Sejarah Tragedi Bintaro, Kisah Pahit Kereta Api di Indonesia

Abadikini.com – Bagi Anda yang besar di era 80-an, tentu ingat betul akan sebuah tragedi bernama Tragedi Bintaro. Bagaimana mungkin Anda melupakannya begitu saja, mengingat tragedi ini disebut-sebut sebagai kecelakaan terburuk sepanjang sejarah perkertaapian tanah air kita, Indonesia.

Darah bercucuran, mayat-mayat berserakan di antara badan kereta yang remuk akibat tabrakan dahsyat dengan kereta api lain. Di samping itu, tak sedikit korban terjepit merintih kesakitan memohon pertolongan. Tragedi Bintaro sejatinya terjadi pada Senin pagi, sekitar pukul 6.30 wib, 19 Oktober 1987, dan telah 30 tahun berlalu. Namun duka mendalam masih tersimpan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Tragedi Bintaro bermula saat Kepala Stasiun Serpong memberangkatkan KA 225 (jurusan Rangkasbitung-Jakarta Kota) menuju Stasiun Sudimara. Sedangkan, di saat yang sama, KA 220 patas (jurusan Tanah Abang-Merak) di Stasiun Kebayoran seharusnya beristirahat sementara waktu untuk melepas KA 225.

Akan tetapi, PPKA Stasiun Kebayoran tak mau mengalah. Ia tetap memberangkatkan KA 220. PPKA Stasiun Sudimara lantas memerintahkan juru langsir agar KA 225 masuk jalur 3. Ketika akan dilangsir, masinis tidak mampu melihat semboyan yang diberikan juru langsir lantaran penuhnya lokomotif. Masinis KA 225 justru mengira petugas PPKA memberi sinyal untuk berangkat, ia pun membunyikan semboyan 35 dan melanjutkan perjalanan keretanya.

Bencana tak dapat terelakkan. Kedua kereta, patas 220 dan KA 225 bertemu di jalur tikungan S, sekitar 200 meter dari perlintasan Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan. Masing-masing masinis tidak mampu lagi mengendalikan kereta sebelum akhirnya bertabrakan dan menyebabkan kedua kereta hancur lebur. Sedikitnya, sekitar 156 penumpang meninggal dunia akibat tabrakan ini.

Setelah diselidiki lebih lanjut, kecelakaan terjadi akibat faktor human error. Berkembang pula fakta terkait kecelakaan tragis tersebut. Di antaranya adalah:

Petugas Sempat Mengejar KA 225 Sebelum Kereta Bertabrakan
Seharusnya KA 225 dilangsir di jalur 3. Namun karena miskomunikasi, kereta justru berjalan tanpa adanya aba-aba. Akibatnya juru langsir terkejut, ia mengejar kereta dan naik di gerbong paling belakang. Beberapa petugas PPKA ada yang mengejar menggunakan sepeda motor.

Salah seorang petugas PPKA, Djamhari, mencoba menghentikan laju kereta dengan menggerakkan sinyal hingga mengibarkan bendera merah. Apa hasilnya? Gagal total. Ia tertunduk sedih, berjalan kembali ke stasiun dan membunyikan semboyan genta darurat kepada penjaga perlintasan Pondok Betung. Sungguh naas, penjaga perlintasan Pondok Betung tidak menghafal semboyan genta.

Hukuman yang Dijatuhkan
Akibat kecelakaan yang disebut tragedi Bintaro ini, masinis KA 225, Slamet Suradio harus mendekam di balik jeruji besi selama lima tahun. Nasib serupa dialami Adung Syafei, kondektur KA 225. Ia menerima hukuman yang lebih ringan, 2 tahun 6 bulan. Sementara itu, PPKA Stasiun Kebayoran Lama Umrihadi mendapat kurungan 10 bulan.

Bangkai Lokomotif ‘dikubur’
Dua lokomotif yaitu KA 220 dan 225 yang bertabrakan dipindah dari lokasi kejadian dan dikuburkan di Balai Yasa, Yogyakarta. Balai ini merupakan museum bagi lokomotif tua dari seluruh daerah di Pulau Jawa.

Tragedi Diangkat ke Dalam Lagu dan Film Layar Lebar
Tragedi Bintaro betul-betul menyita perhatian seluruh masyarakat Indonesia. Demi mengenang tragedi tersebut, Iwan Fals, seorang musisi ternama tanah air membuat lagu berjudul 19/10 (tanggal peristiwa itu terjadi). Ebiet G Ade menciptakan lagu berjudul Masih Ada Waktu. Dua tahun berselang, peristiwa ini diangkat ke layar lebar oleh sutradara Buce Malawau, dengan judul Tragedi Bintaro. Turut dibintangi Lia Chaidir, Asrul Zulmi dan Ferry Octora.

Topik Berita
Back to top button
Close