Visiting Professor TSU Rusia, Ngabalin Soroti Pentingnya Moderasi Beragama di Indonesia
Abadikini.com, JAKARTA – Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional, Prof Ali Mochtar Ngabalin, menegaskan moderasi beragama sebagai kebutuhan mendesak untuk menjaga harmoni Indonesia. Ia menyebut moderasi sering disalahartikan sebagai kelemahan, padahal inti utamanya adalah keberanian moral.
“Moderasi itu bukan melemahkan iman. Itu keberanian moral menggunakan akal sehat, empati, dan sikap proporsional dalam masyarakat majemuk,” kata Ngabalin, dalam keterangannya Sabtu (29/11/2025).
Ngabalin yang baru menerima gelar kehormatan dan status Visiting Professor of International Relations dari National Research Tomsk State University (TSU), Rusia. Ia menyebut pengakuan itu memperkuat komitmennya mendorong pendekatan moderat dalam isu keagamaan dan geopolitik.
“Ini bukti bahwa dunia menghargai moderasi sebagai jembatan peradaban,” ujar Ngabalin yang juga Guru Besar Hubungan Internasional, Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan.
Ngabalin menyoroti narasi keras yang makin mudah viral di media sosial. Menurutnya, keberagamaan ekstrem tumbuh karena ruang dialog makin sempit.
“Membela agama tidak boleh bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri. Agama mengajarkan kasih sayang, bukan kebencian,” tegasnya.
Ia juga menyinggung empat indikator moderasi: komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penghormatan pada kearifan lokal. Ngabalin lalu mengutip kebijakan pemerintah yang memperkuat hal tersebut.
“Negara sudah tegas lewat Perpres 58 Tahun 2023. Di Pasal 3 disebutkan bahwa penguatan moderasi beragama bertujuan memperkuat cara pandang, sikap, dan praktik beragama yang moderat agar terwujud persaudaraan, kebersamaan, dan harmoni. Ini mandat negara,” ujar Ngabalin.
Ia menambahkan, Perpres itu juga memerintahkan moderasi yang selaras dengan budaya.
“Di sana jelas bahwa moderasi harus selaras dengan budaya, memperkuat toleransi, dan mencegah kekerasan atas nama agama,” ucapnya.
Ngabalin menilai moderasi adalah pagar penting bagi demokrasi Indonesia. “Banyak negara runtuh karena sikap keagamaan yang terlalu keras. Indonesia tidak boleh ikut-ikutan,” kata dia.
Menurutnya, keberanian sejati saat ini adalah tetap moderat. “Tetap teguh dalam iman, lapang dalam pikiran, dan lembut dalam kemanusiaan. Itu sangat Indonesia,” pungkasnya.


