Mengintip Proses Pembuatan Ikan Salai, Favorit Pelancong

Abadikini.com, PALEMBANG –  Ikan Salai khas Sekayu, sudah tidak asing lagi bagi pelancong yang sering berpergian ke kota Sekayu, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Harganya tidak terlalu mahal. Tidak hanya itu, penikmat makanan ini juga bisa membawa pulang sebagai oleh-oleh. Cara mendapatkannya juga cukup gampang: banyak dijual dipinggir jalan lintas Betung-Sekayu persisnya di desa Lumpatan-Bailangu.

Ikan Salai yang merupakan ikan asap yang diolah secara tradisional ini memiliki berbagai ukuran. Bagi pemudik kalau melintas di kawasan Lumpatan-Bailangu mata akan melihat berjejer rapi pondok-pondok yang menjual ikan Salai tersebut. Ikan Salai yang diolah pun berasal dari berbagai macam ikan khas Sekayu yakni diataranya Salai Patin dan Salai Baung.

Kabag Humas Pemkab Muba, Herryandi Sinulingga menerangkan untuk menghasilkan ikan asap yang bermutu tinggi sebaiknya digunakan jenis kayu yang mampu menghasilkan asap dengan kandungan unsur phenol dan asam organik tinggi, karena kedua unsur lebih banyak melekat pada tubuh ikan dan dapat menghasilkan rasa, aroma maupun warna daging ikan asap yang khas, seperti jenis kayu leban atau tembesu. “Ikan dan juga kayu bakarnya tidak boleh sembarangan,” katanya, Senin, 4 Maret 2019.

Tingginya permintaan masyarakat akan ikan salai ini membuat Bumdes Maju Bersama, Desa Bailangu Timur Kecamatan Sekayu berinisiatif membuka unit usaha pengelolaan dan penjualan Ikan Salai Dalam Kemasan. Setelah disetujui dalam musyawarah desa, Bumdes yang dimotori oleh Epriadi ini mulai merangkul dan membina beberapa kelompok usaha pengrajin ikan salai untuk ikut terlibat dalam proses produksi di rumah produksi Salai Bailangu.

Desa Lumpatan-Bailangu, Sekayu dikenal sebagai sentra penrajin ikan salai baung dan patin. Selain dapat menikmati hidangannya, pemburu kuliner juga dapat melihat proses produksi. Tempo/Parliza Hendrawan

Dalam proses produksinya, Epriadi menjelaskan bahwa metode produksi ikan salai dilakukan dengan cara proses pengasapan, yaitu dengan meletakkan ikan yang akan diasap agak jauh dari sumber asap (tempat pembakaran kayu) dengan jarak lebih kurang 1 meter dengan suhu sekitar 40 – 500C dengan lama proses pengasapan selama 20 jam – 30 jam. Setelah melalui proses pengasapan, ikan selanjutnya didinginkan dengan cara digantung atau disusun di dalam ruangan selama 24 jam. Proses ini diakhiri dengan mengemas ikan salai dalam kemasan kotak dengan berat 250 gram.

Di Bumdes Maju Bersama sendiri, ikan salai Baung dijual perkotak dengan harga Rp 75 ribu, Lais Rp 80 ribu, Patin Rp 65 ribu, dan Gabus Rp 65 ribu. “Tingkat penjualan saat ini baru mencapai 10-15 kotak perhari.” Ungkap Epriadi. Sedangkan pembeli yang datang, selain penduduk dari daerah Sekayu, juga dari orang-orang dari daerah lain yang melintas, lebih ramai lagi pembeli kalau saat bulan puasa. Namun yang menjadi kendala saat ini adalah apabila sedang memasuki musim hujan seperti sekarang, ketersediaan Ikan dengan ukuran yang memenuhi standar produksi menjadi susah didapat.

Kepala Dinas PMD Kabupaten Musi Banyuasin, Richard Chahyadi, menambahkan pihaknya berupaya memberdayakan masyarakat Bailangu Timur dan sekitar melalui program-program pemberdayaan agar Budidaya Ikan Air Tawar melalui kolam-kolam terpal dapat membangu ketersediaan bahan baku ikan yang dibutuhkan. Sebelumnya katanya, Bumdes dan Kelompok Usaha di Lumpatan, Bailangu dan Bailangu Timur pernah mencoba Budidaya Ikan Air Tawar melalui keramba-keramba di sepanjang aliran Sungai Musi. Namun usaha itu mengalami kegagalan dengan tingkat kematian ikan yang tinggi. “Kelompok-kelompok tersebut akan kita coba untuk dibina melalui Budidaya menggunakan media kolam terpal,” ujar Richard seperti dikutip dari Tempo.

  • 10
    Shares
Editor
Selly
Sumber Berita
Tempo
Topik Berita
Back to top button