Yusril Ihza Mahendra Tanggapi Tulisan Habiburokhman

Abadikini.com, JAKARTA- Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menanggapi tulisan Habiburokhman yang menulis tentang Sikap Politik Yusril dan Nasib Partai Bulan Bintang.

Dalam tulisan tersebut, Habiburokhman mempertanyakan soal format koalisi yang ada di Malaysia dan Indonesia, menurutnya itu hal yang sangat ekstrim.

Lantas Yusril menanggapi tulisan Habiburokhman dengan beberapa point juga yang dibahas.

Berikut 2 Tulisan Yusril Ihza Mahendra dan Habibukrokhman.

Berikut Tulisan Yusril Ihza Mahendra: 

Saya tentu faham sistem pemerintahan Malaysia dan sistem pemerintahan Indonesia. Tidak pernah saya menyamakannya, tetapi dalam hal membentuk “koalisi” (yang sebenarnya tidak ada dalam sistem presidensial) perbandingan dengan Malaysia itu akan banyak membantu dalam menyusun “koalisi” dalam Pemilu serentak di Indonesia.

Sebagai calon — atau bahkan sekarang mungkin sudah — Ketua Koalisi, saya menyarankan kepada Pak Prabowo dan Pak Sandi agar mengundang ketua2 partai dan mendiskusikan format koalisi seperti apa yang akan disepakati bersama antar partai.

Kalau partai2 hanya diajak koalisi mendukung paslon Prabowo Sandi tanpa format yang jelas, sementara pada detik yang sama rakyat memilih Presiden dan Wapres serta memilih caleg pada semua tingkatan, maka pembagian “peta dapil” menjadi sangat penting sebagaimana dapat dicontoh sebagai perbandingan dari Pemilu di Malaysia.

Di suatu dapil di Malaysia tidak akan terjadi tabrakan antara sesama partai koalisi, katakanlah UMNO atau Pakatan Harapan, karena kesepakatan telah dibangun lebih dahulu. Dalan “koalisi” di sini, di satu pihak anggota koalisi disuruh all out kampanyekan Prabowo Sandi, tetapi dalam pileg di suatu dapil sesama anggota koalisi saling bertempur untuk memperoleh kemenangan bagi partainya.

Nanti yang akan terjadi adalah Prabowo Sandi menang pilpres, tetapi dalam Pileg yang sangat diuntungkan adalah Gerindra, yang kemungkinan akan menjadi partai nomor 1 atau nomor 2.

Partai2 anggota koalisi yang lain bisa babak belur. Ini saya saya katakan dalam Pileg di Dapil, PBB bisa “digergaji” sama Gerindra. Saya berharap Ketua Koalisi Prabowo undang semua Ketua Partai Koalisi bahas masalah ini, agar semua peserta koalisi merasa nyaman bersama2 berjuang dalam koalisi. Namun kalau Ketua Koalisi tidak pernah mau membahas masalah ini, saya menganggap Ketua Koalisi hanya mau enaknya sendiri, tanpa perduli dengan nasib peserta koalisi lainnya.

Saran ini sudah saya sampaikan ke Pak Prabowo melalui Pak Sandi, tapi sampai hari ini tidak pernah ditanggapi. Saya utusa Kaban dan Ferry Noor bertemu Habib Rizik bahas masalah ini. Hasilnya, ssjunlah tokoh dan ulama merumuskan “draf aliansi” di rumah KH A Rasyid Abdullah Syafii. Draf itu dilaporkan ke HRS oleh Munarman dan dikirimkan tanggal 13 Oktober 2018 ke Pak Prabowo untuk direspons. Hingga kini tidak ada respons apapun dari beliau.

Saya sengaja menulis ini menaggapi apa yang ditulis oleh Sdr Habiburrokhman, supaya masyarakat tahu latar belakang mengapa saya pribadi berpendapat koalisi yang ingin dibangun dibawah pimpinan Partai Gerindra itu tidak jelas format dan arahnya. Demikian. 

Tulisan Habiburokhman Soal Sikap Politik Yusril dan Nasib Partai Bulan Bintang: 

Sikap Bang Yusril Ihza Mahendra yang seolah menyalahkan Paslon Prabowo-Sandi terkait sikap PBB yang belum resmi memberikan dukungan menurut saya tidak tepat. Saya baca di media jika Bang Yusril mempertanyakan strategi yang disiapkan agar partai-partai pendukung pasangan tersebut juga berjaya di Pileg. Lebih jauh Bang Yusril memberi contoh format koalisi partai di Malaysia sebagai format koalisi yang mungkin dianggap ideal.

Aneh kalau membandingkan format koalisi Pilpres Indonesia dengan format koalisi Pemilu Malaysia karena ada perbedaan sistem yang ekstrem. Di Indonesia Pemilu Presiden dan Pemilu legislatif secara administratif dilaksanakan secara terpisah walau pada tanggal yang sama sementara di Malaysia Pilihan Umum Raya secara prinsip hanya memilih parlemen, sedangkan Perdana Menteri dipilih dari Partai pemenang Pemilu Parlemen. Jadi tidak mungkin format koalisi di Pemilu Malaysia diterapkan di Indonesia.

Yang lebih parah, sistem Pemilu Legislatif dalam UU Pemilu kita sangat liberal yakni siapa caleg yang memperoileh suara terbanyak dalam satu partai dialah yang akan terpilih lebih dahulu. Jadi persaingan di pemilu Legislatif kita bukan hanya terjadi antar partai, persaingan bahkan sering lebih sengit terjadi di internal partai antar caleg dalam satu daerah pemilihan. Dengan kondisi seperti ini bagaimana mungkin Pak Prabowo dan Pak Sandi dimintai tanggung-jawab untuk menjamin berjayanya seluruh partai-partai pendukungnya di Pileg sementara disisi lain kerja pemenangan Pilpres saja sudah sangat berat.

Saya justru melihat bahwa berjanya partai-partai pendukung Prabowo – Sandi di Pileg akan sangat tergantung bagaimana masing-masing caleg pada partai tersebut mencitrakan pada masyarakat jika mereka adalah caleg pendukung Prabowo-Sandi. Pengalaman saya di Dapil, semakian saya menunjukkan sebagai pendukung Praboiwo-Sandi semakin mudah masyarakat menerima saya sebagai Caleg.

Harapan saya daripada Bang Yusril berusaha membawa gerbong PBB untuk mendukung Jokowi – Ma’ruf Amin, akan sangat baik jika Bang Yusril mendorong PBB untuk segera secara resmi mendukung Prabowo-Sandi, saya yakin dengan demikian elektabilitas PBB akan meroket dan Insya Allah lolos Parlemen Treshold 4 %.

  • 90
    Shares
Topik Berita

Baca Juga