$63,76 per barel. Selama sesi perdagangan, harga WTI sempat menyentuh level US$64,61 per barel, sedikit di bawah level tertinggi tahun ini yang tembus pada pekan lalu.

Harga minyak mentah sempat mengalami reli di awal sesi perdagangan. Penguatan dipicu oleh data Institut Perminyakan Amerika (API) yang menunjukkan penurunan stok minyak AS di luar ekspektasi analis.

Kendati demikian, data resmi Badan Administrasi Informasi Energi AS menunjukkan penurunan stok minyak AS sebesar 1,4 juta barel per hari (bph) atau hanya separuh dari data yang dirilis API.

“Reli dalam semalam terjadi karena penurunan stok minyak sebesar 3 juta bph, namun ternyata tidak terbukti,” ujar Direktur Energi Berjangka Mizuho Bob Yawger di New York.

Sementara itu, minyak mentah terus mendapatkan dukungan dari pertumbuhan ekonomi yang stabil di China. Pada kuartal I 2019, ekonomi tumbuh sekitar 6,4 persen. Hal itu mementahkan ekspektasi berlanjutnya perlambatan dan mendongkrak pasar global. Terlebih kesepakatan dagang AS-China diperkirakan terealisasi dalam waktu dekat.

Selain itu, minyak mentah yang diolah di kilang China naik 3,2 persen pada Maret lalu dibandingkan Maret 2018. China sendiri merupakan konsumen minyak mentah terbesar kedua di dunia. 

Tahun ini, harga ditopang dari pemangkasan produksi sebesar 1,2 juta bph oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia. Kelompok tersebut juga dikenal dengan sebutan OPEC+. Selain itu, pasokan global juga mengetat lebih jauh akibat pengenaan sanksi AS terhadap anggota OPEC Venezuela dan Iran.

Sumber Reuters dari industri serta data tanker menyatakan ekspor minyak mentah Iran merosot pada April lalu ke level terendah tahun ini. Hal tersebut menunjukkan penurunan minat pembeli sebelum tekanan lebih jauh dari AS yang telah diperkirakan.

“Pembeli mundur karena ketidakpastian kebijakan AS terkait pengecualian untuk mengimpor minyak mentah Iran,” ujar Ahli Strategi BNP Paribas Harry Tchilinguirian dalam Reuters Global Oil Forum. 

Editor
Sulasmi
Sumber Berita
CNN
Topik Berita
Back to top button
Close