Maraknya Aksi Terorisme, Karena Negara Dinilai Gagal Memastikan Kesejahteraan Warganya

abadikini.com, JAKARTA – Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional sekaligus peneliti senior LIPI, Hermawan Sulistyo, mengatakan aksi terorisme yang terjadi di Indonesia dipicu oleh kegagalan negara dalam memastikan kesejahteraan warganya. Hermawan menghubungkan aksi teror ini dengan konflik tak kunjung reda yang melanda kawasan Timur Tengah. Kehadiran negara tak dirasakan sehingga memantik gerakan radikal dan separatis.

“Saya percaya penyebabnya itu karena negara gagal. Kemarin pernyataan terakhir perpisahannya Presiden Obama itu menyebut, Amerika enggak pernah kalah kok, enggak ada negara lain yang menyerbu, Cina, Rusia, semua dia sebut. Lalu kenapa ada bom? Itu kan dari negara gagal, failed state, negara gagal di Timur Tengah yang kemudian konfliknya enggak jelas,” kata Hermawan dalam sebuah diskusi publik di Graha Widya LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (22/1/2016).

Ia memastikan dari banyak “pengantin” bom bunuh diri serta pelaku teror lain, termasuk yang terjadi di Jalan MH Thamrin beberapa waktu lalu, tidak ada kalangan menengah ke atas yang menjadi salah satu pelaku. Hal ini mengonfirmasi bahwa pemicu gerakan radikal dan aksi teror tidak murni karena ideologi, tetapi juga ada motif sosial ekonomi.

“Yang aneh buat saya, kenapa ada orang yang mau bergabung juga, karena negaranya gagal. Jadi, komunitasnya gagal untuk menjamin itu. Enggak ada pengebom ini yang kelas menengah ke atas. Coba lihat semua datanya, menengah ke bawah dan banyak yang makan saja susah,” ujar Herman.

Para anggota organisasi radikal yang menjadi otak aksi teror ini diketahui mendapat suntikan dana dari organisasi induk yang lebih besar, misalnya ISIS dan Al-Qaeda. Meskipun aksi teror yang pecah di Tanah Air mirip dengan yang terjadi di Timur-Tengah, bumbu agama tetap ada.
“Konflik dengan kekerasan itu kan biasa di Asia Tengah dan di Timur Tengah. Masalah negara gagal dulu ketika Uni Soviet pecah, sampai sekarang masih bertarung. Cuma di sana kan lebih motif ekonomi, lebih motif kekuasaan politik, di kita dibumbui dengan warna agama,” ungkap Hermawan.(udin.ak)

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker