Marianus Sae ‘Ahok-nya’ Kabupaten Ngada yang Kini Terciduk OTT KPK

Abadikini.com, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap kepala daerah beserta beberapa kepala dinas Nusa Tenggara Timur dalam sebuah operasi tangkap tangan (OTT). Kepala daerah yang ditangkap adalah Bupati Ngada, Marianus Sae yang juga kebetulan sebagai bakal calon gubernur pada pilkada 2018 tahun ini. Marianus Sae maju sebagai bakal calon gubernur berpasangan dengan Emi Nomleni yang di usung PDIP dan PKB.

Marianus Sae disebut-sebut sebagai ‘Ahok-nya’ Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, karena terkenal dengan ketegasannya. Dia rajin blusukan dan disiplin pada anak buahnya.

Dalam blog pribadi saat maju sebagai bupati tahun 2010, ada cerita tentang perjalanan hidup Marianus. Dia sempat putus sekolah ketika SMP, namun terus berjuang hingga akhirnya jadi pengusaha dan bupati.

Marianus Sae lahir di Kampung Bobajo, Kelurahan Mangulewa, Kecamatan Golewa, Ngada, pada tanggal 8 Mei 1962 dari pasangan Yohanes Da’e (asal Turenaru) dan Virmina Redo (asal Bobajo). Dia sempat bersekolah di SDK Bejo hingga kelas 4 dan menamatkan pendidikan di SDK Bajawa 1. Lalu, dia melanjutkan ke SMP PGRI Bajawa, namun karena himpitan ekonomi, dia terpaksa berhenti selama 4 tahun.

Marianus Sae pernah menjadi karyawan Asuransi Bumi Asih Jaya Kupang, sejak tahun 1986 -1988. Setelah bekerja di perusahaan asuransi tersebut, Ia menjadi karyawan PT. Interpack Jasa Tama Cabang Denpasar dari tahun 1988 hingga 1990.

Tidak hanya menjadi karyawan, ia juga pernah bekerja sama dengan investor asal Australia namun gagal. Gagal menjadi pengusaha, Marianus Sae pindah ke Kalimantan. Namun setahun berselang, Marianus kembali ke NTT untuk bertani.

Marianus Sae mengawali karier politiknya dengan menjadi pengurus DPC Partai Demokrasi Indonesia Kabupaten Ngada tahu 1994-1997. Kemudian sejak 2008, ia tercatat menjadi ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Ngada.

BACA JUGA :  Ini Tanggapan Hamdan Zoelva atas Tertangkapnya Hakim MK Patrialis Akbar

Selain itu, ia pernah menjadi Ketua Umum Ikatan Keluarga Besar Ngada di Bali tahun 2006-2008. Di saat yang bersamaan, ia juga menjadi Ketua Forum Pariwisata Ngada di Bali.

Tahun 2010, Marianus berpasangan dengan Paulus Soliwoa maju dalam pemilihan Bupati Ngada, tanpa rintangan yang berarti. Dengan perolehan suara mencapai 48 persen, Marianus-Pulus remi menjadi Bupati Ngada 2010-2015.

Setelah dianggap berhasil, dengan pasangan yang sama, ia kembali maju di pemilihan Bupati Ngada. Dalam pertarungannya yang kedua ini, pasangan ini kembali memenangkan pertarungan dengan mengumpulkan suara sebesar 68,05 persen.

Nama Marianus Sae pernah menjadi perbincangan publik pada akhir 2013. Ketika itu Marianus Sae memblokir Bandara Turelelo Soa, gara-gara dia kesal tidak mendapatkan tiket. Ia memerintahkan Satpol PP untuk menduduki landasan Bandara Turelelo Soa sehingga pesawat Merpati tidak bisa mendarat dan terpaksa kembali ke Bandara El Tari Kupang.

Tindakan Marianus bertentangan dengan Pasal 210 UU 1 Tahun 2009 tentang penerbangan yang menyebutkan setiap orang dilarang berada di daerah tertentu di bandar udara, membuat halangan (obstacle), dan\/atau melakukan kegiatan lain di kawasan keselamatan operasi penerbangan yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan, kecuali memperoleh izin dari otoritas bandar udara.

Bahkan Polda NTT seudah tetapkan Marianus Sae sebagai tersangka. “Betul, yang bersangkutan sudah ditetapkan sebagai tersangka”, kata Kapolda NTT Brigjen Pol I Ketut Untung Yoga Ana saat dikonfirmasi detikcom, Senin (30/12/2013).

Uniknya, Ketika Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri memutuskan PDIP memberikan rekomendasi kepada Marianus Sae – Emi Nomleni memantik kekecewaan yang luar biasa dari masyarakat NTT. Kecewaan ini karena keputusan DPP PDIP tidak mengakomodir kader tulen partai sebagai Calon Gubernur.

BACA JUGA :  Basuki Tantang KPK Buktikan Hasil OTT atas Dirinya dan Patrialis Akbar

Remigius A.Y Bria Seran salah satu simpatisan PDIP di kabupaten Malaka mengatakan putusan PDIP hanya menimbulkan kekecewaan kepada masyarakat NTT karena mengabaikan sejumlah kader potensial di internal PDIP.

“Saya rasa ini sebuah penghinaan kepada kami sebagai pencinta partai moncong putih. Partai yang kami kenal sebagai partai yang memperjuangkan rakyat kecil tapi hari ini telah mengabaikan kader- kader partai yang susah payah dan berdarah darah membesarkan PDIP,” kata Bria Seran kepada wartawan, Minggu, (17/12/2017) lalu. (Catatan Redaksi)

Topik Berita

Baca Juga

Kirim Komentar Anda?

Mulai Komentar Sekarang!