Jenderal Prabowo Undercover II

Isu dan kontroversi seputar pencapresan Prabowo terus bergulir. Benarkah Prabowo sesungguhnya ingin dan bersedia menjadi cawapres Jokowi? Wakil Ketua Umum Gerindra Fadlizon dengan tegas membantah isu yang dihembuskan oleh Ketua Umum PPP M Romahurmuziy (Romy) itu.

“Enggak bener alias fiktif.  @MRomahurmuziy urus partai dan capresnya sendiri saja, jangan sok tau,” tulis Fadli Zon melalui akunnya Minggu (15/4). Yang Sudah menjadi fakta, kata Fadli, Prabowo saat ini telah menjadi capres yang diusung Partai Gerindra.

Bantahan yang sama juga datang dari Presiden PKS M Sohibul Iman. Berdasarkan pengakuan Prabowo kepada Sohibul, justru Jokowi yang berkali-kali menawarkan posisi cawapres. Yang membawa pesan tersebut adalah Menko Maritim Luhut B Panjaitan. Ada dua jawaban Prabowo yang diingat betul oleh Sohibul setiap kali bertemu Luhut. “Beliau (Prabowo) sampaikan kepada saya, beliau menjawab ‘Itu tidak mungkin, tidak mungkin’,” kata Sohibul Minggu (15/4/2018).

Tak putus asa dengan penolakan Prabowo, Luhut masih terus berusaha meyakinkan. Sohibul kemudian secara spesifik menuturkan percakapan Luhut dengan Prabowo.’Wo, udah kalau kamu jadi cawapresnya Pak Jokowi, ini nanti semua bereslah gampang. Capres-cawapres ini dengan mudah bisa direalisasikan. Presidennya Jokowi dan wapresnya kamu.”

Prabowo, tambah Sohibul tetap menolak. “Bang, abang jangan underestimatebahwa kalau Jokowi dengan Prabowo bersatu, itu belum tentu ada yang bisa mengalahkan. Nanti pasti ada calon yang bisa mengalahkan dan kalau Jokowi-Prabowo kalah oleh calon yang tidak diperhitungkan atau underdog, itu lebih memalukan. Seperti di DKI,” tegas Prabowo kepada Luhut.

Dengan cerita tersebut Sohibul sangat yakin, Prabowo tidak mungkin mau dibujuk, diiming-imingi.

Sampai disini cerita Sohibul maupun Romy, sama. Benar bahwa Jokowi dengan alasan mencegah perpecahan dan menjaga keutuhan NKRI, menawarkan untuk berpasangan dalam Pilpres 2019 sebagai capres-cawapres.Yang berbeda adalah pada detil ceritanya.

Pertama, menurut Sohibul yang berkali-kali menemui Prabowo adalah Luhut. Sementara versi Romy pada bulan November 2017 Prabowo pernah dua kali bertemu dengan Jokowi dan menyambut positif gagasan tersebut.

Romy tidak menyebut soal Luhut dan juga tidak menyebutkan dimana Jokowi bertemu dengan Prabowo. Media mencatat Jokowi dan Prabowo pernah bertemu beberapa kali. Prabowo pernah menyambangi Jokowi di Istana Merdeka dan Istana Bogor. Sementara Jokowi pernah mengunjungi kediaman Prabowo di Hambalang, Bogor. Keduanya bahkan sempat berkuda bersama. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 2015 dan 2016.

Kedua, Sohibul menyatakan Prabowo dalam setiap pertemuan dengan Luhut selalu dengan tegas menolak tawaran Jokowi. Pertemuan Luhut dengan Prabowo yang terekspos ke publik berlangsung di sebuah restoran di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Jumat (6/4).

Sementara versi Romy dua pekan lalu, utusan Prabowo menemui Jokowi untuk menanyakan kepastian apakah tawaran menjadi cawapres itu jadi atau tidak. Romy menyatakan itu di Semarang, Sabtu (14/4). Jadi kira-kira pertemuan tersebut terjadi pada akhir Maret, atau awal April.

Romy secara spesifik menyebut bahwa utusan Prabowo itu bukan jalur Gerindra. Dengan pernyataan ini Romy tampaknya ingin menegaskan bahwa internal Gerindra tidak tahu menahu “misi rahasia” tersebut.

Masih menurut Romy, Jokowi tidak bisa memberi kepastian karena belum bicara dengan para ketua umum partai pendukungnya. Dari pembicaraan Jokowi dengan para ketua umum partai sebelumnya, hanya Romy yang menyatakan setuju. Yang lain menolak.

Bila menggunakan penjelasan Romy, maka kronologinya sbb :

  • November 2017 Jokowi-Prabowo bertemu sebanyak dua kali. Jokowi menawarkan posisi cawapres, dan Prabowo menyambut positif.
  • Jokowi bertanya kepada para ketua umum partai pendukung, hanya Romy yang setuju.
    Akhir Maret atau awal April, utusan Prabowo menemui Jokowi menanyakan kelanjutan rencana mereka untuk berpasangan sebagai capres-cawapres.
  • Jumat (6/4) Luhut bertemu dengan Prabowo di Grand Hyatt.
  • Sehari kemudian Sabtu (7/4) ketika berbicara dalam sebuah forum Golkar Luhut menyatakan dalam pertemuan tersebut dia mendorong Prabowo maju sebagai capres.
  • Namun keesokan harinya, Minggu (8/4) Luhut membantah pernah mendorong Prabowo. Menurutnya, dia mempersilakan bila Prabowo ingin nyapres.
  • Rabu (11/4) Prabowo menerima mandat Partai Gerindra menjadi capres 2019.

Nah siapa yang benar. Apakah Romy, atau Fadli Zon dan Sohibul? Ketiganya figur publik. Seharusnya ucapannya bisa dipertanggungjawabkan.

Ketika bicara dalam penutupan pada puncak peringatan Harlah PPP ke-45 di Semarang, Sabtu (14/6) Jokowi seakan membenarkan pernyataan Romy.

“Itulah Pak Romy yang hampir tiap hari, hampir tiap minggu ketemu dengan saya. Diskusi masalah partai, diskusi masalah cawapres. Selain itu ada juga diskusi masalah partai mana yang akan bergabung di koalisi mendukung,” tutur Jokowi.

Dengan pernyataan tersebut Jokowi mengkonfirmasi bahwa Romy termasuk sering diajak bicara, soal-soal yang sangat strategis dan confidential. Masalah apakah detil pembicaraan yang dibocorkan Romy tentang Prabowo itu benar atau tidak? Jokowi tidak langsung menjawab. Dia hanya menyatakan “Jadi kalau pak Romy sering membocorkan ke media, yang tanggung jawab Pak Romy,” ujar Jokowi ringan. Tidak ada teguran, penyesalan atau bantahan atas pernyataan Romy.

Belum lama berselang Romy juga membocorkan akan ada dua partai baru yang bergabung dengan Poros Jokowi. Info tersebut cukup valid, karena tak lama kemudian PKB menyatakan bergabung dengan Jokowi. Satu lagi partai yang mempunyai ciri warna biru, belum bergabung.

Agar afdhol dan berimbang, sebaiknya kita menunggu bagaimana komentar dan penjelasan Prabowo. Jangan terlalu cepat menyimpulkan. Sebab menggunakan penjelasan Romy, Fadli Zon tidak tahu menahu. Sementara Sohibul juga hanya mendapat cerita dari Prabowo.

Sangat sensitif
Pernyataan Romy ini harus dibikin terang benderang. Bila tidak, dampaknya akan sangat buruk bukan hanya bagi Prabowo maupun partai pendukungnya. Lebih buruk lagi bagi proses demokrasi yang tengah tumbuh di Indonesia.

Publik bisa saja menilai Prabowo bermain mata dengan Jokowi. Reputasi Prabowo sebagai patriot, nasionalis, dan dekat dengan umat bisa hancur. Prabowo bisa kehilangan kredibilitas dan kepercayaan baik dari para pendukung Gerindra, mitra dan calon mitra koalisi, dan lebih buruk lagi kehilangan kepercayaan dari publik.

Publik bisa saja mengambil kesimpulan, bahwa elit politik telah berselingkuh di belakang layar. Mereka membangun kartel.politik dan menjadikan pemilu seperti pasar yang bersifat oligopoli. Memaksa rakyat hanya memiliki pilihan yang sangat terbatas : Jokowi, atau Prabowo. Siapa yang kalah, dan siapa yang menang, tidak penting. Setelah itu mereka baku atur, bagi-bagi kekuasaan, bagi-bagi proyek.

Rakyat pemilih, karena naif dan terlalu bersemangat mendukung salah satu diantaranya, terbelah dalam kelompok-kelompok perkubuan, gontok-gontokan, saling hujat, dan saling maki.

Please Jenderal Prabowo, publik menunggu penjelasan Anda.

Hersubeno Arief

  • 3
    Shares
Sumber Berita
Hersubeno Arief
Topik Berita

Baca Juga