Inilah Kisah Cinta Calon Walikota Tasik Dicky Candranegara dan Rani

abadikini.com – SELEBRITI – Raden Diky Candranegara atau Dicky Chandra lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 12 Mei 1974. Dia dikenal sebagai  sebagai pelawak, MC, sutradara, penulis naskah dan aktor dalam dunia hiburan di tanah air. Pernah jadi wakil bupati Garut periode 2009-2013. Karena beda prinsip dengan Aceng Fikri ia mengundurkan diri pada tahun 2011. Pada tahun 2016 dia mencalnkan diri sebagai calon Wali Kota Tasikmalaya berpasangan dengan Deni Romdani alias Udeng. Dicky-Denny diusung Partai Bulan Bintang (PBB) dan PDIP.

Bagaimana kehidupan Dicky? Berikut kisahnya. Dicky menikahi Rani Permata setelah dua bulan pacaran. Rani adalah janda yang memiliki satu orang anak. Meski demikian, rumah tangga mereka bahagia dan kini telah  telah mengarungi bahtera rumah tangga selama 17 tahun.

Bagaimana resepnya sehingga rumah tangga mereka langgeng? Dicky menceritakan kisah perjalanan rumah tangganya dengan Rani , Pria bertahi lalat ini mengaku awal berjumpa dengan Rani pada tahun 1999. Sama-sama berprofesi sebagai pemain sinetron. Ternyata kisah di sinetron berlanjut dalam kehidupan nyata. Keduanya saling jatuh cinta. “Waktu itu lagi syuting sinetron Pilar-Pilar Kasih, kita jadi pasangan. Saya tahu Rani janda beranak satu, tapi statusnya tidak saya lihat yang penting saya mencintai dia,” aku Dicky.

Setelah syuting sinetron tersebut selesai, Dicky semakin intens mendekati Rani hingga akhirnya berpacaran selama dua bulan. Tak hanya Rani yang coba ia kenal, sosok putri pertama Rani yakni Cindy Arlinda yang masih berusia empat tahun juga didekati Dicky yang mudah beradaptasi. “Deketin anaknya biasa saja,” jawab Dicky

Dua bulan berpacaran, Dicky langsung yakin  menikahi Rani, setelah mendapat restu dari keluarga ia mantap untuk melamar Rani. “Keluarga menyetujui saya menikahi Rani dan saya langsung menelepon Rani untuk mengajak menikah,” kenang Dicky yang sempat dianggap bercanda ketika mengajak menikah Rani. Usai menelepon, dengan niat yang besar akhirnya Dicky berangkat dari Yogyakarta menuju Jakarta untuk melamar Rani. Dicky seorang diri bertemu dengan orangtua Rani.

Rani sempat kaget karena status yang disandangnya bukan menjadi batu sandungan pernikahan dengan Dicky. “Kaget tiba-tiba diajak nikah, padahal aku seorang janda anak satu,” tutur Rani sembari menatap Dicky yang berada di sampingnya. Akhirnya 5 Juli 1999, di Ciamis Jawa Barat pasangan ini resmi diikat jadi suami istri.

Setelah menikah Dicky dan Rani tetap menjalankan profesi mereka sebagai pemain sinetron. Walaupun berada di dunia hiburan, mereka berdua sepakat untuk tidak mencoba hal-hal yang identik dengan kaum selebritas seperti pesta, alkohol sampai narkotika yang di akhir tahun 90-an sangat ngetren. “Jangan sampai masuk dunia entertainment menjadi kesalahan, karena kita berdua saling mengingatkan untuk sama-sama menjauhi hal-hal yang buruk,” tegas Rani.

Setelah menikah, mereka tidak melakukan bulan madu. Karena bagi keduanya, bulan madu bukanlah sebuah kebutuhan. Bagi Dicky dan Rani justru malam Jumat dianggap sebagai waktu bulan madu. “Bulan madu setiap hari buat kami, khususnya setiap malam Jumat kan Sunah Rasul,” kelakar Dicky tertawa.

Dua bulan mengenal sebelum menikah memang terbilang sangat singkat. Mengingat keduanya masih belum mengetahui karakter masing-masing. Walaupun begitu, hal tersebut tidak mmenjadi hambatan melainkan sebagai wahana untuk saling mengenal dan berusaha menerima kekurangan pasangan lain. “Saya mau dinikahi suami saya bukan karena kelebihan tetapi saya menerima kekurangan dia juga,” imbuh Rani yang memanggil Dicky dengan sebutan Akang.

Perbedaan watak antara Dicky dan Rani terlihat jelas, pasalnya Dicky justru lebih cuek dibandingkan istrinya. Terlebih untuk urusan anak-anak, Rani mengambil posisi lebih dominan, misal ketika anak sakit atau pun urusan sekolah anak. “Dia lebih cuek sama saya kadang kurang peka,” papar wanita berkulit putih ini. Ditambahkan Dicky, ia menilai istrinya lebih sabar karena memiliki dasar agama yang kuat. “Ilmu agamanya kuat,” jawab Dicky santai.

Seiring waktu berjalan, pertengkaran kerap muncul menyelimuti pasangan yang sama-sama berasal dari Jawa Barat ini. Pertengkaran biasanya terlecut karena hal-hal sepele sampai urusan sekolah keempat anak mereka. Pertengkaran yang terjadi dianggap sebagai proses untuk mencari solusi sehingga masalah cepat selesai.

“Pertengkaran merupakan pendidikan untuk jadi lebih dewasa,” tutur Rani yang lebih sering mengalah dibandingkan Dicky. Mereka pun ketika bertengkar selalu melihat situasi dan kondisi, misalnya jika memang harus adu mulut keduanya memperhatikan lingkungan sekitar termasuk kehadiran anak-anak mereka. “Paling anti bertengkar di depan anak,” jelas Rani.

Dicky dan Rani yang merupakan anak sulung dalam keluarga memiliki jiwa pemimpin, namun ketika menikah keduanya sama-sama menjaga emosi dan keegoisan agar jika bertengkar tidak membuat masalah semakin berlarut-larut.

Ekonomi yang Sulit. Dicky bercerita ketika mulai membangun karier, ia membutuhkan uang yang banyak untuk menyekolahkan anak-anaknya. Suatu waktu Dicky pernah ditawari membintangi sinetron dengan peran seorang pria yang gemar memeluk lawan jenisnya. Honornya pun cukup besar, tetapi Dicky ternyata tidak gegabah untuk langsung mengambil pekerjaan itu. Ia sadar jika anak-anaknya kerap cemburu ketika melihat ayahnya beradu akting dengan lawan jenisnya. “Anak suka cemburu lihat saya pelukan sama perempuan lain selain sama ibu mereka,” jawab Dicky tersenyum. Karena itu, Dicky pun memutuskan tidak mengambil peran tersebut demi keluarganya.

Bekerja di dunia entertainment tentu membuat tidak menentu penghasilannya. Bahkan bisa berbulan-bulan tak mendapatkan penghasilan sama sekali. Menghadapi masa sulit itu, Dicky mencoba menjadi penulis buku dan cerita pendek. Walaupun demikian, honornya sangat sedikit. Suatu waktu, salah satu anak harus masuk sekolah namun Dicky tidak memiliki uang. Alhasil ia malah meminjam uang dari rekan kerjanya seorang cameraman.

Keadaan ekonomi yang sulit pun kembali dialami Dicky dan sekeluarga, di penghujung tahun 2012, Dicky mengundurkan diri sebagai wakil Bupati Garut. Selama enam bulan tidak memiliki pekerjaan dan pemasukan keluarga mandeg. “Akang Dicky sempat vakum enam bulan dan ia bingung mau kerja apa karena ini mendadak,” tukas Rani mengingat masa sulit itu. Memiliki dasar agama yang kuat, alhasil keduanya hanya bisa berdoa agar dibukakan pintu rejeki, sehingga Dicky tiba-tiba diminta aktor senior Deddy Mizwar menjadi sutradara. Hal ini membuat kehidupan ekonomi keluarga pun membaik. Dari honor menjadi sutradara Dicky bisa membeli sebuah mobil Nissan Serena dan merenovasi rumahnya di kawasan Cileungsi, Jawa Barat. Walaupun begitu, ia bersyukur dengan fase-fase sulit yang pernah dialami itu.

Sebagai kepala keluarga, Dicky bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarganya. Komitmen mereka, tugas mencari nafkah adalah tanggung jawab suami. Meskipun Dicky tidak pernah melarang istrinya mencari tambahan uang dengan bekerja. “Saya bekerja untuk keluarga bukan untuk saya pribadi dan Akang Dicky tidak pernah memaksakan saya bekerja juga,” imbuh Rani yang pernah mendapatkan tanda jasa penghargaan Lencana Kebaktian Sosial dari Presiden SBY tahun 2011.

Keuangan keluarga hingga urusan kontrak kerja yang diperoleh Dicky, semuanya diurusi Rani. “Dia itu Kapolda kepanjangan dari Kepala Polisi Dapur,” canda Dicky terhadap istrinya. Bagi keduanya, terbuka dalam masalah keuangan keluarga merupakan hal penting. Tak hanya penghasilan yang diketahui oleh Rani, mereka pun saling mengetahui rekening tabungan masing-masing. Mereka tidak pernah bertengkar dalam urusan finansial. Keduanya berusaha saling memberi tahu tentang kebutuhan masing-masing.

Hidup Sederhana. Empat belas tahun menikah Dicky dan Rani dikaruniai empat orang anak. Cindy Arlinda yang kini bersekolah di SMAN 2 Garut, Jawa Barat yang merupakan anak Rani dari pernikahan terdahulu. Walaupun demikian, Dicky telah menganggap Cindy sebagai anaknya sendiri. Sementara anak kedua yakni Diffa Mahacandra sekolah di SMP Muhammadiyah. Lalu Dzikry Candranegara di SDN 6 Cielungsi, dan si bungsu Dzikra Fitir Chandra sedang duduk di bangku Taman Kanak-Kanak.

Terlahir dari orangtua artis ternyata anak-anak mereka hidup sederhana. Salah satunya dengan tidak terus menerus menggunakan mobil pribadi dalam beraktivitas sehari-hari. Karena Dicky hanya memiliki sebuah mobil saja. “Karena tidak ada mobil lebih, jadi anak-anak naik angkot kalau ke mana-mana,” tutur Dicky. (admin.ak)

 

sumber: feme

Baca Juga

Back to top button