Politik “Gincu” dan politik “Rasa”, Menafsir Sikap Politik Yusril dan Ka’ban

Segelas air putih, yang kemudian ditambahi gincu (pewarna) akan kelihatan indah diluar, namun tatkala di cicipi terasa hambar, sebaliknya ketika segelas air putih ditambahi gula, walau kelihatan bening, namun tatkala di cicipi, akan manis rasanya…

Begitulah gaya Berpolitik dari 2 pimpinan PBB. Ketua Majelis Syuro, MS Kaban, lebih mengedepankan gaya berpolitik “Gincu”,sedangkan Ketua Umum, Yusril Ihza Mahendra, lebih mengedepankan gaya Berpolitik “rasa”.

Ka’ban dengan gaya khasnya, senang memberi warna setiap tindakan politik PBB, manis dan indah tampilannya, namun hambar tatkala dirasa. Sebaliknya,Yusril dengan pengalaman dan pengetahuan yang mendalam akan politik, lebih menyukai gaya politik rasa, lebih mementingkan isi daripada tampilan.

Apakah kedua gaya Berpolitik ini salah atau benar, waktulah yang akan menjawabnya.

Gaya Berpolitik keduanya, mengingatkan akan gaya berpolitik Mohammad Natsir dan Mohammad Hatta. Hatta sendiri mengakui bahwa ia lebih senang dengan gaya berpolitik gincu, sebaliknya diapun menilai gaya berpolitik Natsir seperti gaya Berpolitik Rasa.

Sejarah telah tertulis, bahwa paduan gaya Berpolitik keduanya yang mampu meredam gaya politiknya Soekarno yang cenderung mengedepankan berpolitik ala ‘demokrasi terpimpin”.

Mohammad Novel Damopolii
Departemen Komunikasi dan Opini Publik DPP PBB

  • 51
    Shares
Topik Berita