Fenomena Lockdown dan Kegetiran Para Perantau di India

Abadikini.com, JAKARTA – Penguncian wilayah (lockdown) yang diterapkan pemerintah India sejak 23 Maret lalu untuk menghentikan penyebaran virus corona (Covid-19) berdampak luas terhadap para penduduk, terutama kalangan pekerja harian dan kelompok masyarakat miskin.

Sejak lockdown dimulai, ratusan ribu warga yang terpaksa menganggur karena tempat mereka mencari nafkah juga harus tutup memutuskan untuk kembali ke desa asal mereka. Beberapa masyarakat bahkan memutuskan untuk berjalan ratusan mil dengan sedikit uang dan makanan.

Pemerintah India kini tengah berjuang memikirkan cara untuk membantu jutaan warga India yang kehilangan pekerjaan dan memutuskan untuk pulang kampung karena keputusan tersebut.

Fenomena itu telah menimbulkan kekhawatiran beberapa pihak lantaran mereka yang kembali berpotensi menyebarkan virus ke daerah-daerah pedesaan. Sementara itu, pemerintah lebih memilih untuk menampung warga menggunakan bus ke kamp-kamp bantuan dan tempat-tempat penampungan tunawisma.

Dilansir dari Times of India via CNN, sekitar 90 ribu orang diangkut dengan bus milik pemerintah pada Minggu (29/3) pekan lalu dari Ghaziabad di luar Ibu Kota New Delhi.

Salah seorang warga India, Ranjit Kumar, mengatakan bahwa para perantau dan keluarga yang berasal dari Negara Bagian Uttar Pradesh, berbondong-bondong menyerbu terminal, dan berebut hingga saling mendorong untuk bisa terangkut bus yang dikelola pemerintah pada akhir pekan lalu.

“Saya tidak mampu membayar kontrakan yang kami punya. Sehingga tidak ada pilihan, kami harus pergi,” kata Ranjit yang pergi bersama istri dan putranya yang berusia dua tahun, sebagaimana dilansir AFP Selasa (30/3).

Ranjit terpaksa berjalan selama dua hari untuk pergi dari Haryana ke terminal bus tersebut.

Pada Minggu (29/3) malam, pemerintah memerintahkan semua perbatasan distrik dan negara bagian di India untuk ditutup dalam upaya menghentikan eksodus, dan mengarahkan pemerintah setempat untuk mengatur tempat penampungan sementara.

Pemerintah kota New Delhi mengatakan memberi makan 400 ribu perantau, dan menempatkan mereka di lebih dari 550 sekolah.

Pemerintah Negara Bagian Maharashtra juga telah mendirikan 262 kamp bantuan dan menyediakan tempat berlindung bagi 70.399 orang. Selain itu, mereka juga telah menjadikan pacuan kuda di luar Delhi serta sirkuit yang menjadi tuan rumah balapan Formula Satu pada 2011 sebagai tempat penampungan sekitar 5 ribu perantau.

Pejabat Negara Bagian Uttar, Pradesh Alok Kumar, menyebut pemerintah India telah menyiapkan bantuan dan mendirikan 600 penampungan yang menjadi pusat karantina. Namun, dia tidak dapat menentukan berapa banyak orang yang masih dalam perjalanan.

Mantan Sekretaris Kesehatan Nasional India, Sujatha Rao, mengatakan tidak diketahui secara pasti apakah virus telah menyebar dari kelas menengah ke para migran pedesaan. Namun, apabila memang demikian, perpindahan penduduk yang begitu besar tentu berpotensi menimbulkan kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

“Jika salah satu dari mereka memang terkena infeksi, maka itu dapat menyebar dengan sangat cepat karena penduduk menengah bawah di Metro, perkotaan sangat padat. Menjaga jarak bukanlah pilihan bagi mereka,” kata Rao.

Di sisi lain, beberapa ratus buruh bentrok dengan polisi di Surat, di negara bagian Gujarat, tempat tinggal Perdana Menteri Narendra Modi, setelah mereka dicegah untuk pulang kampung.

Topik Berita

Baca Juga

Back to top button
Close