Mampukah PAN Mempertahankan Jumlah Kursi di DPRD Kotamobagu pada Pileg 2019 ?

Partai Amanat Nasional (PAN) partai yang begitu mendominasi politik kotamobagu. Berkaca kepada hasil Pileg 2014 dan Pilwako 2013, membuat dominasi partai berlambang matahari ini begitu kuat. Walikota Dan Wakilnya adalah kader PAN, ditambah dengan raihan 6 kursi DPRD Kotamobagu, membuat kursi Ketua DPRD otomatis di raih.

Kalau kita menggunakan kuadran SWOT, kemudian memetakan keadaan PAN, dapat diketahui bahwa kekuatan PAN ada oada efek ekor jas, dukungan Walikota dan Wakil Walikota, euforia masyarakat Kotamobagu yang berimbas pada berbondong-bondongnya masyarakat menjadi kader dan simpatisan serta caleg hingga menjadi pemenang Pileg 2014.

Seiring waktu berjalan, idiom “tidak ada yang abadi dalam politik, yang ada hanyalah kepentingan” nampaknya berlaku juga untuk PAN Kotamobagu. Kekalahan kadernya dalam Pilwako 2018 membuat euforia masyarakat terhadap PAN menurun drastis jika dibandingkan dengan keadaan 5 tahun lalu.

Menarik untuk disimak  ketika muncul sebuah pertanyaan “Partai manakah yang akan menggantikan posisi PAN di Kotamobagu ” ?

Mengamati dan mencermati keadaan politik kotamobagu, berkaca kepada hasil Pilgub 2015 dan Pilwako 2018 maka ada 2 partai  yang seakan berlomba untuk menggantikan posisi PAN, yakni PDIP dan Nasdem.

PDIP yang memenangi kursi Gubernur dan Wagub Sulut , serta Nasdem yang didukung oleh Walikota Kotamobagu dan Bupati Bolmong.

Dengan tetap menggunakan pisau analisa SWOT, maka head to head kedua parpol tersebut ditambah dengan euforia masyarakat yang berimbas pada perekrutan caleg di tiga Dapil Kotamobagu secara matematik dapat di hitung untuk menjawab pertanyaan diatas.

Dalam kuadran SWOT, kekuatan kedua parpol ada pada dukungan kekuasaan, plus PDIP memiliki struktur organisasi hingga ke ranting, yang telah dibangun sejak lama, sedang Nasdem walaupun membangun struktur organisasi hingga kebawah, namun dari sisi militansi, PDIP masih unggul. Disisi lain, hijrahnya sejumlah kader dari partai lain ke PDIP dan Nasdem adalah keunggulan lain yang patut di perhitungan.

Kelemahan keduanya adalah gesekan internal diantara caleg yang memiliki banyak potensi dari sisi intelektual dan financial untuk terpilih begitu besar, hingga berpotensi memecah soliditas partai.

Hambatan bagi keduanya adalah provokasi dari pihak eksternal yang memanfaatkan sisi ego dari masing-masing caleg untuk memecah Konsentrasi.

Sedangkan di kuadran terakhir, tantangan dan peluang PDIP juga Nasdem adalah kemampuan memaksimalkan kekuatan sekaligus meminimalisir kelemahan dan membendung hambatan serta mengubahnya menjadi kekuatan penopang untuk meraih kemenangan.

Dari pemetaan dan analisa diatas,  dapat dikatakan PDIP dan Nasdem memiliki potensi yang sama besar untuk menggantikan posisi PAN mendominasi politik Kotamobagu.

Oleh : Maslian Muda
(Pemerhati Masalah Gender dan Politik Kotamobagu)

  • 27
    Shares
Editor
Muhammad Saleh
Topik Berita

Baca Juga