Trending Topik

KH Muqoddas: Yang bisa Amar Ma’ruf Nahi Munkar itu hanya Pejabat bukan FPI

Abadikini.com, JAKARTA – Ketua Majelis Syuro Partai Bulan Bintang KH. Muqoddas Murtadla mengatakan yang bisa menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar itu pejabat (Negara), bukan Front Pembela Islam (Ormas). Demikian itu, ia singgung tindakan FPI dan Ormas lainnya dalam menertibkan kegiatan masyarakat yang bertentangan dengan norma agama dan hukum selama ini.

“Yang bisa Amar Ma’ruf Nahi Munkar itu hanya pejabat bukan FPI,” kata KH. Muqoddas dalam acara sarasehan keluarga besar Partai Bulan Bintang Solo bersama calon wali kota Solo Gibran Rakabuming Raka di Gedung Joeang 45 Kota Surakarta, Senin (23/11/2020).

Menurut KH. Muqoddas, di dunia ini akan indah sekali jika ada tiga unsur dalam sosok pemimpin, yakni satu adalah ilmunya Ulama yang selalu menjadi rujukan dalam bertindak agar tetap dalam koridor kebaikan demi kemaslahatan masyarakat.

Kemudian yang kedua yaitu adli umaro (Amir yang adil), lanjutnya, manusia kadang-kadang salah dalam mengartikan Amar Ma’ruf. Amar itu artinya perintah, jika ada Amar pasti ada Amir. Dan jika ada Amir harus ada Makmur.

“Amir itu isim fail, makmur itu isim maf’ul. Jadi yang bisa mendakwah (melaksanakan) Amar Ma’ruf Nahi Munkar itu ialah para penguasa Negara ini,” ujarnya.

Maka dari itu, KH. Moqoddas menegaskan agar jangan salah dalam memilih Amir (pemimpin) di Kota Solo. Amirnya harus orang yang akan melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar, yaitu yang akan menghilangkan kemaksiatan-kemaksiatan yang terjadi di tengah masyarakat.

“Dan Saya telah mendapatkannya, yaitu ananda Gibran Insya Allah,” tegasnya.

Dulu, ungkapnya, di Solo ada tempat yang sangat indah sekali namanya Silir yang diduga tempat prostitusi, namun sudah tutup. Dan yang menutupnya, sambung KH. Muqoddas adalah Pak Jokowi saat memimpin Kota Solo kala itu. Menurutnya, bukan Kiyai yang bisa menutup tempat pelacuran.

“Yang bisa Amar Ma’rif Nahi Munkar itu hanya pejabat. Kalau bukan pejabat akan Amar Ma’ruf Nahi Munkar mentungi rakyat ya kacau dunia ini, kacau luar biasa. Jadi yang bisa Amar Ma’ruf Nahi Munkar itu hanya penguasa,” tegasnya.

Selain itu, di Surabaya banyak pimpinan NU yang sangat luar biasa, Kiyainya pintar-pintar, dan Kiyai-kiyai besar ada di kota pahlawan tersebut.

Lalu siapa yang bisa menutup Dolly? Apakah Pak Kiyai-pak kiyai itu? Kan Risma sebagai Wali Kota yang bisa menutup Dolly, bukan Pak Kiyai, bukan pimpinan NU, bukan pimpinan Muhammadiyah yang doktor-doktor, yang profesor-profesor itu, bukan. Risma seorang wanita Wali Kota yang mampu mengatasinya.

Kemudian, di Jakarta ada namanya Kramat Tunggak. Dahulu ada Pak Natsir, ada Buya Hamka dan banyak lagi yang lain. Siapa yang bisa tutup Kramat Tunggak itu? Bukan beliau-beliau, tapi Pak Gubernur Sutiyoso, kenapa? Karena dia pejabat yang bisa menutup Kramat Tunggak yang kemudian disulap menjadi Jakarta Islamic Center.

“Saya sebenarnya sejak kecil itu sudah menghayalkan kapan ya saya menjadi pejabat? Sudah mati-matian saya ingin menjadi pejabat, tapi paling tinggi saya cuma hanya menjadi Ketua Majelis Syuro DPP PBB yang juga tidak bisa menutup Kramat Tunggal itu,” ungkapnya.

Untuk itu, Kiyai Muqoddas mendoakan Gibran, insya Allah akan ditakdirkan menjadi Wali Kota Solo.

Baca Juga

Berita Terkait
Close
Back to top button