Diduga Main Dua Kaki, PD: Kami akan Carikan Formulanya

Abadikini.com, JAKARTA – Anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra Andre Rosiade menyadari keputusan PD mengizinkan kadernya mendukung Jokowi menimbulkan persepsi miring. Dia menganggap persepsi miring tersebut sebagai dinamika demokrasi.

“Ya, itu biarkan PD yang menyelesaikan persepsi masyarakat yang seperti itu. Wajar kalau ada persepsi masyarakat, persepsi publik melihat PD bermain dua kaki, membiarkan kader-kadernya mendukung Pak Jokowi. Tapi itu kan dinamika demokrasi, ya. Sepenuhnya kami serahkan urusan internal PD ke PD,” ujar Andre kepada wartawan, Minggu (9/9/2018).

Menaggapi hal itu, Kadiv Advokasi Hukum PD, Ferdinand Hutahaean mengatakan PD kini sedang mencari formulanya supada PD tidak disebut main dua kaki di mata publik. diketahui memberikan dispensasi kepada kadernya yang juga Gubernur Papua, Lukas Enembe, untuk mendukung Jokowi. Salah satu alasan Lukas mendapat dispensasi karena mayoritas kader PD di Papua mendukung Jokowi.

“Justru kami akan carikan formulanya supaya tidak disebut dua kaki ya. Tapi kepentingan partai, caleg-calegnya di daerah itu kan harus di ini ya mungkin kita akan meminta kader kami untuk tidak usah masuk secara resmi di tim pemenangan. Mungkin itu salah satu cara kami nanti,” kata Kadiv Advokasi Hukum PD, Ferdinand Hutahaean di kediaman SBY, Jl Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (9/9).

Diketahui memberikan dispensasi kepada kadernya yang juga Gubernur Papua, Lukas Enembe, untuk mendukung Jokowi. Salah satu alasan Lukas mendapat dispensasi karena mayoritas kader PD di Papua mendukung Jokowi. Begitu juga terhadap Deddy Mizwar dan Kader PD di Sulawesi Utara.

Sementara itu, Wasekjen Demokrat Andi Arief menegaskan, partainya tak bermain di dua kaki. Menurut Andi, kadang ada beda keperluan antara Pileg dan Pilpres.

“Kan kita perlunya untuk pileg, jadi misalnya kan sudah dibicarakan juga dengan Pak Prabowo di beberapa daerah yang kita tidak… bukannya main dua kaki tapi memang misalnya kayak di NTT, di Bali, Papua kan memang di sana bukan basis Prabowo,” tutur Andi di kediaman SBY, Jalan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (9/9/2018).

Menurut Andi Arief, apabila di daerah-daerah dengan basis pendukung Prabowo namun Demokrat malah dukung Jokowi, maka hal itu bisa disebut pengkhianatan.

“Namanya pengkhianatan di kita kalau di basis Pak Prabowo kita nggak dukung dia, nah itu baru pengkhianatan,” tutur Andi.

“Kita sifatnya mencari rumusan yang pas saja nanti jadi bukan dikasih dispensasi. Kan ada suara partai harus diperhitungkan supaya baik,” jelasnya. (ak)

Back to top button