Intelijen AS Enggan Akui Penembakan Las Vegas sebagai Kegagalan Intelijen

abadikini.com, JAKARTA – Meskipun pemerintah Amerika Serikat (AS) enggan mengakui penembakan brutal yang mengakibatkan 58 korban tewas dan ratusan lainnya luka-luka sebagai aksi terorisme, masyarakat AS sesungguhnya sangat terteror oleh ulah Paddock.

Apalagi setelah satu minggu aksi pembantian brutal di Las Vegas ternyata belum terkuak motivasi Paddock. Sementara di sisi lain kepolisian Las Vegas memiliki bukti kuat berupa puluhan senjata, mayat Paddock, korban tewas dan luka-luka, puluhan saksi mata, dan lainnya.

Bahkan untuk mengakui aksi brutal Paddock sebagai tindakan terorisme saja merupakan hal yang sulit bagi pemerintah AS, mengingat pemerintah AS selama ini selalu mengkondisikan bahwa terorime tidak mungkin muncul di masyarakat AS sendiri.

Apalagi AS merupakan motor utama dalam upaya memerangi terorisme global. Maka munculnya aksi terorime di dalam negeri AS sendiri, apalagi dilakukan oleh orang kulit putih, dianggap hal yang mustahil.

Tapi aksi terorisme yang terjadi di dalam negeri AS dan dilakukan oleh warga kulit putih sebenarnya pernah terjadi dan mengakibatkan mala petaka yang lebih besar dibandingkan aksi penembakan brutal di Las Vegas.

Sedikitnya AS pernah mengalami dua aksi terorisme yang mengguncang dunia internasional yakni  pengeboman di Oklahoma pada 19 April 1995 dan dan serangan terorisme di New York pada 11 September 2001.

Dari kedua serangan teror itu ratusan hingga ribuan orang  telah tewas.

Serangan teror yang membuat seluruh warga AS trauma itu selain menunjukkan bahwa aksi terorisme bisa terjadi  kapan saja di dalam negeri AS, sekaligus menunjukkan bahwa intelijen AS lemah dalam melakukan antisipasi.

Kasus penembakkan brutal yang mengakibatkan sejumlah korban tewas  karena dilakukan oleh satu orang, sebenarnya juga sudah sering terjadi di AS bahkan merupakan “hal yang biasa”.

Sebelum penembakan brutal di Las Vegas, AS pernah diguncang  penembakan brutal di Orlando, Florida, pada 12 Juni 2016 yang mengakibatkan sekitar 50 orang tewas.

Pada Januari 2017 juga terjadi aksi penembakan di Bandara Fort Lauderdale, Florida, oleh satu pelaku dan mengakibatkan lima orang tewas.

Tapi khusus aksi penembakan brutal yang terjadi di Las Vegas seharusnya bisa dicegah karena Paddock yang membawa lebih 20 senapan serbu ke kamar hotel Mandalay Bay sebenarnya mudah dideteksi oleh petugas keamanan.

Paddock pasti berulang kali masuk keluar hotel dengan barang bawaan yang patut dicurigai.

Pasalnya hampir semua warga AS di Las Vegas paham betul beragam senjata api dan meskipun senjata itu tidak dibawa dalam tas khusus senjata, adanya senjata api laras panjang di dalam tas biasanya mudah diketahui berdasarkan naluri.

Apalagi Paddock juga sempat memasang kamera pengintai dan mengatur kamarnya seperti “benteng pertahanan”, tapi anehnya ulah tak lazim Paddock itu ternyata bisa lolos dari pengawasan petugas hotel.

Lalu  bagaimana petugas  hotel yang biasa melakukan pengecekan atau membersihkan kamar setiap hari sampai tidak tahu atau curiga?

Pada titik ini Paddock memang menjadi orang yang mujur karena bisa dikatakan telah berhasil mengelabuhi petugas hotel.

Apalagi dengan tampangnya yang “sudah kakek-kakek”, Paddock memang tidak layak dicurigai sebagai seorang “teroris”.

Kelihaian Paddock dalam upaya mengelabuhi petugas hotel itulah yang menjadi pemicu terjadinya penembakan brutal di Las Vegas karena fungsi intelijen di tingkat terbawah ternyata  tidak bisa berjalan normal.

Dalam proses kerjanya para agen CIA atau FBI memang hanya akan bisa maksimal jika mendapat laporan atau bantuan dari orang-orang yang bekerja “rendahan” seperti karyawan hotel, karyawan bandar udara, stasiun-stasiun kereta api, sopir taksi, dan lainnya.

Jika perangkat intelijen terbawah itu tidak berfungsi maka para agen CIA dan FBI hanya seperti macan ompong dan lemah.

Pasalnya mereka sama sekali menjadi tidak berdaya untuk mengantisipasi aksi terorisme yang terjadi di dalam negeri sendiri.  (beng.ak/iso)

Baca Juga

Back to top button