Kacau, Indonesia Peringkat 5 di Dunia Penyebar Hoaks??

Abadikini.com, PURBALINGGA – Indonesia menempati urutan ke lima di dunia terkait kejahatan internet setelah Amerika, Tiongkok, India dan Brazil. Tak hanya itu, Indonesia juga menempati urutan nomor lima penggunaan media sosial (medsos) dan sebagai pengguna terbanyak smart phone atau telepon seluler (ponsel) yakni sebesar 60 juta orang.

Sayangnya, tingginya angka penggunaan internet, medsos dan smart phone itu tak berbanding lurus dengan minat baca masyarakat Indonesia. Tingkat literasi Indonesia masih tergolong rendah dibanding negara-negara lain di dunia.

Hal ini disampaikan oleh Kabid Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) pada Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Purbalingga Istriyati saat melakukan sosialisasi Kelompok Informasi Masyarakat di Pendopo Perwira Kecamatan Kalimanah, Selasa (6/11/2018).

“Rendahnya literasi masyarakat, mendorong Dinkominfo untuk menggerakan seluruh elemen masyarakat agar tidak terjerumus penyebaran hoaks di media sosial. Karena hoaks salah satu kejahatan internet yang sekarang marak di media sosial,” katanya, di depan audience sosialisasi yang terdiri dari perangkat desa atau kelurahan serta pegiat informasi.

Dinkominfo khususnya bidang IKP, kata Istriyati, mempunyai peran di dalam mengelola informasi baik media cetak, media online, media elektronik dan media sosial. Perannya memberikan literasi terutama pencegahan penyebaran hoaks, ujaran kebencian dan bernuansa SARA. Itu termasuk bagaimana pengguna medsos menyebarkan berita-berita baik kepada masyarakat.

“Kita juga mendorong perkembangan informasi dan teknologi untuk kemaslahatan umat, yakni kemajuan IT untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Masyarakat bisa menggunakan kecanggihan IT untuk membuka peluang usaha secara daring,” ujarnya.

Camat Kalimanah, Harsono mengemukakan, warga dan aparatur sebaiknya membekali diri dengan pengetahuan dalam mencermati informasi. Dengan begitu, warga tak mudah terprovokasi kabar burung.

Dia juga meminta agar warga serta aparatur sipil negara menata dan memfilter informasi dari sumber yang terpercaya. Dengan begitu, pengguna medsos tak menyebarkan hoax dan ujaran kebencian serta selektif dalam menyebarkan informasi.

Menurut dia, sisi baiknya, kemajuan dunia teknologi informasi bisa meningkatkan kinerja sebagai aparatur. Smart phone dengan berbagai aplikasi bisa menunjang sebagai aparat baik di desa dan di kecamatan.

Akan tetapi, jika tak diwaspadai IT itu juga berdampak negatif. Terutama bagi anak-anak.

“Dari penelitian yang ada, ada kecenderungan anak menurun belajarnya setelah mengenal smart phone,” ujar Harsono. (dor.ak/gtr)

  • 9
    Shares
Topik Berita