Inilah Yang Tidak Diketahui Rakyat, Transaksi Uang Dibalik Lobi-Lobi Politik

abadikini.com, SURABAYA-  Praktik politik uang dalam perpolitikan nasional, saat ini seringkali disalahartikan sebagai praktik yang wajar. Tidak hanya dalam hal meraih suara, praktik kotor tersebut diduga juga sudah terjadi sejak lobi-lobi politik untuk menentukan koalisi dan Pasangan Calon dalam Pilkada.

Dimintai pendapatnya terkait potensi adanya mahar politik dan transaksional politis di balik bursa Paslon pada partai koalisi, pakar politik asal Unair Kris Nugroho mengatakan bahwa proses transaksional politik merupakan hal yang wajar. Karena, proses politik selalu dinamis dan mengikuti perkembangan.

“Jadi, kalau hanya transaksional politik, itu nggak masalah. Biasanya kan yang menjadi masalah. Itu yang harus diawasi,” kata Kris.

 

Dosen FISIP Unair tersebut menambahkan, maraknya proses mahar politik tersebut terjadi karena saat ini partai-partai politik yang ada tidak memiliki landasan yang kuat. “Sehingga, untuk mengikat kadernya ya salah satunya uang itu. Harusnya proses kaderisasi harus bisa benar-benar berjalan. Sehingga, landasan dari suatu partai politik bisa berjalan dengan baik,” pungkasnya

Sementara itu dikonfirmasi terpisah, Ketua DPW PPP Jawa Timur Musyafak Noer meyakinkan bahwa tidak akan ada deal-deal menyangkut uang dalam pemilihan Paslon di lingkungan partai koalisi yang digagas oleh partainya kelak. Musyafak pun tidak mengelak bahwa saat ini PPP sudah dekat untuk masuk dalam gerbong koalisi Khofifah.

“Memang sementara ini seperti itu (Khofifah). Untuk transaksional politis, itu pasti ada. Politik ini dinamis. Hanya saja, kalau sampai menggunakan uang, itu tidak mungkin. Sangat tidak mungkin,” kata Musyafak.

Hal tersebut, menurut Musyafak, dikarenakan Cawagub merupakan partner bekerja bagi seorang Cagub nantinya. Sehingga, pemilihan sosok yang tepat perlu untuk benar-benar dilakukan dan tidak berdasar pada kekuatan materi belaka. “Terlebih lagi di massa pemilihan. Ini harus yang bisa mendongkrak suara. Punya uang saja tidak cukup,” tegasnya. ifw (beng.ak)

Back to top button