Trending Topik

Denny Siregar: Kabur adalah Sebagian dari Iman

Oleh: Denny Siregar

“Ustadz Abdul Somad pamit pergi ke Sudan lanjutkan kuliah”

Begitulah bunyi headline sebuah media online mengabarkan kepergian Somad. Menarik, karena itu berbarengan dengan pelaporan Abdul Somad atas tuduhan penistaan agama terhadap penganut agama Kristen dan Katolik berkaitan dengan simbol mereka.

Meskipun Somad dalam video klarifikasinya mengatakan bahwa ia akan bertanggung jawab terhadap video yang keluar ke publik, tetapi masyarakat sudah menudingnya bahwa ia kabur ke luar negeri.

Apa yang dilakukan Somad mirip dengan apa yang dilakukan Rizieq Shihab dan Bachtiar Nasir yang sudah kabur duluan dan gak pulang-pulang. Mereka pun tersandung masalah hukum dan mencoba menghindarinya dengan keluar negeri.

Ini seperti fenomena baru saat ada masalah, kabur adalah solusinya. Tapi sebenarnya ini bukan barang baru, hanya saja profesi pelakunya berbeda.

Dulu juga banyak yang kabur karena tertimpa masalah. Hanya mereka bukan pemuka agama, tetapi koruptor yang sudah meraup triliunan rupiah.

Contoh yang paling fenomenal adalah kaburnya Edi Tansil.

Edi ini adalah pengusaha masa orde baru yang kabur setelah mendapat pinjaman dari bank Bapindo sebesar 1,3 triliun rupiah. Edi, sebelumnya sempat dipenjara, dan tiba-tiba menghilang dan tidak pulang-pulang ke Indonesia.

Namanya sempat abadi dengan kepanjangan “Ejakulasi dini tanpa hasil” kabarnya tinggal di China, tapi pemerintah Indonesia sampai sekarang belum berhasil menangkapnya.

Selain Edi Tansil masih banyak lagi koruptor yang berhasil kabur keluar negeri. Beberapa di antaranya sudah berhasil ditangkap, termasuk Nazarudin yang pernah kabur ke Singapura sampai Kolombia dan Tommy Soeharto yang sempat melanglang buana sebelum akhirnya terborgol juga.

Tapi proses kabur karena masalah ternyata sekarang sudah menjadi “ide cerdik” baru di kalangan mereka yang sempat dikenal sebagai “pemuka agama”. Mungkin mereka belajar bahwa kabur adalah bagian dari proses supaya masyarakat kelak lupa pada kasusnya.

Atau juga mereka sudah menemukan sebuah fatwa baru yang mereka coba kombinasikan dengan masalah hukum mereka. Biasanya mereka memakai kata “hijrah” supaya kabur bisa lebih religius dan diterima.

Mungkin juga ada saatnya mereka akan menemukan sebuah kebenaran dalam proses kabur itu, sehingga kabur menjadi sebagian daripada iman.

Yah begitulah. Imannya saja kabur, jadi kabur adalah bagian dari penerapan iman.

Saya juga pengen kabur sesudah memesan 3 kopi hitam dan 5 tahu isi, tapi baru sadar ternyata uang di dompet tinggal yang warna biru lecek. Semoga ibu warkop tidak terlalu ketat mengawasi..

Seruput… Kaburrr…

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

Editor
Tonny F
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button