Terancam oleh Tiga Kapal Induk Korut Minta Restu Rusia Gunakan Nuklir untuk Serang AS

abadikini.com, JAKARTA – Kehadiran tiga kapal Induk Amerika Serikat (AS), USS Ronald Reagan (CVN 76), USS Theodore Rooseveilt (CVN 71) dan USS Nimitz (CVN 68) ke perairan Semenanjung Korea di pertengahan November 2017 ini untuk latihan perang langsung membuat Korut berang.

Korea Utara (Korut) memang sudah berkali-kali mengancam AS jika kekuatan militerya masih saja bertindak sembrono dan secara terang-terangan melakukan latihan perang untuk menggempur Korut, maka rudal nuklir Korut akan segera dilepaskan menuju daratan AS.

Kehadiran tiga kapal induk AS ke kawasan Laut Pasifik yang sudah dalam formasi siap tempur (battle group) itu memang terkait dengan kegiatan lawatan Presiden AS Donald Trump ke negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan (Korsel), China, Vietnam, dan Filipina.

Intinya kunjungan Presiden Trump ke Asia adalah untuk mendapatkan dukungan politik terkait konflik AS-Korut yang hanya memiliki dua pilihan, yakni diselesaikan melalui peperangan atau solusi damai.

Di depan para pemimpin negara Asia Pasifik di KTT APEC, Vietnam (10-11/11/2017), Presiden Trump saat berpidato telah menekan bahwa solusi damai demi menyelesaikan masalah Korut-AS tetap yang paling utama.

“Tidak menutup kemungkinan bahwa kelak, akhirnya saya dengan Kim Jong Un malah bisa saling bersahabat,” tegas Presiden Trump seperti dikutip cnn.com.

Tapi rupanya keinginan Presiden Trump untuk menyelesaikan konflik Korut-AS secara damai sama sekali tidak digubris oleh Korut.

Korut tetap menilai bahwa kehadiran tiga kapal induk AS dan kapal-kapal perang pengiringnya ke perairan Semenanjung Korea sambil melakukan latihan perang jelas-jelas merupakan tindakan provokasi untuk menyerang Korut “kapan saja”.

Untuk menunjukkan bahwa Korut tidak takut sekaligus mencerminkan Korut siap menggempur AS menggunakan rudal nuklir, Korut bahkan telah mengirim surat ke Rusia.

Surat yang dikirim ke Kremlin itu pada intinya memberi tahu jika Korut melakukan serangan nuklir ke AS, sebaiknya Rusia “tidak terkejut dan memberi restu”.

Tapi anehnya, pihak Kremlin belum menganggap surat pemberitahuan dari Korut itu serius.

Pemerintah Rusia bahkan cenderung tidak menggubris surat dari Korut itu karena tidak mau dimanfaatkan oleh Korut sebagai agen propaganda.

Namun, untuk mengantisipasi hal yang terburuk, Presiden Rusia, Vladimir Putin, telah memberikan pesan khusus kepada Presiden Trump saat bertemu di Vietnam, pada Jumat (10/11/2017), agar AS mengambil sikap “lebih bijaksana” terhadap Korut. (beng.ak/iso)

Baca Juga

Back to top button