Fahri Kicaukan ‘Dosa-dosa Jokowi’ soal Ideologi dan Persatuan

Abadikini.com, JAKARTA – Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mencurigai ada lingkaran anti-Islam dalam kekuasaan Presiden Joko Widodo. Fahri menulis soal itu dalam rangkaian kicaunya di twitter yang ia sebut sebagai dosa-dosa Jokowi di bidang Persatuan dan Ideologi.

“Di antara #Dosa2Jokowi yang besar adalah karena membiarkan berkembangbiaknya elemen #AntiIslam dan #Islamophobia melalui medium konflik ideologi. 10 tahun presiden @SBYudhoyono tidak pernah kita terseret dalam narasi seperti ini. Radikalisasi ini berbahaya bagi NKRI ,” kata Fahri memulai kicauanya soal ‘dosa ideologi Jokowi’.

Fahri kemudian merujuk pada rangkaian Aksi Bela Islam saat Pilkada DKI Jakarta 2017 yang diklaim sejumlah kalangan diikuti oleh jutaan umat Islam.

Aksi Bela Islam digelar sebagai protes terhadap ucapan Basuki Tjahaja Purnama yang dinilai telah menistakan Islam. 

Kata Fahri, aksi protes itu terjadi karena ada nuansa anti-Islam dan Islamophobia dalam kebijakan negara.

Dari Aksi Bela Islam itu, Fahri menyebut ada upaya dari sejumlah pihak untuk membuatnya dilupakan. Muncul pula manuver pro Islam dari pemerintah, namun Fahri menyebut semua upaya itu akan gagal.

“Kosmetika luntur oleh dosa-dosa Jokowi,” tulisnya.

Fahri pun menyinggung fenomena sejumlah tokoh Islam yang berubah pikiran tentang Presiden. Menurutnya, hal itu tetap tak akan membantu Jokowi selama lingkar dalamnya terlalu militan dengan nuansa anti-Islam dan Islamophobia.

“Saya memakai terminologi taubat nasuha,” kata dia.

Menurut dia sampai saat ini belum ada upaya dari pemerintah untuk melakukan taubat nasuha atau tobat yang sebenar-benarnya atas konflik ideologi yang diciptakan di awal masa kekuasaan Jokowi.

“Pencitraan dengan merekrut tokoh Islam dan ulama tidak mengobati luka yang sudah terlalu dalam. HRS (Habib Rizieq Shihab) masih di luar, ulama masih tersangka, dll,” tulis Fahri seperti dikutip dari cnnindonesia, Senin.

Politikus PKS itu juga membandingkan situasi era Jokowi dengan saat Susilo Bambang Yudhoyono memerintah selama 10 tahun. 

Kata Fahri, selama era SBY tak pernah rakyat Indonesia terseret dalam narasi mengenai konflik Ideologi.

Di bagian akhir, Fahri mengatakan kicaunya soal ‘dosa ideologi Jokowi’ sebagai antisipasi terhadap kemungkinan meruncingnya situasi menjelang Pemilu 2019.

“Apalagi pemerintah ini telah mendorong capres semakin sedikit. Jika calonnya hanya dua dapat dibayangkan runcingnya perbedaan,” ujar Fahri.

Dalam kicuannya juga, Fahri berjanji akan membeberkan kembali dosa-dosa Jokowi di bidang politik dan pemerintahan.

Kami masih berupaya untuk menghubungi Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Ali Mochtar Ngabalin yang kerap mewakili Istana untuk mengkonfirmasi pernyataan Fahri Hamzah ini. (ak.cnn)

Baca Juga

Back to top button