Ahli Nuklir Korea Utara yang Membelot ke China Dilaporkan Bunuh Diri Sebelum Sempat Diinterogasi

abadikini.com, PYONGYANG – Seorang ilmuwan nuklir Korea Utara (Korut) dilaporkan bunuh diri di penjara beberapa jam sebelum diinterogasi. Ilmuwan itu sebelumnya dideportasi kembali ke negara asalnya setelah membelot ke China.

Pembelot, yang berusia 50-an tahun, adalah seorang peneliti utama di pusat fisika Academy of Sciences di Pyongyang. Dia diidentifikasi oleh Radio Free Asia (RFA) sebagai Hyun Cheol Huh, tidak diketahui apakah itu adalah nama sebenarnya atau bukan.

Seorang sumber di provinsi North Hamgyong mengatakan kepada RFA bahwa dia dipaksa kembali pada 17 November lalu. Ia kemudian ditempatkan di sel isolasi di departemen keamanan negara di kota Sinuiju, di mana dia kemudian menelan racun.

“Ia meninggal sebelum ditanyai tentang alasan pelariannya, yang telah membantunya dan rutenya,” kata sumber itu seperti dikutip dari Telegraph, Sabtu (30/12/2017).

Menurut sumber tersebut, Hyun telah mengambil cuti dari pekerjaannya karena ia merasa cemas atas proyek penelitiannya.

“Tiba-tiba, dia mengunjungi kerabat dekat perbatasan tanpa memberi tahu keluarganya dan tanpa membawa dokumen yang benar untuk bepergian. Dan ketika dia mengetahui bahwa pihak berwenang mencarinya, dia langsung menghilang,” beber sumber tersebut.

Laporan menunjukkan bahwa Hyun telah berusaha untuk bergabung dengan pembelot lain dan orang-orang China tidak menyadari identitas sebenarnya saat mereka diberi tahu oleh intelijen Korut.

Meskipun menemukan bukti kekejaman hak asasi manusia, telah terjadi lonjakan arus deportasi yang dilaporkan ke Korut dari China, rute pelarian yang paling umum untuk para pembelot.

Pada hari Jumat, Harian NK melaporkan bahwa pasukan perbatasan Korut telah memerintahkan menembak pembelot yang berusaha melarikan diri, bahkan jika mereka telah memasuki wilayah China, atau akan menghadapi regu tembak.

Tindakan keras tersebut mengikuti pembelotan pejabat dengan profil tinggi Oh Chong-song, seorang prajurit muda yang berani berlari menuju kebebasanya tertangkap kamera dan disiarkan ke seluruh dunia.

Perintah tersebut menyatakan bahwa seluruh wilayah perbatasan sekarang harus dianggap sebagai garis depan pertahanan dan diubah menjadi benteng yang tak dapat ditembus.

Tindakan kejam datang dengan korban manusia yang luar biasa. Bulan lalu, pembelot Korut, Taewon Lee (29) mengajukan permohonan bantuan internasional untuk menyelamatkan istri dan anak kecilnya agar tidak dideportasi kembali setelah mereka ditangkap oleh orang China untuk bergabung dengannya di Seoul.

Meskipun dengan putus asa melobi kementerian luar negeri Korea Selatan (Korsel) untuk meminta bantuan, dia menemukan akhir bulan lalu bahwa mereka telah dipaksa kembali ke Korut.

Sedikit yang diketahui tentang nasib mereka, namun dalam sebuah wawancara sebelumnya dengan Telegraph, Lee jelas ketakutan akan kesejahteraan mereka jika mereka kembali.

“Mereka pasti akan dikirim ke kamp penjara. Dalam kasus terburuk, mereka akan terbunuh,” katanya. (gubr.ak/snd)

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button