Review Film: ‘Perburuan’

Abadikini.com, JAKARTA –  Hampir 70 tahun sejak sastrawan Pramoedya Ananta Toer menerbitkan novel pertamanya, Perburuan, kisah itu kini diadaptasi ke dalam sebuah film.

Di bawah arahan Richard Oh, film tersebut menampilkan aksi Adipati Dolken sebagai tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Blora yang melawan Nippon atau Jepang, Hardo.

Yang berbeda, Richard menambah kisah ini dengan memberi gambaran enam bulan lebih awal dari cerita aslinya, saat-saat karakter Hardo melakukan perlawanan terhadap Nippon.

Gambaran itu berupa pergerakan sekilas Supriyadi sebagai pemimpin pemberontakan PETA di Blitar pada 1945 Februari 1945.

Latar pergerakan Supriyadi itulah yang dipasang Richard sebagai benang merah atas perlawanan Hardo kepada Nippon. Gerakan Supriyadi menginspirasi Hardo untuk melakukan perlawanan.

Baru setelah peristiwa Supriyadi terjadi, secara teatrikal film ini berjalan hingga ke inti cerita yang terjadi enam bulan setelah perlawanan. Kala itu, Hardo kembali ke kampung halamannya di Blora usai pelarian, sesuai dengan kisah Perburuan yang asli.

Kehadiran Hardo di kampung halamannya tercium oleh Nippon dan dia kembali diburu. Dalam sebuah perburuan selama sehari dan semalam menjelang proklamasi kemerdekaan, sebuah drama perjuangan terungkap.

Hardo bukan hanya menghadapi beban untuk tetap bertahan hidup, melainkan harus menerima fakta pengkhianatan demi pengkhianatan yang dilakukan oleh orang yang dekat dengannya.

Secara garis besar, kisah ini memang sesederhana judulnya yakni tentang perburuan terhadap Hardo dan dampak yang muncul bagi orang di sekitarnya.

Di balik itu, kisah ini memiliki nilai untuk menunjukkan sisi lain dari peristiwa jelang kemerdekaan yang tidak hanya berporos di lingkungan elite seperti Soekarno dan Mohammad Hatta.

Nilai sejarah yang dihadirkan begitu kuat, tapi Richard membuatnya sederhana lewat pergulatan karakter Hardo. Drama dan konflik Hardo dieksploitasi oleh Richard lalu disandingkan dengan kesendirian yang dihadapi karakter tersebut.

Akting Adipati sebagai karakter utama cukup meyakinkan. Raut, gestur, serta matanya ikut berbicara, menyuarakan batinnya yang bergejolak.

Dialog mendalam seperti percakapan Hardo dengan ayahnya atau ketika Hardo bertemu calon mertua yang mengkhianatinya sebenarnya jadi nilai tambahan film ini.

Meski diadaptasi tidak secara penuh seperti bukunya, tapi adegan itu cukup berhasil digambarkan dengan suasana yang sama.

Akan tetapi hal yang mengganggu kenikmatan cerita Perburuan datang dari kostum dan dandanan gembel Hardo yang mentah juga tak terlihat dikonsep dengan matang.

Padahal, tanpa embel-embel dandanan gembel, Adipati Dolken tetap bisa tampil maksimal menjadi sosok Hardo yang kere seperti yang digambarkan oleh Pramoedya.

Catatan merah dari film ini adalah masalah ritme cerita. Drama pergulatan yang dibangun sejak awal tak sukses dipertahankan secara kuat oleh Richard Oh cs.

Untuk sinematografi, Richard patut diapresiasi dalam menyuguhkan gambar-gambar indah dan keaslian lokasi serta suasana yang digambarkan Pram dalam bukunya.

Secara keseluruhan, Perburuan menambah suguhan film sejarah berkaitan dengan peristiwa kemerdekaan Indonesia, dengan sisi yang berbeda.

Editor
Sulasmi
Sumber Berita
CNN
Topik Berita

Baca Juga

Back to top button