Besok MPR RI Gelar Seminar Nasional “Mosi Integral M. Natsir Upaya Pemersatu Bangsa”

abadikini.com, JAKARTA – Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) menggelar Seminar Nasional: “Mosi Integral M. Natsir Upaya Pemersatu Bangsa,” di Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika No. 64 Bandung, pukul 13.00 WIB sampai dengan selesai, Sabtu (5/8/2017).

Ketua MPR RI Zulkifli Hasan dijadwalkan sebagai keynote speaker pada seminar yang digelar besok.

Sedangkan yang direncanakan hadir sebagai narasumber besok diantaranya: Prof. Dr. Dadan Wildan, M.Hum. (Persatuan Islam), Drs. Mohammad Siddik, M.A. (Dewan Dakwah Islamiyah), Usep Fathuddien (Mathlaul Anwar), Prof. Dr. Sanusi Uwes, M.Pd. (Muhammadiyah), Achmad Fauzie Natsir (Putra M. Natsir) serta Dr. Ir. Teuku Abdullah Sanny,  M.Sc., Ph.D (Sekretaris Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) selaku moderator.

Seminar Nasional: “Mosi Integral M. Natsir Upaya Pemersatu Bangsa”, Sabtu (5/8/2017).

“Indonesia sebenarnya memiliki ‘dua proklamasi’. Pertama,Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 sebagai pernyataan bahwa penjajahan terhadap bangsa Indonesia telah berakhir dan bangsa ini menyatakan kemerdekaannya. Kedua, Proklamasi Berdirinya NKRI pada 17 Agustus 1950 sebagai pernyataan bubarnya 16 negara bagian, termasuk RI, dan melebur ke dalam negara baru bernama NKRI,” seperti ditulis oleh Lukman Hakiem – Mantan Staf M. Natsir dan Mantan Anggota DPR RI (Republika Online 3 April 2017).

Mosi Integral adalah sebuah keputusan parlemen mengenai kesatuan sebuah negara. Sedangkan Mosi Intergral Natsir merupakan sebuah hasil keputusan parlemen mengenai bersatunya kembalinya sistem pemerintahan Indonesia dalam sebuah kesatuan yang digagas oleh Mohammad Natsir.

Mosi ini tidak lahir begitu saja. Terjadinya perdebatan di Parlemen Sementara Republik Indonesia Serikat (RIS) adalah merupakan titik kulminasi aspirasi masyarakat Indonesia yang kecewa terhadap hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) yang berlangsung di Den Haag, Belanda, 23 Agustus – 2 November 1949.

Dalam pengajuannya ke parlemn banyak yang menolak. Pihak yang termasuk menolak hasil KMB adalah Natsir yang waktu itu Menteri Penerangan (Menpen) dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim. Natsir menolak jabatan Menpen dan memilih berkonsentrasi memimpin Fraksi Masyumi di DPR-RIS. Salah satu alasan Natsir menolak jabatan itu adalah karena ia tak setuju Irian Barat tak dimasukkan ke dalam RIS.

Perdana Menteri (PM) RIS Mohammad Hatta menugaskan Natsir dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX melakukan lobi untuk menyelesaikan berbagai krisis di daerah. Pengalaman keliling daerah menambah jaringan Natsir. Selain itu, kecakapannya berunding dengan para pemimpin fraksi di Parlemen RIS, seperti IJ Kasimo dari Fraksi Partai Katolik dan AM Tambunan dari Partai Kristen, telah mendorong Natsir ke satu kesimpulan, negara-negara bagian itu mau membubarkan diri untuk bersatu dengan Yogya—maksudnya RI—asal jangan disuruh bubar sendiri.

Lobi Natsir ke pimpinan fraksi di Parlemen Sementara RIS dan pendekatannya ke daerah-daerah lalu ia formulasikan dalam dua kata ”Mosi Integral” dan disampaikan ke Parlemen 3 April 1950. Mosi diterima baik oleh pemerintah dan PM Mohammad Hatta menegaskan akan menggunakan mosi integral sebagai pedoman dalam memecahkan persoalan. (beng.ak)

 

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button